Tali Pernikahan

Tali Pernikahan
Bab 109


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


''Kamu...'' kata Nurma kaget saat melihat siapa orang yang baru saja masuk.


''Selamat pagi.'' sapa Aluna dengan santainya.


''Untuk apa ku kesini hah!'' bentak Nurma. ''Keluar kamu dari sini sekarang atau aku akan meminta satpam untuk menyeretmu dengan paksa.'' ancamnya.


Bukannya takut...tapi Aluna malah berjalan semakin mendekat.


''Kenapa ada rapat dewan direksi perusahaan namun tak mengundangku?'' tanya Aluna sehingga membuat semua orang bertanya-tanya siapa dirinya...kenapa hati di undang.


''Heh siapa kamu...'' kata Nurma dengan senyum mengejeknya.


''Aku...'' kata Aluna dengan menunjuk dirinya sendiri. ''Aku adalah pemilik saham terbesar disini.'' sambungnya lagi.


''Pfffttt...hahahaha...'' Nurma tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Aluna. ''Waow...Aluna...candaanmu sama sekali gak lucu.'' sambungnya lagi. ''Dari pada kebanyakan menghalu...lebih baik kamu keluar dari sini.'' kata Nurma lagi. ''SEKARANG!!!'' sentaknya yang membuat Aluna sampai menutup matanya beberapa saat karena kaget.


''Ck...CK...CK...nona Nurma yang terhormat...sayangnya aku sedang tidak menghalu.'' kata Aluna dengan tatapan tajamnya.


''Maaf sebelumnya nona Nurma, tapi apa yang di katakan oleh nyonya Aluna memang benar adanya.'' kata Loli menyela pembicaraan dua orang yang sebenarnya saudara satu ayah itu.


''Lelucon macam apa ini!'' sentak Nurma. ''Ada yang lebih penting harus kami urus saat ini...jadi hentikan celotehan tidak bermutu kalian.'' kata Nurma masih dengan sombongnya. ''Sekarang pergi dari sini...PERGi!'' usirnya.


Bahkan Nurma pun dengan sengaja mendorong Aluna.


Kejadian yang sangat cepat itu membuat Aluna tidak siap untuk menerimanya sehingga membuat tubuhnya terdorong kebelakang dan akan terjatuh.


Loli serta Gio yang tak tau bahwa Nurma akan melakukan hal itu pun begitu kaget di buatnya.


''Akh...''

__ADS_1


Grep


''Ars.'' lirih Aluna, karena kenyataannya dia tak jadi jatuh ke lantai karena ada suaminya. ''Kamu sudah datang?'' tanyanya.


''Lain kali hati-hati, kalau kamu sampai terluka gimana.'' kata Arsen.


Sedangkan Diki yang ada di belakang Arsen menatap tajam pada Loli...adik sepupunya itu, karena menganggap Loli begitu lalai bahkan di hari pertamanya sebagai seorang asisten.


''Tu...tuan muda Narendra.'' sapa mereka yang ada di ruangan tersebut setelah melihat siapa yang datang.


''Siapa yang telah berani dengan lancang mendorong tubuh istriku.'' kata Arsen dengan rahang yang mengeras dan tangan yang terkepal.


''Ars.'' panggil Aluna dan menggelengkan kepalanya begitu Arsen melihat kearahnya. ''Ingat tujuan kita kesini.'' lirih Aluna.


''Kenapa sampai ada kejadian istriku...nyonya muda Narendra di dorong seperti ini?'' tanya Arsen dengan nada dingin plus tatapan yang mengintimidasi pada semua orang yang ada di sana.


''Anu...itu tuan...'' kata salah seorang peserta meeting yang ingin menjawab pertanyaan Arsen.


''Kalau kami tidak mau.'' kata Arsen dengan senyum meremehkannya.


''Heh jadi begini kelakuan keluarga Narendra yang katanya orang terhormat, konglomerat tapi sama sekali tak punya sopan santun.'' sahut Nurma. ''Masuk ke ruang meeting perusahaan orang dengan seenaknya sendiri.'' sambungnya lagi.


Melihat orang-orang yang ada di depannya membaut Nurma marah dan begitu muak, sebab karena merekalah saat ini hidupnya berantakan...orangtuanya pun harus mendekam di jeruji besi untuk waktu yang sangat lama.


Apalagi dengan kecaman publik yang membuat dirinya mengalami sangsi sosial akibat video sekandalnya yang tersebar begitu saja di jagad maya.


Walaupun tak ada bukti namun Nurma yakin bahwa ini pasti perbuatan Arsen Narendra, sebab dirinya sangat sulit untuk meredam semua itu serta sangat sulit melacak siapa orang yang ada di balik layar...dan itu hanya bisa di lakukan oleh orang-orang berkuasa salah satunya seperti keluarga Narendra.


''Dan anda gak berhak mengusir kami...karena pada kenyataannya bukan keluarga anda yang sekarang memegang kekuasaan tertinggi di perusahaan ini.'' tutur Arsen dengan sangat enteng. ''Gio...tunjukkan semuanya.'' perintah Arsen.


''Maaf semua...perkenalkan saya Gio Afriansyah...saya di sini adalah sebagai pengacara keluarga Narendra.'' kata Gio berbasa-basi sebentar. ''Nyonya muda Aluna Narendra ini tidak lain dan tidak bukan adalah pemilik saham perusahan tertinggi disini.'' paparnya.

__ADS_1


''Tidak mungkin...ini sama sekali tidak benar.'' sanggah Nurma yang masih belum bisa percaya.


''Ini buktinya.'' kata Gio dengan menyodorkan kertas pada Loli dan Diki untuk membagikannya ke semua pemegang saham yang ada di ruangan itu saat ini.


''Enggak...ini pasti kalian memanipulasi semuanya.'' kata Nurma sambil menggelengkan kepalaku saat melihat apa yang tertulis di kertas photo copy bukti kepemilikan saham atas nama Aluna.


''Tapi ini kenyataannya Nurma.'' sahut Aluna. ''So, jadi saya sudah dapat di pastikan untuk bisa mengikuti rapat ini.'' kata Aluna lagi. ''Jadi rapat ini membahas tentang apa?'' tanya Aluna lagi setelah duduk di kursi yang di sediakan oleh Loli.


''Kami sedang membahas saham perusahan yang terus menurun.'' jawab salah satu dari mereka.


''Oh.'' beo Aluna. ''Berhubung saya yang memiliki saham tertinggi di sini yaitu 56%, jadi saya mau mengambil alih tampu kepemimpinan di perusahan ini.'' kata Aluna.


''Tidak bisa.'' kata Nurma. ''Kamu tidak tau apa-apa...perusahan ini akan semakin bangkrut jika kamu pegang nantinya.'' katanya lagi.


''Em begitu ya.'' kata Aluna dengan santainya. ''Saya bisa menghandle perusahan ini...ya walaupun saya tau saya masih terlalu awam dan belum mengerti apapun tentang bisnis atau perusahaan ini.'' katanya lagi. ''Tapi saya punya suami yang bisa membantu saya.'' imbuhnya. ''Em tapi saya juga tak ingin memaksa...kalian bisa pilih salah satu...saya yang memimpin perusahaan atau saya menarik semua saham saya dari perusahan ini.'' katanya lagi memberi pilihan.


Setalah beberapa saat berbisik-bisik...akhirnya mereka semua kecuali Nurma memutuskan untuk memilih agar Aluna yang memimpin perusahaan.


''Good...pilihan yang tepat.'' kata Aluna. ''Bukan begitu nona muda Handoyo?'' tanya Aluna pada Nurma. ''Uuppss salah...bukan nona muda Handoyo tapi nona Nurma.'' kata Aluna.


''Apa maksudmu?'' tanya Nurma.


''Karena pada kenyataannya sama sekali tak ada darah Handoyo di dalam tubuhmu.'' kata Aluna. ''Sebab...nama Handoyo dan perusahan ini adalah milik keluarga ibuku...dan ayahmu itu...tuan Rendi hanya menumpang menggunakan nama Handoyo begitu menikah dengan ibuku...Alina Handoyo karena dirinya sama sekali tak punya nama belakang.'' sambungannya.


Nama belakang yang di maksud di sini adalah nama keluarga.


Sedikit cerita...Rendi Handoyo tak memiliki keluarga saat menikah dengan Alina Handoyo, karena pada kenyataannya dia hanya berasal dari panti asuhan yang tak sengaja bertemu dengan Alina saat melamar pekerjaan sebagai supir kelurga Handoyo.


''Tidak mungkin.'' kata Nurma yang masih belum percaya. ''Kau...kau hanya membual.'' kata Nurma lagi dengan tangan yang sudah menunjuk ke arah Aluna.


''Terserah padamu mau percaya atau tidak...tapi yang jelas AHY adalah singkatan dari nama ibuku...Alina Handoyo yang kakekku gunakan untuk nama perusahan ini.'' jelasnya. ''Dan memang sejak awal...akulah yang seharusnya di sini...karena aku...Aluna Handoyo.'' imbuhnya dengan penuh penekanan dan juga senyum kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2