
“Mamanya aku kenapa ...” tangis Rayyan mengguncang tubuh mamanya yang sudah tak sadarkan diri. Wanita itu di baringkan ke kursi panjang, di bantu oleh security dan orang-orang baik di sekitarnya.
“Sabar ya, Adek,” salah seorang ibu-ibu berupaya menenangkan bocah kecil ini yang tengah kebingungan sendirian tanpa bisa melakukan lebih.
“Adek tahu nomor hp Papa?” tanya yang lain seorang perempuan juga.
Rayyan menggeleng. Dia tidak tahu karena memang belum pernah dikenalkan oleh orang tuanya benda seperti itu.
Perempuan itu menatap pria berseragam di depannya, “Duh, ini bagaimana, ini, Pak?”
Laki-laki itu menggaruk tengkuknya, “Adek ke sini datang sama siapa? Apa sama Pak Sopir?”
Lagi-lagi Rayyan menggeleng. Namun kali ini bukan ia tidak tahu, melainkan bingung harus menjawab seperti apa. Sedangkan dia juga merasa bersalah karena telah memaksa mamanya pergi bersamanya dalam waktu yang lama.
Sementara di tempat lain, seorang wanita baru saja turun dari mobil taksi. Langkahnya terburu-buru masuk ke dalam lobby, kemudian bertanya kepada salah seorang security di mana letak playgound berada.
“Ibu lurus saja dari sini, nanti sebelum ada eskalator belok ke kiri, letaknya sebelah hypermart persis.”
“Oh, iya, terima kasih, Pak,” kata Dara ramah.
“Sumpah, perasaanku benar-benar tidak enak,” gumamnya pada saat ia telah sampai di dalam.
Hingga tak lama kemudian ketika Dara sampai, kedua bola matanya sontak membola melihat pemandangan mengejutkan di luar playground. Di sana banyak orang berkerubung, namun bukan itu yang membuatnya kaget, tapi seorang wanita hamil tak sadarkan diri dan anak kecil yang menangis. Kedua orang itu adalah orang yang sangat dia kenal.
‘Aku tak mungkin salah!’
Dara melangkah lebih cepat dan menyingkirkan paksa banyak orang yang ada di sana, “Astaga, Vita! Rayyan!” pekiknya.
“Onti ... Onti, Mamanya pingsan!” jerit Rayyan mengadu dan memeluk Ontinya. Terlihat anak itu begitu ketakutan.
Dara mengusap-usap punggungnya, “Tenang ya, Kak, tenang. Ada Onti.”
“Ibu kenal sama orang ini?” tanya security.
“Iya, ini kakak saya, Pak.”
__ADS_1
“Dari tadi Adek sudah saya tanya, tapi dia jawabnya menggeleng terus.”
“Dia memang anak-anak, jadi mana tahu urusan orang dewasa,” kata Dara tak habis pikir, “seharusnya Bapak itu langsung ke bagian information, mengumumkan kepada para pengunjung, ada atau tidak anggota keluarga dari ibu ini. Toh, di sini juga ada banyak indentitasnya,” Dara menunjuk tas milik Vita yang tergeletak tak jauh dari tubuh wanita itu. “Atau kalau tidak, Bapak langsung panggilkan ambulan!” tekan Dara setengah kesal.
Dara berusaha membangunkan Vita dengan berbagai upaya yang dia ketahui. Namun sayang, belum berhasil. Satu hal yang membuatnya semakin, yakni saat air berwarna merah mengalir dari kakinya. “Ya Allah, Ya Tuhan ....”
Belum lagi Rayyan yang tangisnya semakin keras.
Dia membuka tasnya dengan cepat, mengambil ponsel untuk segera menghubungi Yudha. Beruntung, pria itu segera mengangkat panggilannya.
“Ada apa, Dara? Mau ngomong sama Alif?” jawabnya dari seberang.
“Bukan, bukan Alif. Aku mau ngomong sama kamu, Mas. Ini istrimu pingsan, pendarahan di Juntion,” jawab Dara langsung ke poin utama.
Yudha sontak menyela, “Jangan main-main kamu, istriku lagi sama Rayyan di kegiatan sekolahnya.”
“Siapa yang main-main, untuk apa aku main-main sama kamu. Lagi kurang kerjaan?”
“Ke-kenapa bisa terjadi?” kata Yudha tergagap dan terdengar sesak napas.
“Maaf aku tidak punya banyak waktu, Mas. Aku harus segera membawa Vita ke rumah sakit,” jawab dara agak kesal.
“Hei, jangan konyol,” tegas Dara. Mungkin karena panik, jadi Yudha tidak bisa berpikir atau mencerna perkataannya dengan baik, “Kami tidak mungkin menunggumu sampai, ini keadaannya sudah genting. Secepatnya aku akan membawanya ke rumah sakit, jadi kamu temui kami di rumah sakit terdekat, Adhyaksa.”
Panggilan langsung di tutup dan Dara segera menghubungi sopir Vita untuk menyiapkan mobilnya di depan lobby.
‘Semoga kamu sama bayimu baik-baik saja, Ta.’
***
Umi Ros panik menyaksikan putra pertamanya yang sedang kelimpungan mencari-cari barang pening yang harus di bawanya. “Ya Allah, ada apa lagi ini, Nak?”
Yudha tidak bisa menjawab lebih banyak, ia hanya menjelaskan bahwa ia harus segera menuju ke rumah sakit karena istrinya pingsan dan pendarahan di suatu tempat. Dan saat ini, Vita sedang di antarkan Dara ke rumah sakit terdekat agar segera mendapatkan penanganan.
“Lif, handel kantor sama titip anak-anak dulu,” pesan Yudha sebelum pria itu pergi dengan terburu-buru. Beruntung Mauza dan Umar tidak terlalu memperhatikannya sehingga dia bisa pergi dengan lebih bebas.
__ADS_1
Dua puluh menit mengemudi, akhirnya Yudha sampai di depan rumah sakit yang dituju.
“Semoga istri dan anakku baik-baik saja, Ya Allah ...” gumam Yudha. Sebenarnya dia sangat terpuruk karena di datangkan ujian secara bersamaan tanpa bisa memberikannya jeda untuk sedikit bernapas. Tapi ia mencoba untuk tetap tegak berdiri.
Langkahnya tergesa ke bagian IGD, tak sulit baginya menemukan Dara dan juga anaknya yang tengah menangis di depan sana.
“Papa ...” ucap Rayyan begitu papanya datang. Anak itu langsung menghambur ke pelukan papanya. “Gimana keadaannya?” dia bertanya kepada Dara.
“Dia pendarahan sangat banyak,” jawab Dara. Wanita itu juga ikut-ikutan syok melihat keadaan Vita yang sedemikian parah. Sebelumnya, dia tidak pernah melihat dia seperti itu.
“Kenapa bisa begini?” tanya Yudha lagi.
“Sebelum aku menemukannya dalam keadaan pingsan, Vita sempat menelepon aku ke rumah, dia bilang perutnya sedang kram. Dari situ perasaanku sudah tidak enak. Dia pernah mengeluh begitu juga, bahkan sepertinya sering. Jadi aku langsung lari ke sini. Dan ternyata ... feelingku memang benar.”
“Ya, aku pernah mendengarnya mengeluh juga,” kata Yudha segera.
“Terus kenapa kamu biarkan, Mas Yud? Itu kan bahaya. Aku rasa dia juga kecapean.”
“Bukan aku membiarkan, setiap kali aku tanya dia selalu bilang tidak apa-apa, hanya kram biasa dan menolak untuk diperiksakan. Bukankah kamu tahu, betapa keras kepalanya dia?” jawab Yudha, dia merasa sudah memprotek istrinya sebisa mungkin.
“Intinya dia itu kecapen, itu saja. Seharusnya, tadi pagi jangan Mas Yudha biarkan dia pergi sendiri,” Dara pun tak mau kalah, dia tetap dengan pemikirannya sendiri.
Rayyan mendongak dengan tatapan bersalahnya, “Maafin Kaka, Pa ... Kaka yang ngajak Mama ke playground ....”
Yudha tak menjawab, dia justru mengangkat tubuh putranya ke atas pangkuan. Rayyan masih kecil, memangnya dia tahu apa? Jangan sampai rasa bersalahnya tumbuh semakin besar gara-gara kesalahan yang sama sekali tidak pernah dia buat.
Di saat yang bersamaan, Yudha dan Dara juga melihat Rahma tengah melintas. Mendorong brankar yang di atasnya terbaring seorang laki-laki yang Yudha kenal adalah suaminya.
Wanita di berhenti di depan pintu IGD, setelah suster melarangnya untuk masuk. Jadilah Rahma duduk, dan mereka saling melirik satu sama lain, meski tak saling sapa.
Mungkin karena sedang kalut dengan pikiran mereka masing-masing.
***
Bersambung.
__ADS_1
Maaf kalau typo, ya. mohon diingatkan.🙏😘
Selamat hari jumat, jangan lupa baca shalawat.