
❤️ Happy Reading ❤️
''Begini dad...'' sahut mommy Shakila.
''Biar Arsen saja yang jelaskan mom.'' potong Arsen.
''Iya kami memang butuh penjelasan darimu.'' kata daddy Axel yang kemudian mendudukkan tubuhnya. ''Duduk.'' perintahnya.
Arsen dan Aluna pun langsung duduk di hadapan seluruh anggota keluarga bak seorang tersangka...ya memang mereka jadi tersangka sih hati ini...
Ada rasa takut sekaligus malu di benak Aluna, sehingga untuk mengangkat wajahnya pun dirinya tak mampu.
Arsen pun merasa demikian namun sebagai seorang laki-laki dirinya masih bisa menegakkan kepalanya untuk mempertanggung jawabkan semua itu.
''Jelaskan.'' kata daddy Axel lagi.
Arsen mulai menceritakan dari awal mula kejadian yang dimana tiba-tiba dirinya merasakan ada sesuatu yang berbeda sampai dirinya berakhir di kamar dan melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya pada Aluna.
Mommy Shakila, Arsyila dan oma Shanum sampai menutup mulut mereka karena kaget dan syok mendengarkan semua itu.
''Tapi Arsen akan mempertanggung jawabkan semua itu dad.'' kata Arsen. ''Arsen akan segera menikahinya.'' tuturnya lagi.
''Harus dan secepatnya.'' tegas daddy Axel. ''Karena daddy gak mau kalau sampai perutnya besar duluan baru kamu menikahinya...hal ini adalah pertama kalinya yang terjadi di keluarga Narendra.'' kata daddy Axel. ''Jujur daddy dan semuanya cukup kecewa denganmu Arsen, tapi apa boleh buat...semuanya sudah terlanjur terjadi.'' sambungnya lagi.
Mommy Shakila yang seakan mengerti dengan perasan Aluna karena memang sesama wanita, langsung menghampirinya.
''Maafkan putra mommy ya sayang...'' ucap mommy Shakila sambil memeluk tubuh Aluna.
Kedua wanita beda generasi itu sama-sama menangis.
''Lihat apa yang kamu lakukan.'' kata daddy Axel. ''Kamu telah membuat mommymu menangis, wanita yang daddy cintai dan paling daddy jaga perasaannya selain Oma saat ini meneteskan air mata kecewanya...air mata yang paling daddy hindari serta paling daddy benci ketika keluar dari mata mommy kamu.'' kata daddy Axel.
''Maaf dad.'' lirih Arsen.
''Sayang, nama kamu siapa?'' tanya mommy Shakila.
''Aluna nyonya.'' jawab Aluna.
''Jangan nyonya dong sayang...tapi mommy, karena sebentar lagi kamu akan menikah dengan Arsen...putra mommy.'' kata mommy Shakila lagi.
''Ba...baik...m...mommy.'' kata Aluna.
''Rumah kamu dimana sayang? biar kami datang ke rumahmu dan bertemu dengan kedua orangtuamu.'' tanya mommy Shakila. ''Kami akan meminta dirimu baik-baik kepada kedua orangtuamu...kami ingin melamarmu.'' tuturnya lagi.
__ADS_1
Aluna hanya diam...jujur dirinya sangat bingung harus menjawab apa saat ini.
Ingin menjawab tak punya orangtua, tapi nyatanya dia masih memiliki seorang papa, walau kenyataannya dia seperti layaknya seorang yatim piatu.
''Aku tinggal sendiri di kontrakan mom.'' jawab Aluna pada akhirnya. ''Tak ada keluarga, apalagi orangtua.'' imbuhnya.
''Ya ampun sayang, maafkan mommy...mommy gak tau.'' kata mommy Shakila merasa bersalah. ''Sekarang jangan bilang tak punya keluarga lagi...karena kamilah keluargamu sekarang dan mommy serta daddy orangtuamu saat ini.'' tuturnya dengan sangat lembut.
''Khem...halo calon kakak ipar.'' sapa Arsyila yang sudah mendekat kearah sang mommy. ''Kenalin...aku Arsyila...bisa di panggil Syila, aku adalah adiknya kak Arsen.'' katanya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. ''Lebih tepatnya...aku saudari kembarnya.'' sambungnya lagi.
''Aku Aluna.'' kata Aluna memperkenalkan diri.
''Ngomong-ngomong aku kayak familiar deh sama dress-nya...'' kata Syila sambil melihat secara menelisik ke arah Aluna sampai membuat Aluna merasa risih.
''Tentu aja familiar, orang mommy ambil dari lemari kamu.''' sahut mommy Shakila.
''Pantas saja.'' sahut Syila.
''Maaf.'' ucap Aluna yang merasa tak enak hati.
''Oh gak apa-apa kok kakak ipar, buat kakak ipar saja...aku gak keberatan kok.'' kata Syila. ''Lagian aku juga lupa kapan belinya dan itu sama sekali bukan dress bekas.'' sambungnya.
''Nanti aku ganti.'' sahut Arsen.
Sepeninggal Syila, mommy Shakila langsung memperkenalkan Aluna pada anggota keluarga yang lain.
''O iya Aluna, kok kamu bisa berada di rumah kami?'' tanya oma Shanum.
''Saya salah satu karyawan dari toko bunga A florist oma.'' jawab Aluna.
''Oh kamu ini salah satu karyawan Ara.'' kata oma Shanum.
''Iya benar sekali oma.'' jawab Aluna. ''Maaf...apa saya sudah boleh pulang?'' tanya Aluna dengan hati-hati. '' Soalnya saya harus kerja siang ini.'' sambungnya.
''Gak usah, nanti biar oma yang bilang sama Ara.'' kata oma Shanum.
''Ah tidak usah oma.'' cegah Aluna. ''Biar Luna sendiri saja nanti yang meminta ijin sama mbak Ara.'' sambungnya.
''Hem baiklah, tapi kamu beneran harus istrirahat dan gak boleh kerja siang ini.'' kata oma Shanum.
Sebagai sesama wanita oma Shanum dan mommy Shakila cukup paham dengan keadaan Aluna saat ini.
Pasti tubuh dan terlebih pusat intinya terasa sakit serta tak nyaman karena baru melakukannya untuk yang pertama kali apalagi ini dengan situasi paksaan.
__ADS_1
Meraka juga paham, pasti hati...pikiran serta perasan Aluna jauh lebih sakit dan lelah.
...****************...
Setelah selesai membicarakan pernikahan mereka dan Aluna memilih untuk berpamitan pulang yang tentunya akan di antar oleh Arsen.
Arsen ingin tau dimana alamat tempat tinggal calon istrinya.
''Mana rumah kamu?'' tanya Arsen saat Aluna memintanya untuk menghentikan laju kendaraannya.
''Itu.'' tunjuk Aluna. ''Kontrakan pinggir kanan.'' kata Aluna. ''Aku masuk dulu dan kamu bisa pulang.'' kata Aluna yang sepetinya enggan untuk meminta Arsen mampir ke tempatnya.
''Tunggu.'' cegah Arsen saat Aluna hendak membuka pintu mobilnya. ''Mana ponsel kamu?'' tanya Arsen.
''Untuk apa?'' tanya Aluna.
''Sudah sini berikan.'' kata Arsen.
Mau tak mau Aluna pun memberikan ponsel miliknya pada Arsen.
Pemuda itu mengetik lalu menghubungi ponselnya sendiri.
''Itu nomor aku.'' kata Arsen.
''Hem.'' sahut Aluna lalu benar-benar turun dari mobil Arsen.
Tapi sangat bukannya pergi, Arsen malah ikut turun dan berjalan mengekor di belakang Aluna.
''Kamu ngapain?'' tanya Aluna.
''Tentu saja aku mengikutimu, karena aku ingin tau bagaimana keadaan tempat tinggal calon istriku.'' jawabnya dengan sangat enteng.
''Terserahlah.'' kata Aluna dengan malas.
Cklek
Aluna hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar saat Arsen langsung menerobos masuk ke dalam saat pintu baru saja di buka oleh Aluna.
''Ah...aku lapar.'' keluh Arsen. ''Bisa tolong buatkan aku sesuatu?'' pintanya.
Karena sibuk membahas tragedi serta rencana pernikahan mereka, Arsen dan Aluna sampai tak memakan makanan sedikitpun dari tadi pagi, padahal tenaga mereka berdua sudah terkuras habis saat pertempuran semalam.
''Hem baiklah, tunggu sebentar.'' jawab Aluna yang juga merasa lapar.
__ADS_1
Sambil menunggu Aluna yang sedang memasak, Arsen memilih untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur kecil milik Aluna sambil menonton televisi.