
Waktu bergulir begitu cepat. Banyak sekali drama yang dialami oleh Yudha dan cukup menyusahkan banyak orang. Sehingga Alif jijik sekali melihat abangnya seperti itu.
“Harus ada mangga muda di mejaku setiap pagi ya,” titah Yudha kepada salah satu stafnya di pagi hari. Begitu juga dengan siang. Hans mau pun Alif harus siap sedia jika atasan semprulnya meminta sesuatu yang terkadang sulit di dapatkan di daerah ini.
Bukan hanya sate dua ratus tusuk, Yudha juga terkadang minta jajanan pasar yang bermacam-macam jenisnya. Ada lagi kopi negeri Jiran, mie kocok Bandung, bahkan jamu-jamuan sekalipun.
Sebenarnya, bayi apa yang sedang dikandung oleh kakak iparnya itu sehingga menyusahkan banyak orang?! Alif sering bertanya-tanya.
Keluar dari ruangan, bibir Hans terdengar siuk-siukan karena baru saja meletakkan mangga muda ke meja kerja Yudha.
Melihatnya demikian membuat Alif tak sabar ingin bertanya, “Kenapa kamu?”
“Ngilu melihat mangga kecut begitu dimakan.” Hans menjawab sambil bergidik, “hiihhh.” Air liurnya terasa mengucur deras.
“Tahan-tahan ya. Kalau aku jadi Abah sudah kupecat dia.”
“Siapa yang dipecat?” tanya Yudha tiba-tiba keluar membawa beberapa lembar map yang sudah di solatip.
“Heran aku yang jelek-jelek saja kau mau dengar. Yang baik-baik malah budek,” kata Alif tanpa mengalihkan fokusnya dari koran yang baru saja diterimanya pagi ini.
Yudha tidak ingin bertanya lebih lanjut karena sudah pasti mereka sedang menggunjingnya.
“Tolong kirimkan berkas ini lewat jasa pengiriman paling cepat ya, Pak,” titah Yudha kepada lelaki yang berumur lebih tua darinya tersebut. “Alamat pengirim sudah saya tulis. Tinggal kirim saja.”
“Baik, Pak Yudha. Ada lagi yang lain?” tanya Hans menerimanya.
“Tidak ada, hanya ini. Berikan saya nomor resinya nanti.”
“Baik, Pak.”
“Ya? Ada apa, Umi?”
Fokus Yudha teralihkan pada saat melihat adiknya sedang menerima telepon dari Uminya.
“Abang di sini. Tidak tahu HP-nya di taruh mana. Iya, percuma saja punya HP dia mah. Mending buang saja ke selokan. Hah? Vita di rumah sakit?”
Mata Yudha melebar mendengar nama istrinya dan rumah sakit. Tanpa bertanya apa pun, dia langsung melarikan diri tanpa membawa apa-apa selain kunci mobil.
Kekhawatirannya memuncak. Dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya, dia menginjak pedal dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit yang biasa istrinya datangi.
“Ya Allah, ada apa lagi ini?” bisiknya berulang-ulang sambil mengucapkan kata istighfar.
Pikirannya bercabang. Apa yang baru saja Vita lakukan? Apa yang baru saja Vita makan sehingga menyebabkan istrinya di bawa ke rumah sakit? Apakah mereka selamat? Atau bayi mereka ...? Ah, sedemikian keruh otak itu berpikir.
__ADS_1
Sesampainya di IGD, Yudha langsung berlarian ke dalam sana untuk mencari sang istri tanpa memedulikan mobilnya. Dia menuju ke pusat informasi, namun sayang, Yudha tidak ditemukan ada data atau nama istrinya di sana.
“Istri saya baru masuk beberapa menit yang lalu di sini. Masa tidak ada?!” geramnya bukan main.
“Selama satu jam ini tidak ada pasien darurat yang masuk,” jawab perempuan di depannya juga setengah kesal karena berkali-kali Yudha mendesaknya. “Semua orang di sini sudah saya tanyakan.”
“Coba cari lagi, Vita Anggraeni.” Yudha tidak peduli apa pun jawabannya. Pikirannya buntu. Berbekal dari keyakinannya sendiri, setiap pasien darurat pasti akan masuk ke dalam sini terlebih dahulu sebelum ditindaklanjuti ke arah lain.
“Tidak ada nama itu di sini, Pak. Untuk apa juga saya menyembunyikan nama pasien. Mohon di teliti lagi, Pak. Apa informasi yang Bapak terima itu benar, bahwa istri Anda masuk ke dalam IGD rumah sakit ini?” tanyanya kemudian.
Yudha mendesahkan napasnya kecewa. “Saya tidak membawa ponsel.”
“Bapak hafal nomor istrinya? Atau anggota keluarga yang lain barang kali?”
“Iya, saya hafal.”
“Sekarang Bapak telepon pakai ini. Jangan panik, panik bisa mengacaukan pikiran.”
‘Ya Tuhan ... kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana?’
“Terima kasih, Bu.” Yudha menerima telepon dari uluran tangan perempuan itu, kemudian mencoba menghubungi istrinya.
“Halo ....”
“HP-nya kutinggal di kantor, tadi aku panik mendengarmu masuk ke rumah sakit. Telepon ini aku pinjam sama petugas di IGD.”
“Ya ampun ... pantas saja. Lain kali kalau ada apa-apa dipastikan dulu kebenarannya. Jangan apa-apa asal sikat,” omel suara Vita seperti menahan kesal. “Aku menghubungimu berulang kali, tahu tidak?”
“Iya, iya, maaf. Kamu di mana, Sayang? Bagaimana keadaanmu, keadaan kalian?” tanya Yudha masih dengan nada panik.
“Kami baik-baik saja. Aku lupa memberitahumu kalau hari ini jadwal aku ke rumah sakit. Kita mau lihat jenis kelamin anak-anak kita 'kan?”
“Ya Allah ... aku panik sekali. Ya aku mau lihat. Tolong tunggu aku dulu.”
“Jangan negatif thinking dulu makanya. Pastikan dulu kabarnya secara benar. Dasar Yudhot!” ucapan terakhir Vita membuat Yudha kaget. Sampai hati dia mengatainya!
“Cepat susul aku di tempat biasanya aku periksa.”
Sambungan langsung diputus. Namun Yudha sudah merasa lega lantaran mendengar kondisi istri dan anak kembarnya sedang baik-baik saja. Berjalan cepat, dia menuju ke poli yang Vita maksud.
Setelah berada di depan ruangan yang dituju, dia bertanya kepada petugas medis yang sedang berjaga di depan ruangan itu.
“Atas nama siapa, Pak?” tanya si perawat.
__ADS_1
“Vita Anggraeni.”
“Oh, beliau sudah ada di dalam. Baru saja masuk. Bapak suaminya?”
“Iya benar.”
“Ya, silakan masuk, Pak. Mungkin sedang ditunggu.”
Yudha segera mengikuti langkah wanita itu memasuki ruangan. Dan senyumnya merekah pada saat melihat sang istri sedang terbaring di atas brankar. Dokter sedang memeriksa kandungan istrinya yang sudah terlihat sangat kentara. Inilah yang membuatnya semakin bangga. Perut itu adalah bukti kejantanannya karena dapat mencetak dua gol sekaligus.
“Selamat ... jenis kelaminnya sudah bisa dilihat.” Dokter menggeser-geserkan alat itu untuk mengetahui secara pasti jenis kelamin calon bayi pasiennya.
“Wah, laki-laki dan perempuan,” ucap dokter membuat lelaki itu hampir melompat kalau saja Vita tidak mengancamnya dengan pelototan mata.
“Hebat ada kembar begini. Ibunya tokcer. Sel telurnya pasti bagus.”
“Saya juga dong, Dok,” sahut Yudha tidak mau kalah.
“Oh iya pasti!” Dokter perempuan itu mengangkat satu jempolnya. “Bantu ingatkan istrinya supaya jangan terlalu capek ya, Pak. Harus diperhatikan lebih intens, ada dua loh.”
“Selalu, Dok.”
Klek. Pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk untuk menginfokan sesuatu. “Mobil dengan nomor pelat B 1234 X apakah milik Bapak?” tanyanya kepada Yudha.
“Eh, iya, benar.” Yudha gelagapan mengakui perbuatannya sendiri.
“Saya mendapat laporan dari IGD. Mohon parkirkan mobilnya dulu dengan benar, Pak.”
“Astaga ....” Vita heran mendengar pernyataan itu seraya melihat ekspresi suaminya.
Yudha menggaruk kepala. Malu bukan main karena semua orang yang ada di dalam sana menertawakannya.
Panik memang bisa mengacaukan pikiran. Yudha masih mengingat benar bagaimana dia memarkirkan mobilnya secara asal sehingga menyulitkan banyak orang.
***
TAMAT alias END.
IG @ana_miauw
Ketcup basah dariku. 😘
__ADS_1
Kisah alif sama Dara ada di bab selanjutnya.