
Pagi itu Vita disibukkan dengan berbagai hal, yakni rutinitas seperti biasanya. Namun yang membuatnya semakin repot ialah, Rayyan sedang sedikit rewel sehingga tidak bisa ditinggal sedikit pun.
“Kamu kenapa sih, Nak?” gumam Vita heran. Sudah ia sentuh-sentuh seluruh bagian tubuhnya. Normal. Rayyan tidak sakit. Tetapi kenapa sedikit-sedikit menangis? Padahal kemarin masih baik-baik saja.
“Adek kangen sama Papa?”
Tidak bisa dipungkiri, anak ini sayang sekali dengan Papanya. Terbukti beberapa hari kemarin saat Yudha ada di sini, bayi ini selalu anteng. Tapi begitu dia pergi, dia selalu rewel. Dia seperti kehilangan sesuatu, namun mungkin dia tidak tahu apa yang hilang dari dirinya.
‘Maaf, Nak. Maafkan Mama karena sudah memisahkanmu dengan Papamu. Tapi suatu saat kalau kamu besar, kamu pasti tahu. Bagaimana perasaan Mamamu dulu waktu Papamu pernah punya istri lain selain Mama.’
Ponsel terdengar bergetar di atas televisi, Vita segera beralih untuk mengangkat panggilan dan cepat menghalau air matanya yang hampir turun. Dia selalu saja begitu jika teringat masa lalunya.
‘Aku memang sudah menjadi satu-satunya sekarang. Tapi di dalam hatinya, siapa yang tahu?’
Terkadang dia kembali terjerembab. Takut jika keputusannya untuk kembali juga merupakan kesalahan. Benarkah pria itu hanya mencintainya saja sekarang? Vita bukanlah wanita yang mudah percaya. Tetapi sayangnya, ia lemah dengan perasaan.
Dia datang terakhir dalam waktu singkat. Sementara wanita itu ... ah, air mata itu kembali menggenang.
“Dara?” ucap Vita begitu telepon tersambung. “Gimana kabarmu?”
“Eh, baik Ta. Kabar kalian gimana?” tanya Dara balik dari suaranya terdengar semringah.
“Kami baik alhamdulillah.”
“Aku cuma rindu sama kalian. Jadi aku telepong.”
“Telepong kan ee sapi.”
Dara seketika tergelak ketika mendengar Vita berkata demikian.
“Keluargamu sehat semua ‘kan Dar?”
“Sehat, kantongnya saja yang tidak sehat.”
Mereka kembali tergelak seperti tadi. Kalau untuk yang satu itu, Vita pikir semua orang merasakannya. Seberapapun kekayaan, manusia akan tetap merasa kurang.
“Kamu masih lebih baik, Ta. Walaupun tidak bekerja, tetap ada cuan yang masuk. Kalau saya? Tidak ada, Ta. Harus irit-irit sampai mincrit.”
“Dara tetap mau kuliah di sana? Tidak di Jakarta saja? Nanti aku bantu.”
“Tidak usah, Ta. Aku sudah banyak merepotkanmu.”
“Terbalik, justru aku yang selama ini merepotkanmu.” Vita menyanggah. Ini tidak sepenuhnya benar.
Kendati demikian, Dara pun menyadari bahwa dirinya juga sama-sama merepotkan.
“Sejatinya manusia memang saling membutuhkan, Ta. Tapi hanya sedikit yang mau berbagi tulus seperti kita.”
__ADS_1
“Kamu benar,” kata Vita kemudian. “Jadi benar-benar mau kuliah di sini saja?”
Vita benar-benar merasa kehilangan Dara.
“Kuliah di sini jauh lebih terjangkau. Mau kuliah di mana saja sama kok, Ta. Yang penting mesin kita, baik atau tidak. Tapi mungkin—ya mungkin, suatu saat nanti kalau aku sudah lulus. Aku akan mencari kerja ke sana lagi, atau kalau bisa di kantor suamimu kalau ada lowongan hehehe. Sekalian mau cari bujang.”
“Atau kamu mau sama Alif? Sepertinya kalian cocok.” Vita tertawa setelah bertanya demikian.
“Malas, ah. Alif playboy.”
“Dia bukan playboy, tapi orangnya memang masih suka pilih-pilih. Sebab belum menemukan orang yang tepat. Siapa tahu nanti dia berhenti di kamu, Dar.”
“Izh, amit-amit jabang kerdil. Malas saya sama dia. Jelek. Jauh sekalilah sama Abangnya. Brewokan, berantakan seperti gembel.”
“Dara lihat Alif waktu belum dicukur, nanti kalau sudah dicukur pasti kamu tersepona.”
“Belum terpikir aku buat racapan apalagi kaniwan. Sudahlah, biar aku kuliah dulu. Mau menampar mulut tetangga dengan keberhasilanku nanti.”
“Aku doakan semoga kamu sukses ya, Dar. Semoga cita-citamu menampar mulut tetangga itu terwujud.”
“Iya ... iya. Terima kasih doanya. Ponakan aku sedang apa, Ta?”
“Rayyan habis nangis, Tante. Nangis terus semenjak bangun tidur.”
“Kenapa ....”
“Itu sih Emaknya woy! Emaknya sudah lama tidak mendapat sentuhan hahahaaa ....”
“Dara, ya ampun!” gerutu Vita mendengar kata-kata Dara yang terkadang ada benarnya. Tapi sungkan sekali jika harus mengakui di depan orang. Memalukan!
“Aku akan ke rumahmu segera setelah ini,” kata Dara tak lama berselang.
“Hah, ke rumah?” terkejut Vita melebarkan matanya. “Serius?”
“Seriuslah.”
“Pakai apa? Naik apa?”
“Pakai kuda besi kecayangan.”
“Kamu sudah mau dua kali datang ke sini. Aku belum sekalipun datang ke rumahmu. Aku merasa tidak enak.”
“Itu pengecualian. Karena kamu punya bayi. Sudahlah itu kita bahas nanti saja, aku segera siap-siap.”
“Baiklah, aku tunggu. Hati-hati ya, Dar. Tidak usah ngebut-ngebut, yang penting selamat.”
“Oke, Ta.”
__ADS_1
Panggilan ditutup. Vita beralih kepada anaknya yang sedang tersenyum. Anak bahagia jika si ibu bahagia. Gemas, Vita menghujani kecupan di pipi chubby tersebut.
Dara memang selalu bisa mengembalikan mood-nya dengan keseruannya. Dia penghibur yang paling baik bukan?
***
Yudha dan juga Umi Ros baru tiba di rumah sakit. Beberapa menit yang lalu, Rahma mengabarkan kepadanya bahwa ibunya baru saja mengalami kecelakaan. Dan dengan lirih, Rahma meminta tolong kepada Yudha, agar uang kompensasi itu di cairkan segera. Dia butuh dana yang cukup besar untuk biaya pengobatan ibunya.
Ada—saja masalahnya manusia hidup. Hanya orang mati saja yang tidak mempunyai masalah. Ya—mungkin!
“Masih di dalam?” tanya Yudha kepada wanita yang pernah mengisi hari-harinya.
Rahma mengangguk. Raut wajahnya begitu panik, tubuhnya tak berhenti mondar-mandir di depan pintu IGD.
“Kenapa bisa sampai kecelakaan?”
“Siang tadi Ibu sedang menyeberang jalan, tapi karena beliau kurang hati-hati. Jadi tertabrak motor besar pengangkut gas,” jawabnya tak ingin menjelaskan lebih lanjut. Ada fakta besar dari balik itu, namun ia enggan mengatakannya.
“Jangan panik ... tenangkan dirimu,” kata Umi Ros. “Duduklah!”
“Aaaaakh! Sakit dokter!” jeritan Nely terdengar sampai ke luar ruangan.
“Ya Allah, Ibu ...,” lirih Rahma mengusap air matanya.
Umi Ros membantu menenangkan Rahma dengan mengusap-usap punggungnya. Sebesar apa pun keluarga ini menyakiti, namun mereka tetap tidak bisa membenci dengan sepenuh hatinya. Mereka tidak tega melihat Rahma kesusahan seperti ini.
Setelah mereka pikir-pikir, Rahma tidak sepenuhnya bersalah. Hanya ibunyalah yang bersalah! Wanita tua itu yang tidak mempunyai keberesan urat kepala. Dia memang dungu! Dia memang keledai!
“Ayah ke mana?” tanya Yudha.
Rahma menunduk, dan menjawab dengan lirih, “Sedang mencari tambahan biaya.”
“Telepon Ayahmu. Beritahukan kepada beliau, aku yang akan menanggung semua biayanya.”
“Terima kasih, Kak. Terima kasih Umi.”
Rahma sontak mendapat pelukan dari sang mertua. “Sama-sama. Sabar, ya. Banyak berdoa. Tidak boleh putus asa.”
Rahma mengangguk. Tanpa bisa menahan rasa harunya. Andai ia bisa memeluk lelaki itu juga, pasti hatinya akan jauh lebih tenang. Namun sekarang mereka sudah bukan keluarga lagi.
‘Aku masih menyayangimu, Kak. Sulit sekali untuk menghapus semua kenang-kenangan kita dari pikiranku. Terima kasih karena masih peduli. Walau pun aku tidak bisa bersamamu, tapi aku beruntung karena pernah mengisi hari-hariku bersamamu. Setidaknya, nanti ada yang bisa aku kenang.’
***
To be continued.
Jodoh Rahma pasti akan segera otewe kok. Kasihan aku juga.
__ADS_1