TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Kemarau Yang Tersiram Hujan


__ADS_3

Yudha sedang berada di dalam ruang pemeriksaan. Dia duduk di depan meja dokter sembari menunggu Rahma diperiksakan. Pria itu benar-benar gelisah melihat setiap jam yang sedang berdetak. Menanti kabar yang akan diterimanya.


‘Aku sudah berdoa dan berusaha semampuku sebagai seorang manusia. Tapi kami hanya bisa berharap yang terbaik.’


Yudha melihat dokter terus menggeser alat USG trans V tersebut. Namun dia melihat raut wajah dokter yang berbeda. Terang saja dia merasa cemas, sebab tak ada pergerakan lagi di layar, apalagi detak jantung yang biasa dia dengar ketika mereka sedang memeriksakan.


“Gimana dok, kenapa bayi saya tidak bergerak dari semalam?” tanya Rahma panik.


“Kalau merasa dari semalam, seharusnya Ibu bisa datang ke sini lebih cepat,” jawab dokter dengan tak habis pikir.


“Tapi bayi saya baik-baik saja kan?” wanita itu terus mendesak. Dokter hanya tersenyum yang terlihat dipaksakan. “Sabar ya, Bu?”


“Sabar apa, Dok? Tolong jangan berbelit. Saya sangat khawatir sekali dengan kondisi anak saya ....” mata Rahma mengembun membayangkan kemungkinan terburuknya.


“Sabar ya, Bu. Nanti dokter yang akan menjelaskan,” kata suster menyahut menanggapinya.


Dokter tidak menanggapi pertanyaan Rahma terlalu jauh lantaran tidak tega untuk mengatakannya dari mulutnya sendiri. Dia lebih memilih untuk mendekati Yudha dan membawanya ke ruangan berbeda. Demikian yang dia lakukan karena laki-laki selalu lebih bisa mendengarkan kenyataan paling pahit daripada perempuan.


“Kita bicara di tempat lain ya, Pak.”


“Baik, Dok.”


“Mari ikuti saya.”


Yudha keluar dari ruangan itu, kemudian mengikuti dokter perempuan tersebut menuju ke ruangan lain.


“Silakan duduk,” ujarnya setelah dokter itu mendahului.


“Tanpa dokter mengatakan, sebenarnya saya sudah tahu,” kata Yudha setelah beberapa saat kemudian. Dia berujar demikian agar dokter itu tak usah ragu untuk mengucapkan kabar ini.


“Saya sudah menyiapkan hati dari jauh-jauh hari. Karena kondisi istri saya memang semakin memprihatinkan. Dia selalu mengeluh sakit.”


“Baiklah, kalau Bapak sudah menyiapkan hati,” kata dokter dengan sangt iba. “Saya tambahkan sedikit ya, Pak. Sebelum Bapak ke sini, kemungkinan si bayi memang sudah tidak ada. Sebab si Ibu Rahma mengakui tidak ada pergerakan dari semalam.”


“Dia memang selalu begitu.” Yudha membenarkan.


“Mungkin beliau ada perasaan tidak enak karena sudah terlalu sering sakit atau punya alasan lain sehingga si Ibu selalu terlambat mengatakannya, Pak?”

__ADS_1


“Tapi setahu saya, lingkungannya sangat baik. Selalu mendukungnya, tidak pernah mengekangnya untuk melakukan apa pun,” jawab Yudha segera setelahnya.


“Saya turut berduka cita atas musibah yang terjadi ya, Pak. Mudah-mudahan ke depannya, si Ibu akan lebih berhati-hati lagi jika kembali dianugerahkan kehamilan selanjutnya. Dan untuk kelanjutannya, demi keselamatan Ibu Rahma juga, kita akan segera melakukan operasi pengangkatan janin. Jadi saya minta tolong Pak Yudha mengurus semua persyaratan ini. Mengisi data-datanya serta menandatangani dokumen persetujuan.” Dokter menyerahkan beberapa lembar kertas di depannya.


Tangan Yudha gemetar melihat lembaran kertas di depannya. Setiap angka yang dilihatnya semakin mengabur. Dia telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya hari ini.


***


Operasi sudah selesai tanpa sepengetahuan Rahma. Wanita itu masih terpejam setelah operasi selesai dilakukan. Bayi sudah dikeluarkan dan sudah dibungkus dengan kain putih.


Beberapa puluh menit yang lalu, Rahma memang didekati untuk disuntik bius sehingga wanita itu tidak menyadari tindakan operasi ini.


Barulah beberapa jam kemudian, saat obat bius sudah habis, Rahma tersadar dan langsung histeris. Seketika wanita itu kembali pingsan ketika mengetahui rahimnya telah kosong dan mendengar anaknya telah tiada.


Suasana juga semakin heboh manakala Nely mengetahui kabar buruk ini. Wanita itu semakin berang dan kembali memaki-maki menantunya yang hanya diam menerima segala jenis perlakuannya.


Yudha pasrah saja. Percuma saja berkoar-koar padanya. Sebab, bagaimana pun dia menjelaskan, tidak akan sampai dengan baik di otak ibu mertuanya yang bebal dan tumpul itu.


“Senang kamu, cucuku tidak selamat. Sekarang kamu sudah tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan anak saya, iya ‘kan?” tuding Nely pada saat pemakaman akan dilaksanakan.


“Tidak ada seorang ayah yang senang melihat anaknya pergi. Semua di sini sedih, apalagi aku. Tapi mau bagaimana lagi, nyawa milik Allah, mungkin Dia ingin mengambilnya kembali. Tidak ada yang bisa mengelak dari kenyataan ini. Kita tidak bisa berbuat apa-apa,” jawab Yudha sedemikian sabar.


“Yah, tolong bawa Ibu ke kamar Rahma dulu biar beliau lebih tenang,” kata Yudha menyarankan. Lantaran tidak enak percakapan yang sebagian besar menyudutkan ini menjadi pusat perhatian.


“Bu, ini bisa dibicarakan nanti, ini sedang ada banyak orang.” Ilyas mendekatinya dan menarik istrinya dari sana. “Malu, Bu. Malu.”


“Lepas, Yah!” Nely menepis tangan suaminya yang menariknya dengan paksa. Keduanya sempat beradu mulut sebelum akhirnya Nely terpaksa menuruti titah suaminya.


Pada saat matahari sudah merangkak naik, Yudha menuju ke TPU. Dia menggendong dan mengazani sendiri bayinya dengan lelehan air mata.


“Yang sabar ya, Nak.” Umi mengusap-usap punggung putranya pada saat makam sudah tertutup sempurna.


“Sedih boleh saja, tapi jangan terlalu berlebihan,” kata Abah menyahut. "Setiap yang bernyawa, pasti akan mati," tambahnya lagi.


“Umi sama Abah pulang dulu ya, Nak,” pamit Umi Ros dan Abah mendahuluinya.


“Kami juga, Pak. Kami turut berduka cita, atas meninggalnya calon anak Bapak,” ucap salah seorang yang ikut melayat ke TPU.

__ADS_1


“Semoga semua keluarga diberi kesabaran dan ketabahan,” sahut yang lain.


Yudha diam saja mendengar semua orang yang mengucap bela sungkawa padanya. Ada banyak tekanan yang selama ini dia pendam sehingga menjadikan lukanya semakin dalam. Yang tanpa diketahui sudah merenggut semua hasratnya untuk hidup lebih berarti.


Belakangan ini, tidak ada lagi keinginan untuk bercumbu apa lagi mencium selayaknya yang dilakukan seorang suami pada istrinya. Apa yang menjadi harapannya, semakin jauh, semakin sirna, tak terarah dan tak teraih. Dalam hatinya ia berpikir, kenapa dia tidak ikut mati saja?


“Bang, sudah sore, kita pulang. Sudah mau hujan juga,” ajak Alif kepada pria yang masih menunduk dalam di depan makam, seolah sedang menumpahkan keluh kesahnya pada yang tidak lagi bernyawa.


“Sebentar lagi.”


“Ini sudah hampir gelap,” Alif kembali menambahkan.


“Ya aku tahu,” jawab Yudha. “Kamu yang tidak tahu bagaimana aku merasa kehilangan.”


Alif mendekatinya, “Bang ....”


“Apalagi, Lif ....”


“Mungkin ini adalah jalan untuk menjadikan Vita satu-satunya.”


Yudha langsung menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Sepertinya kau telah mengetahui sesuatu dan kau menyembunyikannya dariku,” kata Yudha yang tak jauh dari sebuah kebenaran.


Alif tersenyum. “Maaf, Bang. Dia memang tidak ingin kau mengetahuinya. Tapi selama ini aku telah membantu memantaunya dari jauh.”


“Di mana dia?” tanya Yudha tak sabaran.


“Aku akan memberitahumu, tapi tolong. Datanglah di waktu yang tepat. Jangan usik dulu ketenangannya.” Alif mengeluarkan ponsel dari dalam kantongnya dan menunjukkan potret Vita yang ia ambil secara candid saat dia bertemu dengannya. “Dia sedang bahagia sekarang, jangan khawatir.”


Alif kembali menambahkan, “Anak pertamamu laki-laki. Selamat.”


Terbitlah senyum itu. Bergetarlah jantung hatinya. Berterima kasihlah dia kepada Tuhan karena sudah berbaik hati menurunkan gerimis di kemarau gersang yang sudah sekian lama melandanya.


***


T B C


Dua bab lagi besok yah, spil buat besok ada kejutan baik kok. Tapi season satu kemungkinan sudah hampir selesai. Nanti kita lanjutin keduanya kalau responnya cukup baik.

__ADS_1


 


 


__ADS_2