
Lirikan dengki, Rahma tujukan kepada perempuan dan seorang anak kecil yang terlahir dari wanita paling dia benci. Dia adalah Vita. Perempuan yang telah merebut semua kebahagiaannya dan juga menjadi salah satu faktor utama penyebab anak pertamanya mati.
Dia pun heran, apa istimewanya wanita yang bernama Vita Anggraeni itu. Semua orang mengagung-agungkannya seperti apa yang dilakukan oleh Dara barusan. Membuat kebencian Rahma semakin menggunung. Padahal dia pikir, Vita hanyalah perempuan kampung tak berpendidikan yang mungkin bodohnya juga sama dengan mantan suaminya!
Herannya bukan main manakala dulu mengetahui Yudha lebih mencintai Vita. Terlebih sekarang, saat ia melihat fisik wanita tersebut. Wanita dengan empat anak. Tubuhnya pun sudah tidak menarik dipandang mata. Sangat berbeda dengan kulitnya yang bersih seputih susu, tubuhnya yang masih cantik dan tingginya yang semampai.
‘Cih, sakit mata Si Yudha.’ Muak melihat mereka berdua membuat akhirnya Rahma meninggalkan tempat. Dia pun menunggu suaminya di luar selama masa observasi. Mengusir rasa bosan dengan menghubungi kedua anaknya yang dia tinggal di rumah dengan seorang suster.
Dara dan keponakannya pun demikian, mereka saling terhubung dengan orang tercinta.
“Kok adik ada di sana semua, Om?” tanya Rayyan kepada Omnya di seberang.
“Iya, tadi mereka menyusul sama Oma,” jawab Alif. “Kaka mau ke sini juga?”
Rayyan menggelengkan kepalanya, “Kaka mau nungguin Mama sampai sembuh ....”
Gemas dan kasihan, Dara langsung memeluk dan menciumnya. Pasti Rayyan merasa sangat bersalah karena menduga dirinyalah penyebab mamanya jadi sakit seperti ini. “No, Sayang. Mama pasti sembuh, Mama pasti pulang, ya. Jangan sedih, okay?”
“Masih di IGD?” ucap Alif kepada Dara, bermaksud untuk menanyakan keadaan Vita saat ini.
“Masih, tapi Mas Yudha sudah di dalam. Mungkin ada yang sedang disampaikan dokternya.”
“Ini buat pelajaran, jangan sampai kejadian ini terjadi sama kamu juga. Kamu harus paham sama kondisi kamu sendiri, kapan harus istirahat,” kata Alif yang entah berapa kali mengingatkannya.
“Alright sayangku,” jawab Dara tersenyum manis. Menurutnya, tidak ada yang terlalu dikhawatirkan dalam dirinya. Baby Cil adalah bayi badak—sama seperti ayahnya yang kuat dan tahan banting. Dia tetap baik-baik saja asalkan hatinya selalu bahagia. Tidak berpengaruh sama sekali walaupun andai dirinya berlari, melompat, olahraga siang malam, makan-makanan pedas, makan manis, asam, asin, dan sebagainya. Namun bukan berarti dia melakukan semua itu, ini hanyalah sebuah perumpamaan saja.
Sementara di dalam ruangan, Yudha tengah di buat ketar-ketir karena penjelasan dokter terdengar sangat mengerikan baginya. Dia mengatakan bahwa kehamilan istrinya mengalami placenta previa, yang di mana, plasenta tertanam di area bawah rahim dan menyebabkan jalan lahir bayi terhalang.
“Faktor ini bisa disebabkan karena pernah melahirkan lebih dari satu bayi,” papar dokter perempuan yang diperkirakan lebih tua daripada dirinya. “Kalau menurut dari riwayat medis,” sambungnya lagi. Ya, itu memang betul karena sebelumnya Vita mengandung anak kembar.
“Sekarang keadaan istri dan anak saya bagaimana, Dok?” Yudha bertanya.
“Pendarahannya cukup banyak, jadi kami lakukan transfusi darah untuk mengembalikan yang hilang. Keduanya baik-baik saja dan kami akan mencoba mempertahankan kandungannya sampai janin cukup waktu untuk dilahirkan. Namun untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan sebelum waktunya tiba, kami akan tetap memberikan obat untuk mempercepat pertumbuhan paru-paru janinnya,” jelas dokter menatap lelaki yang tengah meredup di depannya.
“Tolong hindari aktivitas berat ya, Pak. Jangan dibiarkan berjalan terlalu jauh, angkat beban berat, apalagi ... maaf, berhubungan sek sual. Sebisa mungkin, ini tolong dihindari dulu sampai istri Bapak melahirkan, selesai nifas dan kesiapan Si Ibu sendiri tentunya.”
Yudha mengangguk mengerti, “Baik, Dok. Tolong lakukan yang terbaik.”
__ADS_1
“Baik, Pak. Ibu Vita akan dirawat di sini selama tiga hari ke depan. Mudah-mudahan setelah itu, beliau bisa kembali dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga di rumah. Tapi ingat semua pesan saya tadi ya, Pak,” tegas Sang Dokter mengingatkan.
Begitu Yudha keluar, Dara langsung memberondongnya dengan segudang pertanyaan. Tapi sayang, Dara tak bisa mendengar apa pun selain jawaban singkat yang tak bisa menenangkannya.
“Nanti aku jelaskan, yang penting kakakmu baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat,” jawab Yudha, pria itu enggan berbicara macam-macam dulu karena masih syok.
“Yah ... no komen,” kata Dara kecewa. “Ini kalau bapakmu lagi seperti ini pasti ada yang tidak beres,” ucapnya lagi bermaksud mengajak Rayyan bicara meski dia belum terlalu paham dengan kata-katanya. Dan di saat yang bersamaan, dia baru menyadari bahwa Yudha melangkah jauh meninggalkan mereka berdua. “Loh, kok kita ditinggal sih, Ka?”
“Ayo kejar Papa, Onti,” ajak Rayyan.
“Iya, ayo, Ka. Lari!”
“Come on!”
Rupanya Yudha menuju ke ruang rawat. Ternyata Vita telah dipindahkan ke sana melalui pintu lain sehingga ia tak menyadarinya.
***
Di tempat lain, Umi Ros sedang kebingungan mengenai keadaan menantunya sekarang. Beliau sudah berkali-kali menghubungi putranya, namun hanya mendapat balasan singkat.
“Memangnya apa balasannya?” tanya Alif.
“Jangan terlalu jauh mikirnya, Mi,” sela Alif. “Nanti darah tinggi lagi.”
“Kamu sendiri ada jawaban dari Dara? Apa katanya?”
“Yudha bilang Vita baik-baik saja, hanya butuh bedrest selama beberapa hari ke depan. Untuk selebihnya dia juga belum tahu, Yudha belum menjelaskan.”
“Bikin penasaran saja kakakmu. Umi pengin lari menyusul, tapi Umar sama Mauza bagaimana? Udara rumah sakit juga kurang bagus untuk anak-anak seperti mereka.”
“Sebaiknya jangan Mi, kita tunggu kabar selanjutnya dulu,” kata Alif memutuskan demikian karena tidak bisa mengatakan hal lain lagi. Meskipun terkesan cuek, namun dalam hatinya, ia juga begitu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Bahkan Alif telah mengirimkan pesan berulang-ulang kepada Yudha agar pria itu segera menyempatkan diri untuk membalas pesannya.
Namun di tengah kepanikannya, ada yang membuatnya sangat apes, yakni suara cempreng Umar yang memintanya ditemani ke toilet.
“Om, aku mau ke toyet.” Sambil menarik tangan Omnya agar dia mau memfokuskan perhatian dan melihat ke mana arah jarinya menunjuk.
“Mau pipis?” tanya Alif memastikan.
__ADS_1
Tegas Umar menyanggah, “No, Umal mau pup.”
Alif mengernyit heran, “Kan Umar pakai diapers.”
“Umal maunya pup di sana.”
“Dia kurang nyaman pup di diapers, Lif,” sahut Umi Ros. “Dia sudah biasa pup di closet. Umi pakaikan ini karena pergi jauh dari rumah. Untuk jaga-jaga saja.”
Kedua anak itu memang sudah biasa di ajarkan demikian oleh mamanya. Mereka sudah jarang dipakaikan diapers kecuali jika malam hari karena mereka sulit bangun dalam keadaan sangat lelap.
Alif meringis dan menggaruk kepalanya. “Sama Oma, ya pupnya?” dia memberikan pilihan karena belum terbisa mengurus anak kecil.
“Maunya sama Om, bukan sama Oma,” jawab Umar. “Omanya kan lagi ajalin Moja gambal.”
Umi Ros yang sedang panik lantas tergelak tawa.
“Ya, Lord ... minta ditemani pup saja milih-milih,” gerutunya.
“Sekalian kamu belajar mengurus mereka, kan mau punya anak juga,” kata Umi Ros menahan sejenak ledakan tawanya.
Sesampainya di kamar mandi, Alif menurunkan celana pendek bocil ini, kemudian melihat baik-baik kain tebal yang menggulung pantatnya. “Ini bukanya dari mana, Umar?” tanyanya bingung.
“Ininya dibuka,” Umar mengarahkan perekat yang menempel di kanan kiri pinggangnya. “Omnya bodoh.”
“Eh, kok ngomongnya begitu?” Alif melebarkan matanya. Dia tidak terima dikatakan bodoh oleh anak kecil meskipun maksudnya memang benar. “Apa ada gantinya?” gumam Alif bertanya kepada diri sendiri.
Namun rupanya Umi Ros mendengar dari luar, ternyata pendengarannya masih cukup baik di usianya yang terbilang senja tersebut, “Ada-ada ... ini Umi bawa dari rumah.”
“Cepetan Om, buka nananya, Umal mau pup,” protes Umar karena Alif membukanya terlalu lama. Dia merasa sudah berada dipenghujung tanduk. Rupanya pria itu ragu-ragu untuk membuka perekat diapers yang Umar pakai. Terus terang dia paling tidak tahan mencium bau-bauan tidak sedap seperti ini.
Dan benar saja, saat kain itu dibuka, Alif langsung mual hingga perutnya terasa teraduk-aduk.
Sementara bocah di depannya malah santai naik ke atas kloset dan duduk menikmati aktivitasnya.
“Om sakit, ya?” tanya Umar.
Alif menahan diri untuk tak menjawab pertanyaan polosnya. Takut kalau-kalau yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata tak tersaring.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa tekan laiknya, sama kasih votenya. Ini hari senin, semangat💪💪