
❤️ Happy Reading ❤️
Siang ini seperti biasa Aluna sudah kembali bekerja setelah kemarin cuti satu hari untuk pertunangannya.
''Lun, jangan angkat yang berat-berat atau tunangan kamu itu akan menutup toko bunga milikku.'' kata Ara saat Aluna hendak mengangkat kotak yang berisi banyak tangkai bunga di dalamnya.
''Apaan sih mbak Ara, orang ini gak terlalu berat kok dan lagian aku juga sudah sering ngelakuin ini.'' sahut Aluna.
''Itu dulu Aluna...tapi sekarang sudah beda.'' sahut Ara tak mau kalah. ''Tunangan kamu yang dingin itu sudah mengirim pesan dan meminta aku untuk tidak memberikan pekerjaan yang berat buat kamu atau dia benar-benar akan menutup toko bungaku.'' sambungnya dengan jika mengingat pesan yang berisi ancaman dari adik sepupunya itu.
''Tunggu mbak Ara dari tadi bilang tunangan-tunangan...tunangan siapa dan siapa yang punya tunangan?'' tanya tua mewakili seluruh pegawai yang juga penasaran dengan ucapan bos bersama salah satu rekan mereka itu.
''Tuh teman kalian yang sudah bertunangan kemarin.'' sahut Ara yang membuat semua kaget dan spontan menatap horor ke arah Aluna.
''Hehehe...maaf gak kasih tau kalian.'' kata Aluna nyengir. ''Soalnya hanya di hadiri sama kerabat dekat aja.'' imbuhnya lagi.
''Kerabat? kamukan gak punya kerabat?'' tanya Ria.
''Kerabat calon suami aku maksudnya Ri, orang acara juga di adain di rumah dia.'' jawab Aluna.
''Tapi tunggu kok mbak Ara sudah tau? dan kok tunangan kamu bisa kirim pesan sama ngancem mbak Ara?'' tanyanya lagi.
''Ya iyalah aku tau...orang tunangan dia adik sepupu aku.'' sahut Ara.
''Hah...'' beo mereka.
''Sudah ah sana pada kerja lagi.'' kata Ara mengintruksikan mengingat banyak sekali pesanan karangan bunga yang masuk.
''Iya mbak.'' jawab mereka lalu membubarkan diri.
''Ingat Lun jangan angkat yang berat-berat.'' peringat Ara sebelum benar-benar pergi dan masuk kedalam ruangannya.
''Iya.'' jawab Aluna.
...****************...
''Akhirnya selesai juga.'' kata mereka saat pekerjaan terakhir telah usai.
''Permisi.'' sapa seseorang yang baru saja masuk.
''Iya, ada yang bisa saya bantu?'' tanya salah satu pegawai yang keluar untuk menemui siapa gerangan yang datang.
''Pemilik tokonya ada?'' tanyanya. ''Saya ada perlu.'' katanya lagi.
''Oh ada, biar saya beri tahu dulu.'' kata pegawainya lagi. ''Kalau boleh tau sama siapa?'' tanyanya.
''Arsen.'' jawab Arsen yang memang sengaja datang ke toko bunga.
Sebenarnya bukan tujuan utamanya untuk menemui Ara, namun dia kesana untuk menjemput Aluna.
__ADS_1
''Ngapain kamu kesini?'' tanya Ara yang baru saja keluar.
''Mau ketemu Aluna kak.'' jawab Arsen jujur. ''Aku mau jemput dia lagian bentar lagi juga toko tutupkan.'' katanya lagi.
''Sudah aku duga...gak mungkin kamu mau nginjekin kaki kamu buat datang ke sini kalau gak ada maksud terselubung.'' sindir Ara.
''Alunanya ada kak?'' tanya Arsen.
''Ada di dalam.'' jawab Ara. ''Ayo masuk.'' ajaknya.
Ara pun masuk dengan Arsen yang berjalan mengekor di belakangnya.
''Lun, di cariin tunangan kamu sekaligus sepupu lucnut aku nih.'' kata Ara dengan melirik ke arah Arsen.
''Hah itukan tuan muda Arsen Narendra.'' lirih salah satu dari mereka kepada para temannya yang sedikit terkejut dengan kedatangan sosok tunangan rekan mereka.
''Kok kesini?'' tanya Aluna yang sudah berdiri di hadapan Arsen dan Ara.
''Mau jemput kamu.'' jawab Arsen.
''Kok gak kasih kabar dulu?'' tanyanya.
''Sengaja.'' jawab Arsen dengan entengnya.
Tak lama setelah itu toko pun tutup dan semua pesanan bunga pun sudah diambil tuannya.
...****************...
''Gak ah langsung pulang aja.'' jawab Aluna. ''Gerah banget pingin cepat mandi.'' sambungnya lagi.
''Oh oke.'' beo Arsen.
Tak butuh waktu lama mereka kini sudah sampai di kontrakan kecil yang Aluna tempati.
Cklek
''Masuk Ars.'' kata Aluna.
Tanpa menjawab...Arsen pun ikut masuk kedalam kontrakan satu ruangan itu.
''Aku tinggal mandi bentar ya...'' kata Aluna dan di angguki oleh Arsen yang kini duduk di ranjang milik Aluna.
''Walau pun kecil tapi masih untung kamar mandinya di dalam.'' gumam Arsen.
Begitu membuka pintu, pertama yang terlihat adalah ranjang kecil, lalu sebelah ranjang sisi kiri pas mepet tembok kalau sebelah kanan masih ada ruang tersisa yang Aluna beri lemari yang dan ada karpet lantai karena di sebelah pintu masuk ada televisi.
Kemudian ada pintu untuk kamar mandi dan di sebelah kamar mandi ada dapur kecil.
''Rajin juga.'' gumam Arsen saat memindahi seluruh ruangan menggunakan mata tajamnya. ''Eh kok aku baru sadar ya...padahal sudah ke sini beberapa kali.'' gumamnya lagi.
__ADS_1
Cklek
''Mau makan di sini gak Ars?'' tanya Aluna. ''Aku masakin ya?'' tawarnya lagi sebelum Arsen membuka mulutnya untuk menjawab.
''Em boleh, asal gak ngerepotin.'' jawab Arsen.
''Ngerepotin apa...lagian aku juga sudah biasa masak kayak gini.'' sahut wanita itu sambil mengambil beras untuk di cucinya.
Sambil menunggu nasinya matang, Aluna mulai mengeluarkan satu persatu bahan yang akan dia masak untuk makan malam berdua dengan Arsen.
Aluna memilih memasak ayam kecap dengan oseng kacang panjang untuk menu makan malam kali ini.
Arsen begitu terkesima melihat bagaimana kemampuan calon istrinya itu memasak, karena Aluna terlihat sangat begitu piawai menggunakan berbagi peralatan dapur sama seperti mommy dan omanya sama satu lagi Arsyila.
Matanya tak henti dan tak bosan memandang Aluna walaupun yang terlihat hanya bagian belakang tubuh wanita itu saja.
''Nyalain televisi aja Ars, biar kamu gak bosen sambil nunggu makanan siap.'' kata Aluna.
''Iya.'' sahut Arsen singkat.
Pemuda itu pun mulai menyalakan televisi seperti yang di katakan Aluna.
Tapi tetap saja tontonan yang ada di televisi tak mampu mengalahkan pesona yang telah di ciptakan Aluna di mata Arsen.
Bukannya menonton televisi tapi mata pemuda itu masih saja melihat ke arah dimana Aluna berada hingga bunyi dering ponsel miliknya dapat mengalihkan sejenak pandangannya.
''Dari siapa?'' tanya Aluna memberanikan diri untuk bertanya seusai Arsen menutup panggilannya, karena Aluna penasaran sebab pasalnya namanya tadi di sebut-sebut.
''Oh dari mommy, tanya kok belum pulang.'' jawab Arsen. ''Terus aku bilang kalau aku ada di tempat kamu sekalian bilang kalau gak ikut makan malam di rumah.'' sambungnya.
''Oh.'' beo Aluna.
...****************...
''Makanan siap.'' seru Aluna sambil berjalan membawa makanan di kedua tangannya menuju ke arah karpet lantai yang di mana di situ ada meja kecil yang bisa untuk menaruh makanan.
''Hem...kayaknya enak.'' kata Arsen.
''Di coba dulu...jangan buru-buru bilang enak kalau belum mencicipi rasanya.'' kata Aluna.
Semuanya sudah tertata, mulai dari sayur, nasi, pelengkapan makan serta minum untuk mereka berdua.
''Bagaimana?'' tanya Aluna.
''Seperti yang aku bilang...ini enak.'' jawab Arsen.
''Syukurlah kalau kamu suka.'' kata Aluna dengan senyum yang terbit di bibirnya.
Ada rasa kepuasan tersendiri saat makanan yang kita masak di hargai dan di sukai oleh orang yang memakannya.
__ADS_1