
Bab 24.
Pria tua yang kini berusia hampir 60 tahun tersebut mengembalikan fotonya ke dalam laci dan menguncinya rapat-rapat. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah membukanya demi menjaga perasaan istrinya saat ini.
Air mata masih menetes di pelupuk matanya yang segera diusap dengan punggung tangan. Terlebih dahulu beliau merapikan diri sebelum akhirnya turun, masuk ke dalam kamar istrinya yang ternyata sudah mendahuluinya terlelap. Meski lampu masih menyala terang.
Kecantikannya memang sudah termakan oleh waktu—tetapi kecantikan hati akan selalu terpancar dari wanita ini sehingga beliau sangat menyayanginya.
Waktu terasa bergulir begitu cepat hingga tak terasa dua tahun itu telah berlalu. Semua orang di keluarga ini sudah sangat merindu dengan Yudha, Vita serta anak-anaknya yang sampai sekarang masih berada di Bandung.
“Kapan mereka balik, sih?” tanya Dara. Wanita itu sudah semakin dewasa dan sangat keibuan. Sakira sudah berusia 2 tahun, sangat lincah dan pandai bicara, mirip seperti dirinya. “Kangen tahu!”
“Sabar ... mungkin masih ada yang belum di selesaikan. Banyak yang harus di urus, tidak bisa main langsung pergi. Memangnya liburan?” balas Alif mengeluarkan kalimat penenang.
“Papi ....” panggil Sakira minta digendong.
Alif menoleh, melihat gadis kecil yang sedang berdiri mendongak menatap wajahnya setengah memohon. Wajahnya yang polos dan uluran kedua tangannya yang mungil membuatnya merasa gemas sehingga ia mencubit kecil pipinya. “Papi masih kerja. Nanti, ya.”
“Kamu jangan gitu dong, Da. Sakira cuma minta gendong. Bisa kamu sambil,” sahut Dara tidak terima anaknya diabaikan.
“Masalahnya nanti kalau sudah aku pangku di sini,” tunjuk Alif ke dua pahanya, “keyboard sama mouse aku di pencet-pencet. Nanti kerjaanku bisa kacau.”
“Memangnya berhenti sebentar tidak bisa, ha? Sebegitu pentingnya pekerjaan buatmu, duit tidak dibawa mati.”
“Tapi tidak punya uang berasa mau meninggoy.” Akhirnya Alif mengangkat tubuh Sakira ke pangkuannya.
“Papi ... Kila mau noton kaltun,” pinta Sakira menunjuk layar monitor.
“Ini bukan televisi, Sayang. Mau nonton kartun itu di ruang tengah sana, sama Mami.”
“Lif, dia itu lagi kangen sama kamu. Jadi orang kok, amit-amit. Peka sedikit, kek.” Terlanjur kesal, Dara langsung menyebut dia tanpa sebutan. “Dasar buaya buduk,” makinya pelan, hampir tak terdengar.
“Ya, sudah. Memangnya Sakira mau nonton apa?”
“Babi,” jawab Sakira sontak membuat papinya melebarkan mata.
“Babi apa ini, Dara?” tanya Alif langsung meradang, “kamu jangan kasih lihat dia yang aneh-anehlah.”
“Eh, mana aku tahu dia suka babi.”
“No babi, balbi sama plinces,” Sakira menyela pembicaraan mereka berdua, “Mami mau toton Elsa.”
__ADS_1
“Tuh, dengar,” kata Dara menatap suaminya, “dia mau nonton Elsa, tokoh Disney.”
“Terus babinya apa?”
“Aku kira barbie, bukan babi seperti yang kita dengar.”
“Nah, bawalah anakmu nonton itu,” Alif mengangkat lagi Sakira dan menyerahkannya pada istrinya.
Dara yang menerima sontak menggerutu, “Anakmu ... anakmu, orang kita bikinnya berdua. Bikin doang, sregep. Suruh ngurus mah, lempar ke bini. Pancen laki, senenge mung nggawe tok.”
“Apa? Jangan pakai bahasa daerah, aku kurang paham.”
“Ya, kamu jelek,” celetuk Dara.
“Apalagi kamu, bulat.”
“Ngomongin aku, orang kamu juga perutnya buncit. Makanya, jangan duduk terus. Olahraga.”
“Kamu pun, jangan makan terus. Diet,” balas Alif tak mau kalah.
Keduanya saling mengejek. Mereka sama sekali tidak tersinggung walau sering beradu mulut seperti ini karena merupakan hal biasa. Tetapi memang benar apa yang baru saja mereka katakan tadi, setelah menikah, keduanya memang menggendut bersama.
“Aku sudah sah jadi bapak-bapak, ya,” gumam Alif menatap ke bawah—tepatnya di bagian perut. Memang belum membuncit parah seperti bapack-bapack pada umumnya. Tetapi cukup mengganggu dan mengkhawatirkan apabila tidak segera diperhatikan lebih lanjut.
Sedangkan Vita dan Yudha sendiri tengah bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta sore ini juga. Untuk itu, mereka serta ke empat anaknya sedang bekerja sama mengosongi rumah yang mereka sewa selama dua tahun ini.
“Pasti nanti kita akan kangen tempat ini, Mas,” ujar Vita kepada suaminya. Sedang sibuk, sama seperti dirinya. Mengumpulkan barang-barang mereka menjadi satu untuk kemudian dimasukkan ke mobil pick up sendiri karena saking banyaknya.
“Kapan-kapan kita bisa balik lagi,” ujar yudha menanggapi keluhan sang istri.
“Padahal enakkan di sini. Jakarta panas, macet, padat, jahat.”
“Atau kamu lebih senang tinggal di sini?”
“Tapi kasihan Umi sama Abah. Mereka sudah nunggu kepulangan kita. Masa dibatalkan? Aku cuma mengeluarkan unek-unek, ternyata hidup di Bandung itu lebih enak.”
Yudha tersenyum, “Ya, seperti itulah. Orang kota ingin tinggal di sini—sebaliknya, orang Bandung malah senang hidup di kota.”
Keduanya menoleh kepada anak-anak.
“Kaka, Umar, Mauza, Adek, kalau sudah ayo kita siap-siap, Nak!” seru Vita memanggil mereka yang tengah sibuk di depan. Hingga tak berapa lama setelahnya, mereka masuk ke dalam rumah menghampiri kedua orang tuanya.
__ADS_1
Suami istri tersebut bekerja sama untuk memandikan anak-anaknya. Yudha dengan kedua anak laki-lakinya, Vita dengan kedua anak perempuannya. Biasanya mereka bisa mandi sendiri kecuali Zunaira. Tetapi kali ini, supaya lebih cepat saja mengingat hari sudah mulai sore. Sebab kalau tidak demikian, mereka akan berlama-lama di dalam sana sambil bermain air.
Setelah berpakaian, semuanya masuk ke dalam mobil pribadi, lalu meluncur ke Ibukota untuk kembali berkumpul dengan keluarga yang sudah dua tahun ini ditinggalkan.
Sama seperti Alif dan Dara. Pasangan ini juga sama-sama menggendut. Beruntung tubuh mereka tidak terlalu pendek, jadi tidak terlihat bulat dan malah justru terlihat makmur.
“Selepas ini, Mas mau melanjutkan lagi usaha Abah, atau mau mengajar?” tanya Vita pada Yudha saat mereka sudah dalam perjalanan.
“Aku mau ngajar saja, biar lebih banyak dapat pahala. Kalau untuk kantor, terserah Alif saja mau di apakan. Banyak modal lagi yang harus dikeluarkan. Aku belum punya uang sebanyak itu,” jawab Yudha sedang malas berpikir untuk menghasilkan uang dalam waktu dekat. Toh, belum tentu akan berhasil dan jaya lagi seperti dulu.
Biarlah Alif yang memutar otak. Yudha pikir, adiknya itu juga mempunyai pola pikir yang lumayan ok. Dari wajahnya memang sedikit kurang meyakinkan, namun kalau sudah mempunyai ambisi, dia pasti akan capai dan dapatkan bagaimana pun caranya. Nekat, seperti saat dia berusaha mendapatkan Dara.
“Ya, sudah kalau begitu,” kata Vita kemudian, “aku hanya bisa mendukung yang terbaik. Apa pun usahamu, semoga berhasil.”
Yudha lantas mengaminkan ucapan sekaligus doa istrinya barusan.
Selama di Bandung, mereka hanya mengandalkan tabungan dan usaha yang masih berjalan. Beruntung, biaya ekonomi di sana tidak terlalu mahal, jadi bisa menyesuaikan pemasukan.
“Yeay, akhirnya Kaka bisa ketemu Dede Sakira, Oma, Opa, Onti D sama, Om Alif,” ucap Rayyan begitu mobil sudah mulai memasuki kompleks perumahan tempat mereka dilahirkan.
“Aku juga mau main sama Dede Sakira,” sahut Umar dan Mauza. Mereka sangat senang dan tak berhenti melihat ke samping. Menandai di mana saja mereka biasa bermain sepeda sama-sama.
Sementara si bontot, tidur di pangkuan mamanya semenjak awal mereka berangkat.
“Ngantuk parah, ya, Dek....” Yudha menoleh, mengusap rambut ikal si bontot. “Pantas dari mandi sudah rewel, ternyata ngantuk.”
“Adek, bangun, kita sudah sampai rumah Oma...” ucap Mauza berdiri, melongokkan kepalanya ke tengah-tengah mereka berdua.
“Adek masih ngatuk, Kaka Moza... nanti Adek bangun kalau sudah kenyang bobonya, ya,” balas Vita serta-merta mencium anak ketiganya tersebut.
“Kalau yang ini rambutnya lurus, kalau yang ini rambutnya kiwil,” Yudha melihat keduanya secara bergantian sambil fokus menyetir.
Tak berapa lama, akhirnya mobil Yudha serta mobil pick up yang membawa barang-barang tiba di rumah. Hari hampir petang waktu itu, tetapi langit terang sehingga sinarnya jelas membias kemerahan.
Namun pada saat turun, kenapa tidak ada satu pun yang menyambut kepulangan mereka?
“Di mana orang-orang rumah, Pak?” Yudha bertanya kepada seorang security, “kenapa sepi?” pria itu sangat heran.
🌺🌺🌺
Bersambung.
__ADS_1
Sebentar lagi mau pisah, hehe. Kasih aba-aba dulu biar gak kaget.