TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Kelahiran Bayi Pertama


__ADS_3

Umi Ros tak habis pikir, putranya yang mereka kenal pendiam dan penyabar itu bisa sampai lepas kendali sedemikian parah. Sedari kecil, Yudha sangat bisa sekali menjaga sikapnya. Namun dia benar-benar berubah sekarang. Sebab karena salah menikahi seorang perempuan.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Abah pada istrinya yang baru saja keluar dari kamar Yudha.


“Banyak cakaran di wajahnya, dua-duanya memang tidak bisa menahan diri, Bah. Tapi sekarang Yudha sudah jauh lebih tenang.”


Benar-benar seperti rumah tangga anak-anak pikir Umi Ros pada saat itu.


Abah kembali bertanya, “Sedang apa dia sekarang?”


“Umi suruh dia tiduran dulu,” jawab umi Ros. “Umi melarangnya keluar hari ini.” Tak lama kemudian wanita itu mengambil selembar tisu. Beliau tidak bisa menahan sesak lagi di dadanya. “Umi pegang-pegang badannya tadi yang sudah kurus. Dia tertekan sekali. Dia juga peluk Umi sambil ngeluh katanya sakit kepala dari semalam, tapi malah terus diajak berdebat.”


“Besar sekali dampak salah memilih istri.” Abah memijat keningnya. “Abah pikir dulu keluarga mereka—” Abah Haikal tidak ingin mengucapkan kata-kata lain. “Yang jelas kita tidak bisa menilai isi hati seseorang atau melihatnya dari luarnya saja.”


“Bagaimana ke depannya Abah? Apa kita patut menyarankan mereka untuk bercerai saja? Kalau tidak, keadaannya akan semakin parah kasihan Yudha, Bah ....”


“Yudha tahu apa yang terbaik untuk mereka. Dia sudah pasti memikirkannya. Kita jangan terlampau ikut campur. Tidak ikut campur saja sering disalahkan, apalagi demikian.” Abah merangkul istrinya untuk pergi dari rumah. Terlalu suntuk memikirkan masalah itu-itu saja yang seakan tidak ada habisnya.


“Rahma bagaimana?” tanya Abah setelah mereka berada di dalam mobil.


“Dia baik-baik saja, sudah Umi obati juga lukanya.”


“Apa ini akan menjadi sebuah keributan lagi?”


“Umi tidak tahu. Tapi tadi Umi sudah berusaha menasihati, sebaiknya jangan adukan masalah ini kepada keluarganya karena bisa menambah banyak masalah baru,” jawab Umi Ros menjawab pertanyaan suaminya. Jeda beberapa saat kemudian, beliau kembali melanjutkan, “Sepertinya dia juga takut sekali jika sesuatu terjadi pada rumah tangga mereka. Masalahnya Rahma ini cinta sekali sama putra kita.”


“Tapi caranya salah. Dia itu seperti membelenggu. Di dalam rumah dia menganggap Yudha adalah musuhnya, tapi dilepas juga tidak mau.”


Terdengar helaan napas dalam dan kasar dari Umi Ros. Tidak tahu harus seperti apa lagi. Namun beliau benar-benar sudah jengah mendengarkan kegemparan hampir setiap hari.


Dua hari setelahnya, Yudha sudah mulai beraktivitas lagi seperti biasa. Dia tidak peduli walau hubungan mereka masih belum dikatakan membaik. Terus terang dia lebih nyaman seperti ini karena tidak ada lagi yang mengganggunya setiap malam.


Begitu pula dengan Rahma. Wanita itu juga terlihat lebih bahagia dengan keadaan yang dialaminya. Pasalnya, perempuan itu sudah bisa tertawa cekikikan dengan temannya yang sering dia hubungi melalui telepon. Entah secara sengaja atau memang kebetulan, dia selalu menunjukkannya pada saat Yudha tengah melintas di dekatnya seolah sedang memamerkan diri.

__ADS_1


‘Dengan mudah dia merusakku, mempermainkanku tanpa henti. Dia mengusikku dengan masalah-masalah yang tidak berguna, lantas kemudian dia tertawa puas setelah diriku hancur dan merana. Dia memang keturunan wanita terkutuk, yang bentuknya sama seperti wanita terkutuk itu pula.’


Yudha terus saja melintas tanpa berusaha memperhatikan wajahnya lagi. Lupakan semua itu. Pria itu tak ingin membuat dirinya bertambah gila.


Ketika turun, Yudha mendapati Alif yang sedang berlarian.


“Abang! Syukurlah kamu sudah turun,” ucap Alif dengan napas yang menggebu. “Aku mencarimu.”


“Ada apa Lif?” tanya Yudha begitu penasaran.


“Vita sudah mulai mengalami kontraksi. Ayo, Bang. Kita segera ke rumah sakit.”


Senyum Yudha mengembang manakala mendengar kabar menggembirakan ini. Euforia melanda dirinya. Gegas mereka berdua menuju ke mobil.


Sementara di tempat yang ditinggalkan, ada Rahma yang sedang menangis hancur. Dia meratapi diri yang begitu malang karena Vita sedang menang sekarang. Sementara dirinya? Dia telah kehilangan anaknya.


***


Keduanya kini sudah berada di salah satu rumah sakit—tempat di mana Vita melakukan persalinan. Jantung Yudha berdebar ingin melihat bagaimana putranya itu lahir ke dunia.


“Siapa yang memberitahumu?”


“Dara barusan mengirimiku pesan.”


“Aku akan bertemu dengan mereka, Lif,” ucap Yudha tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. “Apa Vita nanti tidak terkejut jika dia melihatku?”


“Terkejut sudah pasti. Tapi ...,” Alih menoleh. “Berusahalah Bang. Raih hatinya kembali. Sesungguhnya dia begitu merindukanmu.” Alif berusaha membesarkan hati Abangnya, walau dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun ia yakin, Vita butuh sosok suami di sampingnya di saat-saat seperti ini. Bukan orang lain.


Ketika mereka telah sampai di ruangan itu, mereka berhenti. Bersamaan dengan itu pula, Dara keluar dan langsung menghampiri keduanya.


“Sudah pembukaan delapan,” ucap Dara segera. “Semua suster dan dokter sudah bersiap.”


“Masuklah, Bang,” titah Alif.

__ADS_1


“Silakan, Pak,” ucap suster yang juga berada di sana menanti kedatangannya. Dan dengan segenap keyakinan, Yudha mengangguk pasti. Dia melenggang masuk dengan perasaan yang campur aduk.


DEG ....


Bertataplah kedua wajah itu. Dalam kesakitannya, raut wajah Vita menunjukkan keterkejutan. Namun dia tidak ingin membuang energi untuk berdebat di tengah perjuangan hidup dan matinya.


Tanpa berkata apa pun, Yudha meraih tangan Vita yang tidak tertusuk jarum infus. Mengecup keningnya untuk melebur rasa rindu yang sudah dia tahan-tahan selama ini.


“Hufft ....” wanita itu mengerang ketika kontraksi yang dirasakannya semakin kencang. Keringat sudah membasahi pelipisnya. Sedang mulutnya tak berhenti mengatur pola napas seraya menahan rasa sakit luar biasa.


“Sa—kit ...,” rintihnya menahan rasa seperti terbelah, perih, mulas, ngilu dan macam-macam secara bersamaan.


“Pegang saja tanganku,” bisik Yudha di telinganya.


“Kepalanya sudah hampir keluar ini, Bun,” ucap dokter yang sedang menangani Vita. “Ikuti semua instruksi kami ya, Bun.” Pandangan Bu dokter kini beralih kepada Yudha yang juga sama-sama sedang pucat pasi. “Bantu posisikan Ibu Vita setengah duduk ya, Pak. Biar lebih mudah.”


“Baik, dok.” Pria itu naik ke atas ranjang dan memosisikan dirinya di belakang tubuh Vita sesuai instruksi dokter. Dia mengusap perut istrinya kemudian terdengar sepenggal bisikan doa untuknya, “Ya Rabb ... mudahkanlah.”


Hanya dengan lima kali mengejan, bayi itu sudah keluar dengan sempurna dari tubuh ibunya. Dentingan alat medis di bawah sana seakan menjadi angin segar, menandakan semua berjalan lancar atas kehendak-Nya.


Buliran air mata Vita menetes tanpa izin saat telinganya mendengar suara kencang tangisan bayi laki-laki.


“Aduh, kencang sekali nangisnya. Dingin ya ....” sang dokter mengangkat bayi itu dan menempelkannya di perut ibunya. “Peluk Dede ya, Bun. Dedenya kedinginan.”


Vita mengangguk, bersamaan dengan buliran air mata yang lagi-lagi terjatuh dari pelupuk matanya.


Seperti mimpi, Vita bertanya-tanya. Benarkah yang ada di atasnya ini adalah bayinya? Bayi yang selama ini menjadi buntelan di perutnya selama sembilan bulan. Oh, begini ternyata wajahnya? Ah, alangkah rupawannya wajah itu. Betapa mungilnya tangan yang kini menggenggam erat jarinya.


Demikian dengan Yudha yang sedari tadi hanya bisa terdiam. Senyumnya mengukir bahagia. Namun hatinya tidak bisa dibohongi. Dia sedih karena detik demi detik terus saja berlalu. Bukan tidak mungkin, setelah semua proses itu selesai, wanita ini akan mengusirnya. Menjauhkan dia dari putra pertamanya. Lalu menuntutnya untuk .....


***


To be continued.

__ADS_1


Aku mau promo sekalian, ya. Aku punya judul baru di lapak hijau (K BM). Judulnya ‘Bayang Suram Mentari’ masih ada 4 bab. plis kalau mau lihat jangan typo nulisnya supaya ketemu. Ceritanya pakai sudut pandang orang pertama, dengan menggunakan kata ‘aku’ mungkin akan menciptakan cerita yang lebih mendalam.


__ADS_2