Tali Pernikahan

Tali Pernikahan
Bab 19


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


''Seneng banget kayaknya.'' celetuk Axel saat bertemu dirinya akan masuk kedalam mobil mewahnya yang kebetulan bersebelahan dengan mobil sang asisten...ya memang bagian basecamp parkir itu khusus untuk orang yang paling berkedudukan tinggi di perusahaan bersama sang asisten setia.


''Iya dong akan sudah mau pulang.'' sahut Hanan.


''Biasanya kalau jam pulang juga gak seseneng itu.'' cibir Axel.


''Ini beda Ax, aku ada janji sama Elda.'' jawab Hanan.


''Huh pantesan.'' sahut Axel.


''Kamu sendiri? langsung pulang?'' tanah Hanan.


''Mau jemput Shakila dulu ke rukonya baru pulang.'' jawab Axel.


''Cie...ada yang sudah mulai perhatian nih...'' ledek Hanan.


''Bukan perhatian tapi lebih tepatnya males ribet.'' kata Axel. ''Ya dari pada dia bikin ulah kayak semalem...aku jugakan yang repot.'' imbuhnya.


''Ya...ya...ya...khem aku pergi dulu ya Ax.'' pamit Hanan lalu masuk ke dalam mobilnya setelah mendapatkan anggukan kepala dari Axel.


''Aku harap kamu bisa lepas dari Rossi Ax.'' gumam Hanan di dalam mobilnya. ''Wanita itu tak baik untukmu.'' sambungnya lagi. ''Kamu saja yang terlalu bodoh dan dibutakan oleh cinta sehingga menutup mata dari semuanya...bahkan semua bukti yang kami berikan pun sama sekali tak terlihat olehmu.'' gumamnya lagi lalu melakukan kendaraan miliknya.


''Huh... kayaknya kak Hanan memang seneng banget.'' gumam Axel. ''Argh kenapa juga kisah cinta aku sama Rossi gak semulus kisah cinta kak Hanan sama kekasihnya.'' keluhannya lalu dengan rasa yang sangat malas dirinya masuk ke dalam mobil dan melajukannya begitu mobil Hanan sudah mulai bergerak.


...****************...


Krincing...krincing...


Bunyi suara krincing mainan yang bergerak karena bergesekan dengan pintu masuk yang terbuka sehingga membuat semua karyawan yang ada di ruangan depan langsung menoleh.


Disana mereka melihat sosok pria tampan yang mengenakan kemeja yang sudah di gulung bagian tangannya sampai sebatas siku...hem semakin menambah kesan maskulin yang terlihat...apalagi ditambah dengan postur tubuh tinggi yang tegap plus kekar dengan otot-otot tubuh yang tercetak di balik kemeja...macho pokoknya.


''Khem.'' dehem Axel saat semuanya diam dengan mata yang terus menetap ke arahnya.


''Eh iya...ada apa pak...eh mas...'' kata Riri yang baru tersadar dari keterpesonaannya padahal tadi pagi mereka juga sudah berjumpa, hanya bedanya tadi pagi Axel memakai pakaian lengkap dengan jas mahalnya.


''Shakila mana?'' tanya Axel.


''Ada di ruangannya.'' jawab Riri. ''Mau saya panggilkan?'' tawarnya.


''Gak perlu, biar saya sendiri.'' kata Axel yang kemudian mengayunkan langkahnya kearah tangga untuk mencapai ke lantai atas dimana ruangan Shakila berada.


''Gila tunangan mbak Kila tampan banget.'' kata Riri begitu Axel sudah tak terlihat.


''Iya apalagi badannya...ugh bagus banget.'' sahut rekannya yang lain.


''Wish pasti tu perut kayak roti sobek deh...jadi pengen gigit.'' kata yang lainnya.


Sedangkan Axel yang sudah sampai di depan ruangan Shakila pun langsung mengetuknya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


''Masuk.'' seru Shakila.


Cklek


Begitu pintu terbuka langsung terlihat sosok tinggi tegap di sana.


''Kamu.'' kaget Shakila.


''Mbak, kalau gitu aku keluar ya...'' pamit Reni.


Shakila dan Reni sedang membahas perkembangan toko online mereka.


''Eh iya Ren.'' sahut Shakila. ''Ada apa? kenapa kesini?'' tanya Shakila beruntun pada Axel setelah Reni keluar dari ruangannya.


''Memangnya aku gak boleh datang kesini?'' tanya balik Axel setelah mendudukkan bokongnya di kursi depan Shakila yang tadi di tempati oleh Reni.


''Ya gak gitu.'' sahut Shakila. ''Hanya aneh saja.'' sambungnya lagi.


''Berkunjung ke tempat kerja tunangan sendiri, aneh ya...'' ucap Axel yang membuat Shakila sedikit mendengus.


''Cih tunangan.'' kata Shakila. ''Kemarin-kemarin kemana saja...'' cibirnya.


''Ke laut.'' sahut Axel sekenanya.


''Gak sekalian ke neraka jahanam...'' kata Shakila lagi.


''Ish...'' desis Axel. ''Aku mau jemput kamu...sudah mau pulang belum?'' tanya Axel.


''Bukan perhatian, tapi lebih tepatnya aku gak mau di repotin kamu kayak semalam.'' jawab Axel. ''Gara-gara kamu...aku jadi kena marah mommy dan hak jadi bertemu dengan kekasihku.'' sungutnya.


''Oh...'' beo Shakila.


Walaupun belum tumbuh cinta di hati Shakila, tapi hati wanita mana yang tak sakit bila mendengar tunangannya akan bertemu dengan kekasihnya dan itupun di ucapkan secara langsung di hadapannya.


''Jadi gimana?'' tanya Axel lagi.


''Aku masih ada sedikit kerjaan.'' jawab Shakila. ''Kalau kamu mau pulang...pulang duluan juga gak apa-apa.'' sambungnya.


''Oke, aku tunggu.'' sahut Axel. ''Aku gak mau datang degan sia-sia kesini.'' sambungnya.


''Terserahlah.'' sahut Shakila yang kembali memfokuskan pandangannya pada tumpukan kertas yang ada di hadapannya.


Tok


Tok


Tok


''Masuk.'' sahut Shakila tanpa mengalihkan pandangannya, begitu pula Axel yang tengah asik sendiri dengan ponsel di tangannya...tak perduli dengan apapun.


Cklek


''Mbak.'' panggil Reni yang mau tak mau membuat Shakila mendongakkan kepalanya. ''Kami pulang ya mbak...kerjaan sudah beres semua.'' kata Reni lagi.

__ADS_1


''Oh iya Ren, terimakasih untuk pekerjaan hari ini ya...'' ucap Shakila.


''Sama-sama mbak, permisi.'' pamitnya.


''Hem...hati-hati.'' kata Shakila lagi.


...****************...


''Masih lama gak?'' tanya Axel.


''Sebentar lagi.'' sahut Shakila. ''Kenapa?'' tanyanya kemudian. ''Kamu lapar?'' tanya Shakila yang mendengar bunyi dari perut yang keroncongan.


''Sedikit.'' sahut Axel.


''Mau aku buatin makanan?'' tawar Shakila.


''Memangnya di sini ada bahan makanan?'' tanya Axel.


''Aku itu jualan makanan...aneka Frozen food, ya pasti ada makananlah.'' jawab Shakila. ''Jadi mau gak?'' tawarnya lagi.


''Bolehlah, lagian aku juga kasihan sama cacing-cacing di perut aku yang sudah demo minta makan.'' jawabnya yang membuat Shakila geleng-geleng kepala.


''Tinggal bilang mau aja pakai gengsi segala bawa-bawa cacing.'' gumam Shakila dalam hati.


''Eh kamu mau kemana?'' tanya Axel saat melihat Shakila mulai berjalan.


''Mau ke dapur yang ada di lantai bawah untuk membuat makanan.'' jawab Shakila.


''Aku ikut.'' seru Axel.


Mereka berdua pun akhirnya menapaki satu persatu anak tangga untuk turun ke bawah menuju ke area dapur.


''Mau dimasakin apa?'' tanya Shakila sambil membuka pintu freezer.


''Emm apa ya...'' sahut Axel bingung.


''Mau aku masakin seblak atau bakso ayam, bakso sapi atau bakso aci mungkin?'' tanya Shakila.


Soalnya kalau ayam dan sejenisnya gak mungkin karena di sana tak ada nasi.


''Yang pas di rumah itu.'' kata Axel yang teringat dengan apa yang dimakan para saudara orang tuanya sewaktu dirinya pulang dari kantor.


''Oh seblak, mau yang pedes atau sedang?'' tanya Shakila lagi.


''Sedang aja.'' jawab Axel.


Shakila mulai membuka bungkus seblak dengan varian pedas yang sedang.


''Kenapa kamu milih jualan makanan siap saji gak yang lainnya?'' tanya Axel saat Shakila memulai mengolah makanannya.


''Karena makanan siap saji adalah makanan yang semakin hari semakin digandrungi oleh anak-anak muda...bersifat lebih praktis dan mudah dibuat.'' jawab Shakila.


''Gak ada niatan gitu buat kerja kantoran?'' tanya Exel lagi.


''Gak.'' jawab Shakila. ''Aku gak mau jadi pegawai yang bekerja di bawah perintah orang lain, dan aku juga ingin menciptakan lowongan pekerjaan untuk orang lain.'' sahutnya.

__ADS_1


''Memang berapa sih omset yang kamu dapatkan dalam satu bulan untuk usaha ini?'' tanya Axel. '' Enakan bekerja kantoran kamu tak pusing memikirkan untung dan rugi serta penghasilan pun tetap.'' imbuhnya.


__ADS_2