Tali Pernikahan

Tali Pernikahan
Bab 44


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


''Makan yang banyak ya...'' kata Axel sambil meletakkan lauk dan sayur di piring Shakila. ''Biar nanti kuat kalau aku makan kamu...'' imbuhnya yang membuat mata Shakila langsung melotot ke arahnya.


''Hehehe...biasa aja dong sayang ngelihatnya.'' kata Axel di sertai kekehan.


''Kamu gak kembali ke perusahaan Ax?'' tanya Shakila yang sedang mencuci piring bekas makan mereka.


Ya di ruangan Shakila memang ada kitchen set kecil, hanya sekedar untuk mencuci peralatan makan saja.


''Nanti.'' sahut Axel. ''Aku masih kangen.'' ujarnya yang kini sudah memeluk Shakila dari belakang.


Shakila sedikit kaget dibuatnya, karena entah sejak kapan laki-laki yang bergelar suaminya itu sudah ada di belakangnya.


''Sayang...'' rengek Axel bak anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu. ''Boleh ya...'' katanya lagi yang membuat Shakila pasrah di buatnya.


Lagi dan lagi mereka mengarungi indahnya bercinta...hingga membuat mereka berdua melayang sampai ke puncak nirwana.


Tapi sebelumnya pintu ruangan sudah di kunci terlebih dahulu oleh Axel, agar tak ada yang masuk dan memergoki kegiatan mereka berdua.


Axel juga sudah mengirim pesan kepada sang asisten, yang membuat Hanan mengumpat di tempatnya saat ini.


''Dasar bos kalau sudah bucin ya gini ni...seenaknya saja.'' kesalnya.


Sedangkan yang di umpat sedang menikmati kegiatan yang dia lakukan saat ini.


Untung di ruangan Shakila ada kamarnya jadi mereka bisa bercinta dengan nyaman di sana, coba kalau gak...hem sudah dapat di pastikan Axel akan menerjangnya di mana saja dan membuat tubuhnya lebih remuk redam lagi.


Setelah pergulatan panas mereka, Shakila lebih memilih untuk membersihkan tubuhnya dan kembali melakukan pekerjaannya dengan memeriksa data yang di berikan oleh karyawannya sedangkan Axel...pria itu saat ini sudah tertidur lelap dengan tubuh polos yang hanya berbalut selimut saja.


Hingga setelah beberapa saat Shakila memilih untuk keluar dari ruangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya tadi.


Shakila keluar dengan rambut yang sudah kering serta pakaian yang sudah berganti dan hal itu sama sekali tak membuat para pegawainya curiga, karena memang kalau siang Shakila pasti mandi di sana setalah selesai berkutat dengan segala kegiatan di dapur.

__ADS_1


''Masih banyak pesanan Ren?'' tanya Shakila.


''Lumayan mbak.'' jawab Reni. ''Suami mbak Kila mana?'' tanyanya.


''Ada di atas, lagi tidur.'' jawab Shakila.


''Enak ya mbak jadi bos di perusahaan besar...bisa gak masuk seenaknya.'' kata Reni.


''Siapa bilang...'' kata Shakila. ''Beban dan tanggung jawabnya jauh lebih besar, karena lebih banyak orang yang bergantung padanya.'' sambungnya lagi. ''Dia itu sering lembur walupun di rumah kerjanya, liburan juga masih ngurusin kerjaan setiap hari...masih rapat virtual juga, tanda tangan ini itu menggunakan tanda tangan digital.'' lanjutnya. ''Belum lagi kalau ada perusahan cabang yang ada kendala dan mengharuskannya turun tangan langsung...mau gak mau harus segera berangkat...lembur terus, karena perusahan pusat tak mungkin bisa di tinggal lama-lama.'' imbuhnya lagi yang menceritakan kegiatan sang suami.


''Hah...melelahkan kayaknya ya mbak.'' sahut Riri. ''Mendingan kayak kita...walaupun gak kaya tapi pikiran juga gak terlalu ruwet dan mumet.'' imbuhnya dan di angguki oleh Reni.


''Eh tunggu-tunggu berarti honeymoon waktu itu mbak Kila juga di tinggal kerja dong?'' tanya Reni penasaran.


''Ya gitu deh.'' sahut Kila. ''O iya nanti kalau sudah waktunya pulang...kalian langsung pulang aja ya...gak usah nunggu aku turun.'' kata Shakila. ''Soalnya aku nunggu Axel sampai bangun...baru pulang.'' imbuhnya.


''Iya mbak.'' jawab Reni dan Riri bersamaan.


Kila kemudian melenggang ke arah dapur untuk membuat teh panas dengan menggunakan gelas yang tahan panas, agar saat Axel bangun tehnya masih tetap panas.


Cklek


''Dari mana?'' tanya Axel dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Dia masih berbaring di tempat tidur saat Kila masuk ke kamar pribadinya.


''Nih buat teh untuk kamu.'' kata Shakila sambil mengacungkan gelas yang di bawahnya.


''Sini.'' kata Axel sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.


Begitu Shakila mendekat, Axel meraih gelas yang ada di tangan Shakila dan meletakannya di nakas yang tepat ada di sebelahnya, lalu dia membawa kembali Shakila untuk tidur di sebelahnya.


''Ax...'' lirih Shakila saat suaminya itu saat ini kembali memeluknya.

__ADS_1


''Masih pengen kayak gini.'' ucapnya.


''Pulang aja yuk kalau gitu...'' ajak Shakila.


''Nanti aja.'' jawab Axel yang semakin menenggelamkan wajahnya di bagian tengah dada sang istri.


Tempat itu merupakan tempat ternyaman menurut Axel.


Shakila pun memberikan usapan lembut di kepala sang suami.


''Kil...'' panggil Axel dengan lirih.


''Hem.'' sahut Shakila.


''Pengen punya anak gak?'' tanya Axel tiba-tiba yang membuat Shakila sedikit tergelak.


Melakukan hubungan suami istri saja baru kemarin...eh tau-tau sudah bahas anak aja.


''Pengen gak?'' tanyanya lagi.


''Tentu saja.'' jawab Shakila. ''Memangnya kenapa Ax?'' tanya balik Shakila.


Semua orang yang aduhai menikah pasti menginginkannya.


''Aku juga pengen Kil...kayak Abang dan Alexa.'' jawab Axel. ''Kalau gitu kita harus lebih rajin dan lebih sering lagi membuatnya...'' kata Axel.


''Mesum.'' cibir Shakila.


''Ya kalau gak mesum gak bakal jadi dong Kil anaknya.'' sahut Axel membela diri. ''Aku sudah gak sabar ingin lihat perut kamu besar seperti Alexa.'' katanya lagi dengan salah satu tangan yang kini sudah mengelus perut rata Shakila. ''Aku juga sudah tidak sabar menanti masa ngidam kamu nantinya.'' sambungnya lagi.


''Tapi nanti kalau aku ngidamnya aneh-aneh...kamu jangan protes apalagi ngeluh loh ya...'' peringat Shakila.


''Tentu saja sayang.'' jawab Axel dengan yakin. ''Semoga kamu cepet hadir dan tumbuh di perut mommy ya nak...'' kata Axel lagi dengan kembali mengelus perut Shakila dan di berikannya kecupan di sana.

__ADS_1


''Amin.'' sahut Shakila mengaminkan apa yang di katakan oleh Axel.


__ADS_2