
❤️ Happy Reading ❤️
''Khem.'' suara deman dari mommy shanum mengalihkan perhatian seluruh anggota keluarga yang baru saja selesai memakan sarapan pagi mereka di pagi yang cerah ini.
Ketiga pasang mata langsung menatap ke arah mommy Shanum.
''Ax, apa nanti siang kamu bisa pergi ke butik buna Aurora?'' tanya mommy Shanum.
''Ngapain mom?'' tanya Axel yang tak langsung menjawab pertanyaan sang mommy.
''Kaliankan sebentar lagi akan menikah jadi kalian akan fitting pakaian pernikahan siang nanti.'' jawab mommy Shanum.
''Kok mendadak sih mom ngomongnya...aku hari ini sibuk.'' sahut Axel.
''Luangkan waktumu saat makan siang Ax.'' kata daddy Arya.
''Hem baiklah.'' sahut Axel dengan terpaksa.
''Kila sayang...kamu bisakan?'' tanya mommy Shanum pada calon menantunya.
''Bisa mom.'' jawab Shakila.
''Bagus, jadi nanti kamu jemput Kila dulu Ax baru ke butik.'' kata mommy Shanum lagi.
''Eh gak usah mom, biar aku langsung kesana saja nanti.'' sahut Shakila. ''Kasihan Axel kalau harus bolak-balik.'' sambungnya.
''Ya terserahlah kalau itu mau kalian, yang penting nanti kalian harus datang ke butik...buna nunggu kalian.'' kata mommy Shanum. ''Buna sampai bela-belain turun tangan langsung untuk membuat pakaian pengantin kalian berdua...jadi mommy dan daddy harap jangan kecewakan dia.'' sambungnya lagi mewanti-wanti putra dan calon menantunya.
''Iya mom.'' sahut keduanya berbarengan.
''Ya sudah sana kalian kalau mau berangkat...nanti kesiangan dan kena macet lagi.'' kata mommy Shanum.
''Iya mom, dad...Axel berangkat dulu.'' pamit Axel sambil menyalami tangan kedua orangtuanya.
Hal yang serupa pun di lakukan oleh Shakila.
''Mau bareng Kil?'' tanya Axel saat mereka berdua sedang berjalan menuju ke arah pintu depan.
''Oh gak usah...aku bawa mobil sendiri saja, terimakasih Ax atas tawarannya.'' jawab Shakila.
__ADS_1
''Kil.'' panggil Axel.
''Iya.'' sahut Shakila yang refleks menoleh ke arah Axel.
''Aku minta maaf ya buat yang kemarin.'' ucap Axel yang membuat Shakila memicingkan alisnya.
'''Buat apa?'' tanya Shakila.
''Maaf karena kemarin aku gak bisa jemput kamu.'' jawab Axel. ''Aku ada urusan penting soalnya.'' sambungnya lagi memberi alasan.
''Oh itu gak apa-apa kok, lagian aku juga sudah terbiasa pergi atau pulang dan kemana-mana sendiri jadi kami gak perlu minta maaf begitu.'' jawab Shakila dengan santai.
''Kamu gak marahkan?'' tanya Axel lagi, yang entah kenapa tiba-tiba kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
''Marah?'' tanya Shakila. ''Ya enggaklah...santai aja lagi Ax.'' ujar gadis itu. ''Aku berangkat duluan ya...gak enak sama yang lain pasti sudah pada berangkat ke ruko.'' pamitnya degan wajah ceria.
''I..iya...ini aku juga sudah mau berangkat kok.'' sahut Axel dengan terbata di awal katanya karena secara tidak sadar dirinya telah terpesona oleh senyum manis dari Shakila, pandangannya pun tak lepas dari Shakila sampai sang empunya masuk dan mengendarai mobilnya.
''Oh **** aku harus ke apartemen Rossi dulu untuk memastikan keadaannya.'' kata Axel yang tiba-tiba teringat dengan kekasihnya saat mobil Shakila sudah mulai jalan menuju ke luar gerbang.
...****************...
Bip
Cklek
''Di kamar honey.'' sahut Rossi.
Cklek
''Selamat pagi...bagaimana keadaan kamu? sudah baikkan?'' tanya Axel.
''He'em sudah lumayan lebih baik honey.'' jawab Rossi. ''Ngomong-ngomong itu kamu bawa apa honey?'' tanyanya dengan mata yang melirik kearah kantong belanjaan yang di bawa oleh Axel.
''Oh ini aku bawakan buah sama bubur ayam untuk sarapan kamu.'' jawab Axel. ''Tapi maaf honey aku gak bisa menemani kamu sarapan pagi ini, karena aku ada meeting pagi.'' kata Axel penuh sesal.
''Gak apa-apa honey, pekerjaanmu lebih penting.'' sahut Rossi sok penuh rasa perhatian.
''Kamu beneran gak apa-apakan honey kalau aku tinggal?'' tanya Axel untuk memastikan.
__ADS_1
''Iya aku gak apa-apa...hanya sedikit masih lemas saja...jangan khawatir.'' jawab Rossi.
Lemas karena permainan gilanya dengan sang kekasih bukan karena sakit.
''Baiklah kalau begitu aku kerja dulu.'' pamit Axel. ''Tapi ingat kalau ada apa-apa kamu harus segera menghubungi aku.'' imbuhnya lagi.
''Baik honey.'' jawab Rossi.
Axel akhirnya meninggalkan Rossi dan pergi ke perusahaan AN grup yang saat ini di pimpinannya.
Antara tega dan gak tega tapi ya mau bagaimana lagi dirinya juga mempunyai tanggung jawab yang harus di lakukannya.
''Axel...kamu itu sudah bikin aku panik tau gak.'' sentak Hanan sampai tak memakai embel-embel tuan muda pada Axel.
Pasalnya orang yang menjadi asisten seorang Axel Arsha Narendra itu sedari tadi sudah berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan Axel sambil terus menghubungi sang atasan menggunakan ponsel miliknya.
''Dihubungi dari tadi gak bisa dan klien juga sudah memberi kabar bahwa mereka sudah ada di jalan menuju ke sini.'' omel Hanan lagi.
''Iya kah?'' kata Axel sambil merogoh ponsel yang ada di sakunya. '' Oh maaf kak ponselnya ke silent jadi aku gak tau.'' terang Axel setelah mengecek ponsel miliknya.
''Hampir saja aku menghubungi mommy.'' sungut Hanan.
''Hehehe...maaf kak.'' ucap Axel lagi.
''Nih kamu pelajari dulu berkasnya sebelum klien kita datang.'' kata Hanan lagi sambil menyerahkan satu berkas pada Axel.
...****************...
''Ax, sebenarnya aku masih penasaran tadi pagi itu kamu kemana?'' tanya Hanan begitu selesai setelah satu setengah jam meeting dengan klien. ''Gak biasa-bisanya telat.'' imbuhnya lagi.
''Huh...aku dari apartemen Rossi kak.'' jawab Axel.
''Dia lagi.'' gumam Hanan. ''Ngapain sih kamu kesana?'' tanyanya.
''Rossi sakit kak, makanya aku mampir dulu.'' jawab Axel.
''Ax, semua bukti yang sudah kita berikan ke kamu...lebih baik kamu selidiki dan pelajari baik-baik.'' saran Hanan. ''Aku cuma gak mau kamu menyesal dan kecewa terlalu dalam nantinya.'' imbuhnya lagi.
''Kalian itu emang dasarnya gak suka sama Rossi, jadi kalian cari-cari kesalahannya padahal Rossi juga gak ada salah sama kalian.'' bantah Axel.
__ADS_1
''Aku harap mata kamu segera kebuka Ax.'' sahut Hanan geram. ''Gak ada saudara apalagi orangtua yang mau menghancurkan anak atau saudaranya sendiri...semuanya hanya ingin yang terbaik untukmu Ax.'' ujar Hanan. ''Kalau keyakinan kamu itu memang benar...silahkan coba kirim orang untuk memantau Rossi beberapa saat...bukti dan kenyataan apa nanti yang akan kamu dapatkan.'' sambungnya lagi lalu berdiri dari duduknya hendak keluar dari ruangan Axel. ''Pikirkan kata-kataku Ax.'' imbuhnya lagi lalu benar-benar pergi dari hadapan Axel.
''Mereka itu pada kenapa...sampai segitunya gak suka sama Rossi.'' gumam Axel sepeninggal Hanan. ''Tapi akan aku pikirkan ide dari kak Hanan...bukan karena aku gak percaya pada Rossi tapi karena aku ingin buktikan bahwa semua itu tidak benar.'' gumamnya lagi.