Tali Pernikahan

Tali Pernikahan
Bab 102


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


''Lun, ini adalah hari terakhir kita bisa ketemu sebelum kita menikah.'' kata Arsen karena mereka harus menjalani ritual pingitan selama tiga hari. ''Apa kamu gak mau cerita sama aku tentang keluarga kamu?'' tanya Arsen dengan hati-hati. ''Ini kita sudah akan menikah loh...kamu gak mau sedikit bisa terbuka dengan aku?'' tanyanya lagi.


''Aku kan sudah bilang kalau aku gak punya keluarga Ars.'' jawab Aluna tanpa ragu.


''Aku gak tau dengan apa yang telah kamu alami, tapi apa kamu gak mau mencoba untuk memberi tahu atau bahkan meminta restu kepada ayah kandungmu.'' kata Arsen lagi.


''Aku bilang aku gak punya keluarga Ars.'' kekeh Aluna.


''Oke, terus dimana makam ayah kamu? kenapa kita hanya mengunjungi makam ibu beserta kakek dan nenekku saja?'' tanya Arsen lagi.


''Aku gak tau.'' sahut Aluna dengan cepat.


''Ayahmu belum meninggalkan Lun?'' cecar Arsen.


''Sudahlah Ars, aku gak mau kita membahas hal ini lagi.'' kata Aluna. ''Kalau kamu ingin pernikahan ini tetap berlanjut...aku mohon jangan bahas hal ini karena ini hanya akan membuka kembali luka di dalam hatiku yang dengan susah payah berusaha aku sembuhkan.'' kata Aluna dengan mata uang sudah berkaca-kaca.


Grep


''Maaf...maafkan aku, harusnya aku gak terlalu mencecarmu.'' ucap Arsen dengan memeluk tubuh Aluna yang bergetar karena menangis. ''Aku akan menunggu sampai kamu sendiri mau terbuka padaku.'' sambungnya.


''Hiks...mereka jahat Ara...hiks...hiks...aku benci...aku benci.'' kata Aluna dalam tangisnya.


Hati Arsen seperti merasa tersayat melihat Aluna menangis seperti ini apalagi dengan kata yang yang di ucapkannya.


''Tenang saja...aku akan membalas apa yang telah mereka lakukan padamu.'' gumam Arsen dalam hatinya yang bergemuruh.


''Maaf.'' lirih Aluna menjauhkan tubuhnya dari Arsen.


''Kamu gak perlu minta maaf Lun.'' kata Arsen begitu Aluna sudah terlihat tenang. ''O iya aku pulang dulu ya dan jaga dirimu baik-baik.'' kata pesan Arsen.


''He'em.'' sahut Aluna.


''Sampai ketemu tiga hari mendatang calon istriku.'' kata Arsen yang membuat Aluna tersipu.


...****************...


Setelah kepergian Arsen...Aluna sudah menetapkan hatinya untuk pergi menemui sang ayah.


Namun bukan di rumahnya melainkan di perusahannya, karena Aluna yakin pasti pria paruh baya yang bergelar sebagai ayahnya itu masih berada di perusahan saat ini.


Dan tanpa sepengetahuan Aluna, ternyata Arsen sudah menempatkan salah satu anak buahnya untuk menjaga serta mengawasi Aluna.


Bukannya apa-apa, Arsen hanya tak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan pada wanita yang sebentar lagi akan bergelar sebagai istrinya itu.


''Permisi...apa bapak Rendi Handoyo ada di ruangannya?'' tanya Aluna pada resepsionis perusahaan.


''Maaf apa sudah membuat janji?'' tanyanya.

__ADS_1


''Belum.'' jawab Aluna.


''Maaf kalau begitu anda tak bisa bertemu, karena kalau ingin bertemu dengan beliau harus membuat janji terlebih dahulu.'' paparnya.


''Apa sebegini sulitnya untuk bertemu degan ayah sendiri.'' kata Aluna dalam hati.


''Maaf bisa tolong hubungi beliau dan bilang jika Aluna ingin bertemu.'' kata Aluna lagi.


''Baik akan saya coba nona.'' jawab sang resepsionis.


Sedangkan di dalam ruangan Rendi Handoyo yang di beri tahu oleh sekretarisnya sedikit merasa kaget saat di beri tau ada orang bernama Aluna ingin menemuinya.


''Mau apa dia kesini.'' gumam Rendi Handoyo. ''Suruh dia kesini.'' kata Rendi pada sekretarisnya karena penasaran dengan maksud kedatangan Aluna.


...****************...


Aluna tak perlu bertanya di lantai berapa dan di mana ruangan Rendi berada, karena dulu sewaktu kecil dia sering datang kesana bersama sang ibu.


''Nona Aluna?'' tanya sang sekretaris.


''Iya.'' jawab Aluna.


''Mari.'' katanya lagi.


Tok


Tok


Ckrek


''Permisi pak, nona Aluna sudah datang.'' akta sang sekretaris.


''Tinggalkan kami.'' kata Rendi.


''Baik pak, permisi.'' pamitnya.


''Untuk apa kamu datang ke sini?'' tanya Rendi tanpa basa-basi, bahkan menyuruh Aluna untuk duduk saja...tidak.


''Heh...apa begini jika seorang ayah yang sudah lama tak bertemu dengan anaknya.'' kata Aluna dengan nada getir. ''Bahkan untuk sekedar bertanya bagaimana kabarku saja tidak.'' sambungnya lagi.


''Aku tak punya banyak waktu untuk berbasa-basi.'' sarkas Rendi Handoyo. ''Jadi langsung katakan saja apa tujuanmu datang kesini...jangan terlalu banyak membuang waktuku.'' sambungnya.


''Baiklah aku akan bicara pada intinya saja.'' ujar Aluna. ''Aku akan menikah empat hari lagi...bisakah ayah datang dan menjadi waliku?'' tanya Aluna.


''Aku sibuk dan tak ada waktu untuk itu.'' kata Rendi yang terlontar begitu saja dan bagaikan belati tajam menghujam jantung serta hati Aluna.


Sebegitu tak berhargakah dirinya, hingga untuk datang dan menjadi wali di pernikahannya...ayahnya pun tak mau karena mengatakan sibuk karena lebih memilih pekerjaannya di bandingkan dirinya yang notabene adalah putri kandung dari pria tersebut.


''Oh.'' beo Aluna.

__ADS_1


Dengan sekuat hati, Aluna berjalan melangkah mendekat ke arah meja kerja Rendi Handoyo dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempang yang ia kenakan.


''Tolong tanda tangani ini.'' kata Aluna sambil menyodorkan selembar surat ke arah pria yang katanya ayahnya.


''Apa ini?'' tanya Rendi Handoyo.


''Surat pernyataan bahwa hak perwalian pernikahanku akan di berikan kepada wali hakim.'' jawab Aluna.


Tanpa menunggu lama Rendi pun langsung menandatanganinya.


''Kalau gak ada yang perlu di bicarakan lagi...silahkan keluar dari ruangan saya.'' usirnya sambil menyerahkan kertas Yangs duga di tanda tanganinya tadi.


''Baik terimakasih dan tolong restui pernikahanku.'' kata Aluna dengan menerima surat itu.


''Ya...ya...ya aku merestuimu.'' sahut Rendi Handoyo.


''Terimakasih dan permisi ayah.'' ucap Aluna yang langsung meninggalkan ruangan sang ayah.


Aluna berlari secepat mungkin agar segera sampai di dalam lift.


Aluna menumpahkan segala tangis yang sedari tadi sudah di bendungnya, untung saja di dalam lift itu hanya ada dirinya seorang.


...****************...


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di perusahaan AN grup...ada seorang pria yang terlihat begitu marah.


Padahal saat ini dirinya sedang ada di ruangan sang daddy bersama asistennya dan juga asisten sang daddy untuk membicarakan sebuah proyek yang penting.


Ya sesuai menemui Aluna, Arsen kembali lagi ke perusahaan.


''Sialan.'' umpat Arsen saat menerima laporan dari anak buahnya dengan tangan yang terkepal kuat.


''Ada apa Ars?'' tanya sang daddy saat putranya itu sudah menutup panggilan telponnya.


''Aluna dad.'' jawab Arsen. ''Aluna pergi ke perusahaan Rendi Handoyo dan keluar dalam keadaan menangis.'' sambung Arsen.


''Pergi dan temui dia...pasti saat ini dia sangat membutuhkan kehadiranmu.'' kata daddy Axel.


''Baik dad, Arsen pergi dulu.'' pamitnya.


Tanpa ba bi bu Arsen langsung tancap gas dengan cepat agar segera sampai ke tempat Aluna.


Dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada pertemuan wanita itu dengan sang ayah.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


''Aluna...Lun...'' panggil Arsen begitu sampai di kontrakan.


__ADS_2