TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Tidak Bisa Di Pertahankan


__ADS_3

 


27.


Rahma tiba di rumahnya saat malam menjelang.  Tapi saat baru saja tiba, dia merasakan sesuatu yang deras mengalir dari jalan lahirnya disertai rasa nyeri perut yang luar biasa. Sontak sang baby sitter yang mendapatinya demikian langsung panik dan menghubungi mertua Rahma.


“Ini pasti Rahma kelelahan,” ujar Kusuma dari seberang. Dari suaranya, beliau terdengar sedih dan kecewa setelah mengetahui apa yang baru saja terjadi. Namun mereka segera dapat memahami, bahwa semua bisa saja terjadi andai Tuhan telah menghendakinya.


“Sepertinya begitu, Pak,” Sang Baby Sitter menanggapi.


“Sebenarnya kami sudah melarangnya pergi ke sana kemarin—tapi kita juga tidak bisa menggantikannya, kami sudah tua. Sudah sering keder di mana-mana, apalagi di luar negeri yang berbeda bahasa.” Singapura memang berseberangan dengan Malaysia, seharusnya bahasanya masih melayu. Tetapi jika di perkotaan, tentu tidak banyak yang menggunakan bahasa itu lagi, karena sebagian banyak, mereka justru memakai bahasa internasional.


“Keadaan Rahma gimana sekarang?”


“Masih nyeri perut, Pak. Darahnya tambah banyak, katanya.”


“Ya, sudah, kamu jangan ikut-ikutan panik. Tolong bantu tenangkan Rahma juga, kami segera ke sana.”


“Baik, Pak.”


Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, kedua mertua Rahma pun tiba. Rahma langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat berharap bayi Rahma masih dapat tertolong. Namun nahas, saat di periksa dengan USG Trans-V, bentuknya terlihat sudah tidak utuh lagi.


“Ini biasa terjadi pada kehamilan muda, mungkin faktornya karena kelelahan atau stres,” ujar dokter kepada ibu mertua Rahma yang menemaninya masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Rahma yang terbaring pada saat itu hanya bisa menitikkan air mata.


‘Aku memang tidak pernah berharap dia hadir di kehidupan kami. Tapi aku juga tidak rela jika dia pergi, apalagi, saat suamiku sudah menerima dia sepenuhnya. Namun mungkin ini adalah jalan takdir yang terbaik agar kami tetap bisa bersatu tanpa bayang-bayang masa lalu lagi.’


Demikian Rahma bisa ikhlas karena dia percaya, anaknya akan lebih bahagia di sana. Sebab ada ketakutan terbesar dalam hatinya jika anak ini hidup, lalu menderita ketika tahu bahwa dirinya berbeda. Rahma tidak pandai mengatakan yang sebenarnya.


“Berarti tidak bisa dipertahankan lagi ya, Dok?”


Sang dokter hanya menggeleng.


“Padahal saya ingin sekali punya cucu lagi,” beliau terdengar mengeluh kecewa. “Ini juga merupakan kabar baik untuk anak saya yang lagi sakit, supaya berobatnya lebih semangat setelah mendengar istrinya hamil lagi. Tapi ya, sudahlah kalau begitu, saya juga tidak berbuat apa-apa.”

__ADS_1


Dokter tersenyum, “Ibu Rahma masih bisa hamil lagi dua atau tiga bulan ke depan setelah rahimnya kembali siap. Biasanya cepat kalau habis keguguran, kok, Bu.”


Ibu mertua Rahma mengangguk. Dokter kembali menjelaskan bahwa Rahma akan secepatnya di kuretase malam ini.


“Belum boleh terlalu banyak beraktivitas dan angkat beban berat dulu, ya, Bu,” jawab dokter setelah ibu mertua Rahma bertanya apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelah Rahma selesai menjalani tindakan tersebut.


“Kondisi setiap orang memang beda-beda. Tapi biasanya darah akan kering sekitar satu sampai dua minggu. Tidak terlau lama. Nanti obatnya usahakan di minum rutin dan kontrol lagi minggu depan untuk memastikan kondisi rahimnya. Mudah-mudahan nanti sudah bersih.”


“Baik, Dok.”


Keduanya keluar dan kembali ke ruang rawat setelah selesai pemeriksaan. Rahma baru ditindak kuretase ketika tengah malam. Hanya ibu mertua yang berjaga karena suaminya harus pulang, sebab kedua cucunya hanya tinggal dengan baby sitter saja.


🌺🌺🌺


Rahma mengerjap untuk menyesuaikan cahaya ruangan. Kepala yang masih terasa berputar-putar membuatnya mual selama beberapa kali hingga menodai pakaian rumah sakit yang dia kenakan. Mungkin karena efek bius, dia juga merasakan tubuh yang begitu menggigil hingga giginya bergeretak. Ada rasa ngilu tak tertahankan di bagian bawahnya, namun itu tak seberapa di bandingkan dengan rasa kehilangan yang tengah menghinggapinya.


Tadi, sebelum ia sadarkan diri, dia sempat bermimpi melihat dua orang anak perempuan yang melambaikan tangannya. Satu sudah besar dan satu masih kecil. Dia tak tahu apa arti mimpi tersebut, tapi Rahma kira—mereka adalah anak-anaknya kelak yang akan dia jumpai di sana. Dua bayi yang pernah dia lahirkan dari ayah yang berbeda.


“Suster!” panggil Rahma disela isak. Jika di sana orang-orang akan berbahagia keluar dengan membawa bayi-bayi mereka, tapi dia sendiri keluar dengan kehilangan bayinya.


‘Ya Allah ... ampuni aku...’ batinnya dengan tubuh yang bergetar hebat. ‘Kali ini saja, aku mohon... jangan buat aku kehilangan lagi....’


Tak berapa lama kemudian, seorang dengan pakaian seragam rumah sakit datang menghampiri. “Ibu sudah sadar?” tanyanya sambil mengecek infus yang tersambung di tangan kiri Rahma. “Apa yang dirasakan sekarang?”


“Pusing....” jawab Rahma.


“Iya, itu efek bius, Bu. Kalau sudah kuat, saya bantu masuk ke kamar mandi, ya. Dibawa buang air kecil dulu, nanti kalau ada keluhan, biar saya sampaikan ke dokter.”


Rahma mengangguk. Dia berjalan pelan-pelan masuk ke dalam kamar mandi sesuai perintah suster. Dan ternyata kondisinya bisa dinyatakan aman.


“Baik, kita langsung pindah ke ruang rawat kalau begitu,” lanjut sang suster membawanya kembali bertemu dengan ibu mertua yang telah menunggunya di sana—hingga akhirnya, siang hari menjelang, dia pun sudah diperbolehkan pulang.


Setelah membayar administrasi dan mengambil obat-obatan, keduanya pun turun. Karena masih lemah, Rahma disarankan untuk tetap memakai kursi roda di dorong oleh mertuanya.

__ADS_1


“Sudah, tidak perlu sedih, nanti kalau kamu sudah sembuh, kamu bikin cucu yang banyak buat Ibu,” kata Ibu berusaha menghibur.


“Iya, Bu...” jawab Rahma tersenyum.


Tapi secara kebetulan, Rahma dan mertuanya malah bertemu dengan keluarga Yudha di lobby. Vita berada di kursi roda di dorong oleh suaminya, sementara Umi Ros, menggendong cucu mereka yang baru lahir. Demikian dengan Abah, Dara dan yang lain tengah repot membawa barang-barang bawaan.


“Loh, Mbak Rahma?” ucap Vita begitu melihatnya. “Mbak Rahma sakit?”


“Iya, ini kami sedang terkena musibah,” lantaran Rahma membungkam, akhirnya ibunya yang menjawab pertanyaan Vita.


“Mu-musibah apa?” kata Vita tergagap. Melihatnya dengan begitu khawatir.


“Rahma habis keguguran...,” jawabnya pelan.


“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun,” ucap semuanya bersamaan.


Yudha langsung mengalihkan lain soal demi menjaga perasaan Rahma, “Kabar Rio bagaimana, Bu?”


‘Kenapa Yudha bisa tahu?’ batin Rahma bertanya-tanya.


“Rahma kemarin baru saja ke sana dan alhamdulillah, katanya sudah mulai menjalani serangkaian pemeriksaan. Insyaallah hari ini akan dilakukan biopsi. Tolong bantu doakan ya, semuanya.”


“Semoga nanti operasinya lancar ya, Bu,” Umi Ros menyahut. Di susul oleh yang lainnya dengan mengucap kata aamiin bersamaan.


“Terima kasih atas doa serta bantuannya, ya, Yudha, Vita, Pak Haikal, Umi Ros, Alif, Dara, semoga kebaikan kalian nanti akan menjadi pahala yang berlimpah.”


Semua orang kembali berkata amin. Berbeda dengan Rahma yang justru malah kian menunduk dan menahan napasnya penuh sesal. Dia baru mengerti bahwa ternyata Yudha dan Vitalah yang menolong suaminya. Membantu biaya pengobatannya dengan memberangkatkannya ke rumah sakit Singapura. Pantas saja dia seperti tidak asing dengan wajah pendamping yang menemani suaminya di sana.


Oh, Ya Tuhan... betapa malunya Rahma saat ini. Wajahnya langsung memerah. Beberapa bulir air matanya juga berjatuhan. Kedua orang yang sangat dia benci, bahkan sampai tercetus kata jijik dari mulutnya—kini malah menolong keluarganya tanpa pamrih.


‘Kenapa kalian tidak membenciku?’


***

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa pencet tombil laiknya, biar rejekinya makin banak, eheee✌️


__ADS_2