TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Hasil Dari Pengkhianatan


__ADS_3

22.


“Ada yang ingin aku bicarakan,” ujar Rio pada malam berikutnya saat keduanya sudah berada di posisi masing-masing, menunggu datangnya rasa kantuk.


Rahma menoleh, bersiap untuk mendengarkan apa yang akan di ucapkan suaminya, “Ya, tinggal ngomong aja, sih, Kak. Kenapa harus kasih notif dulu?”


“Supaya kamu tidak terlalu kaget nantinya.”


“Aku selalu siap mendengarkan.”


Rio menggenggam tangan istrinya. suatu hal yang biasa dilakukannya untuk menumbuhkan rasa nyaman dan percaya, “Sebenarnya ... siang tadi aku mampir ke rumah seseorang.”


“Siapa?” tanya Rahma sangat ingin tahu.


“Ada salah seorang teman. Dan dia bersedia membantuku untuk melakukan pengobatan di luar negeri. Dia bilang di sana pengobatannya jauh lebih bagus.”


“Syukurlah ...” kata Rahma sangat senang, “tapi ... apa kamu tidak ingin memberitahuku siapa orangnya, Kak?”


“Nanti akan aku kasih tahu, tapi bukan sekarang.”


“Sebenarnya aku ingin tahu sekali siapa malaikat yang baik hati itu. Tapi—ya, sudahlah kalau memang maumu seperti itu, Kak. Rasanya tidak mungkin aku memaksa buka mulut orang sakit, bisa-bisa nanti malah tambah parah,” ujar Rahma membuat Rio tak kuasa menahan senyum, “tapi ini pengecualian, ya. Nanti kalau kamu sudah sembuh, pasti aku balas.”


“Terserah kamu saja, Rah. Aku pasrah mau kamu apakan.”


“Aku senang lihat kamu bisa ketawa lagi. Dari kemarin, kamu diam terus. Aku jadi bingung. Wujudnya ada, tapi suaranya senyap. Bikin pikiranku jadi sempit, hampir putus asa. Ingin mati juga tapi ingat sama anak-anak. Siapa nanti yang mau mengurus mereka?” ujar Rahma mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini dia rasakan. “Apa kamu tahu? Aku juga jadi ikut kecipratan semangatmu, Kak.”


“Kalau aku tahu, aku juga akan melakukannya dari kemarin,” balas Rio tersenyum.

__ADS_1


“Tolong sampaikan ke dia ya, Kak. Siapa pun orang yang bisa mengubah kamu jadi seperti ini sekarang, terima kasih banyak. Aku tidak peduli dia laki-laki atau perempuan, dia akan jadi saudara kita.”


“Kamu mengenalnya, Rah... sangat mengenalnya,” kata Rio masih enggan menceritakan yang sejujurnya. Bukan tanpa sebab dia melakukannya, melainkan ingin menyelamatkan dirinya sendiri dalam melakukan pengobatannya nanti di Singapura.


Rio merasa istrinya tidak perlu tahu siapa orang tersebut untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan. Rio tahu persis wanita ini masih sangat membenci Yudha dan selalu beranggapan bahwa Yudhalah penyebab utama penghancur hidupnya. Meski dia tahu ini tidak sepenuhnya benar.


“Oh, ya?” mata Rahma melebar, “apa jangan-jangan, dia memang saudara kita?”


“Saudara semuslim....”


“Bukan itu maksudku. Kalau itu sih, aku tahu,” Rahma berkata setengah kesal, “dengan siapa nanti kamu pergi, Kak?”


“Aku di antar sama salah satu stafnya. Jadi kamu bisa tetap di rumah untuk mengurus anak-anak.”


“Apa kami tidak bisa ikut?” terdengar wanita itu sangat menyayangkan. Bagaimana mungkin Rio pergi tanpa di dampingi oleh siapa pun?


“Ah, iya... aku baru berpikir sampai ke sana.” Rahma tersenyum, malam ini dia sangat-sangat bahagia. Bahkan saking senangnya, bayangan ini terbawa sampai ke dunia mimpi. Kelak, Rio akan sembuh, mereka akan hidup bahagia, mempunyai banyak anak dan mempunyai beberapa usaha yang sukses.


🌺🌺🌺


Hari-hari telah berlalu seperti biasa, tidak ada yang aneh dan tidak ada yang berubah dengan pasti. Begitu pun dengan Rahma yang masih bekerja dengan Arkana; menemani ke mana pun pria itu pergi, mendengarkan ceritanya, membantu pekerjaannya—dan masih banyak lagi aktivitas yang mereka lakukan bersama. Dia memberikan warna baru di kehidupan Arkana yang sebelumnya sunyi sepi, tanpa dia tahu, Arkana sebenarnya telah memendam sebuah perasaan. Ya, hanya Arkana saja karena Rahma tetap bekerja secara profesional.  


Sebagaimana hubungan orang dewasa, mereka pun dapat menyembunyikan rapat-rapat hubungan yang terjalin. Walau tanpa dipungkiri, rasa ketakutan Rahma tetap selalu ada. Kekhawatiran akan terbongkarnya hubungan ini jelas begitu besar.


“Selama kamu pintar menjaga diri, tidak akan pernah ada yang tahu. Kalau pun mereka mengikutimu, mereka pasti akan beranggapan bahwa kamu bekerja di kantor ini. Sebab mobilmu selalu berhenti di sini dan kamu akan pergi denganku menggunakan mobil lain,” kata Arkana memberikannya sedikit penenangan, meski tak jua membuat Rahma demikian.


“Kalau cuma ngomong mah, gampang, Pak. Lagi pula kalau pun ketahuan, sudah pasti akulah pihak yang paling rugi. Beda sama laki-laki. Mereka akan tetap dipuja-puji sekotor apa pun dia. Apalagi kalau punya banyak materi.”

__ADS_1


“Kalau kamu takut lautan, kenapa kamu berenang?” ujar Arkana tak mau memusingkannya. “Seharusnya pikirkan matang-matang semua risikonya sebelum kamu terjun ke dunia ini.”


Rahma menguatkan mentalnya untuk menerima setiap kata-kata pedas yang terlontar dari bibir pria itu. “Apa kontrak ini bisa dihentikan? Suamiku sudah menemukan orang yang bisa membantu biaya pengobatannya tanpa aku harus menjual diri.”


Ada jeda keheningan selama beberapa saat. Keduanya saling menatap tanpa bersuara, sampai beberapa menit kemudian, Rahma kembali berujar, "Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku benar-benar tidak nyaman dengan hubungan ini. Aku tidak tenang...."


“Begitu maumu?” tanya Arkana menatapnya tajam. Terus terang Rahma agak takut, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia harus tetap mengatakannya agar bisa segera lepas dari jerat lelaki ini.


“Maaf... aku capek, aku ingin berhenti. Aku ingin hidup normal.”


“Anti bagiku memohon pada seorang perempuan. Jadi pergilah, aku tidak peduli dengan kontrak perjanjian itu.”


“Sekali lagi ... tolong maafkan saya, Pak....” suasana mendadak menjadi tidka menyenangkan.


“Pergilah. Tapi ingat, kamu pergi bukan untuk kembali. Aku tidak peduli dengan apa pun yang terjadi padamu nanti, apalagi memberikanmu bantuan. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, catat baik-baik!”


Namun malang nasibnya, setelah hubungan mereka berakhir, Rahma justru terkena sial. Sebab dirinya diagnosa hamil dua bulan oleh dokter pada saat dirinya dilarikan ke rumah sakit karena pingsan.


Kedua mertuanya sangat bahagia Rahma hamil lagi, tapi tidak dengan suaminya karena pria itu merasa tidak pernah menanam benihnya selama sakit.


Seumur hidup, baru kali ini Rahma benar-benar merasa seperti di telan jangi. Beruntung, Rio tak mengatakan apa-apa kepada kedua orang tuanya untuk menjaga perasaan mereka. Meski tak bisa dipungkiri, kekecewaan membuat pria kembali membungkam tanpa suara.


‘Apa ini balasan untukku karena telah berkhianat?’ Rahma merasa dirinya tidak pernah ceroboh. Namun dengan mudahnya Tuhan buka kebusukannya.


Pada akhirnya, Rio pun terbang ke Singapura dengan membawa sejumlah luka yang menganga. Berharap waktu yang berlalu dapat sedikit mengobati.


***

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2