Tali Pernikahan

Tali Pernikahan
Bab 18


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


''Siapa mbak?'' tanya Reni mewakili ke kepoan para karyawan yang lain.


''Tunangan Shakila.'' sahut Axel karena shakila hanya diam saja.


''Hah...'' seru mereka semua yang merasa cukup terkejut kerena setau mereka Shakila tak pernah dekat sama yang namanya laki-laki dan ini apa...tau-tau ada yang mengaku-ngaku sebagai tunangan bos mereka.


Selain mereka, Shakila juga kaget karena Axel mau mengakui dirinya sebagai tunangan padahal kalau di pikir hubungan mereka tak sebaik itu.


''Tutup mulut kalian, nanti kemasukan lalat baru tau rasa.'' kata Shakila.


''Aku pergi.'' kata Axel yang kemudian melangkah ke arah mobil setelah mendapatkan anggukan kepala dari Kila.


''Wah mbak...mbak punya utang penjelasan nih sama kita-kita...'' seloroh Reni.


''Beneran itu tunangan mbak Kila?'' tanya Riri.


''Iya.'' sahut Shakila. ''Sudahlah aku mau ke atas dulu.'' kata Kila menghindari godaan dari para karyawannya.


''Tumben tu orang ngakuin aku tunangannya...kesambet kalinya.'' gumam Kila sambil menaiki satu persatu anak tangga. ''Huh...gara-gara aksi heroiknya jadi rusak semua deh pintu aku...'' gumamnya lagi.


...****************...


''Siapa Ren?'' tanya Kila pada Reni saat turun kembali kebawah setelah Menganti pakaiannya.


''Oh ini katanya mau benerin pintu mbak sama orang tralis katanya.'' jawab Reni.


''Kami orang yang di panggil oleh tuan muda Axel nona.'' kata salah satu dari mereka.


''Saya telpon Axelnya dulu pak.'' kata Shakila karena di jaman sekarang inikan banyak sekali orang bertindak kejahatan dengan berbagai modus, jadi harus berjaga-jaga...itu penting...kejahatan terjadi karena adanya sebuah kesempatan.


Kila mengambil ponsel yang dia simpan di saku celananya dan langsung mencari kontak Axel.


Axel sendiri saat ini sedang merutuki kebodohannya sambil melajukan mobil menuju ke perusahan.


''Bodoh baget sih...'' rutuk Axel sambil memukul kepalanya. ''Bisa-bisanya keceplosan bilang kalau aku tunangannya...kenapa gak bilang temennya aja tadi.'' rutuknya lagi.

__ADS_1


Dan banyak lagi rutukan-rutukan yang terlontar dari mulutnya untuk dirinya sendiri, hingga dirinya sampai di basement perusahaan.


Saat baru turun dari mobil dan ingin melangkahkan kakinya...sudah terdengar bunyi ponsel yang ada di sakunya.


''Kila.'' gumamnya saat melihat nama si penelepon. ''Jangan bilang dia baper atau gr karena aku tadi bilang tunangannya.'' gumamnya lagi lalu menggeser ikon hijau karena ponsel itu terus saja berdering tiada henti.


📞''Ada apa?'' tanya Axel to the poin tanpa basa-basi.


📞''Halo Ax, ini ada orang yang bilang mau benerin pintu sama bikin teralis...apa benar suruhan kamu?'' tanya Shakila.


📞''Iya, tadikan aku sudah bilang.'' jawab Axel.


📞''Tapi kenapa panggil tukang teralis juga?'' tanya Shakila lagi.


📞''Buat pasang teralis di jendela sama pintu kamu, biar lebih aman.'' jawab Axel. ''Sudah, aku banyak kerjaan.'' katanya lalu langsung menutup panggilan telpon secara sepihak.


Axel cuma gak mau dengar protes-protes dari Shakila sehingga berujung dengan perdebatan yang tentu saja bisa mempengaruhi moodnya nanti...dia tidak mau itu...dia tidak mau moodnya buruh lagi yang berimbas pada pekerjaan karena hanya uring-uringan dan tak bisa konsentrasi.


''Huh...ya sudah langsung bapak kerjakan saja.'' kata Kila.


''Semua sesuai permintaan tuan muda Axel nona atau...'' tanyanya.


...****************...


''Mau kemana Ax?'' tanya Hanan saat Axel keluar dari ruangannya.


''Aku mau ke apartemen Rossi kak.'' jawab Axel. ''Mau ajak makan siang dia dan yang pasti pengen tau keadaan dia...soalnya dari kemarin gak bisa di hubungi kak.'' kata Axel lagi.


''Waduh gak bisa Ax, soalnya selesai makan siang kita ada meeting dan kayanya kalau kamu pergi ketempat pacar kamu itu gak bakal keburu waktunya.'' kata Hanan memberi tahu agenda Axel.


''Lah kakak kok gak kasih tau aku?'' protes Axel.


''Ini aku kasih tau kamu.'' jawab Hanan.


''Maksud aku kok gak dari tadi pagi kak.'' kata Axel lagi.


''Kemarin waktu mau pulang aku sudah bilang sama kamu.'' jawab Hanan yang tak mau di salahkan.

__ADS_1


''Di wakili kakak saja ya...'' pinta Axel.


''Maaf gak bisa Ax.'' kata Hanan.


''Ya sudah deh kalau gitu delivery saja.'' kata Axel yang kembali lagi ke ruangannya.


''Maaf Ax, kakak cuma mau kamu gak salah pilih.'' gumam Hanan setelah Axel tak ada di sana.


Hanan sudah tau gimana sebenarnya Rossi, dan bukannya tak mau menasehati Axel agar menjauh dari kekasihnya...tapi apalah dayanya...orangtuanya saja tak di dengar apalagi dirinya.


Karena orang kalau sudah di butakan oleh cinta...maka susah kalau di kasih tau walaupun itu adalah kenyataan yang sebenarnya.


Jadi hanya ini yang Hanan bisa lakukan...berusaha menjauhkan Axel dengan Rossi saat posisi mereka masih ada di kantor.


Lagian Hanan juga sudah di beritahu serta wanti-wanti oleh kedua orangtuanya.


Di ruang kerja Axel, pemuda itu terus saja berusaha menghubungi bahkan mengirimkan pesan-pesan singkat ke nomor ponsel sang kekasih sambil menunggu makanan yang di pesannya tiba.


''Kamu itu sebenarnya ada dimana sih honey?'' tanya Axel dalam kesendiriannya. ''Kalau kamu marah atau kecewa denganku biang dong honey...ngomong...jangan main ilang gak ada kabar kayak gini.'' sambungnya lagi. ''Kamu bikin aku cemas tau gak.'' imbuhnya.


Bodohnya Axel terus memikirkan serta menghawatirkan si Rossi. Padahal orangnya sendiri sama sekali tak memikirkannya...dia malah bersenang-senang dan menginap di sebuah villa di puncak bersama laki-laki lain.


''Apa kamu agak apa-apa matiin ponsel kayak gitu terus?'' tanya sang pria yang saat ini sedang merengkuh tubuh seksi seorang wanita yang bukan berstatus istrinya.


Mereka masih sama-sama polos di balik selimut tebal yang saat ini menutupi tubuhnya.


Mereka habis bersenang-senang menghabiskan beberapa ronde di dalamnya.


''Hem.'' sahut wanita itu ayng tak lain dan tak bukan adalah Rossi kekasih seorang Axel Arsha Narendra.


''Kalau kekasih kamu itu nyariin gimana?'' tanya pemuda itu lagi.


''Biarin saja...aku gak perduli.'' jawab Rossi.


''Kalau dia marah?'' tanyanya lagi.


''Gak akan...'' sahut Rossi lagi. ''Dia itu sangat tergila-gila dan mencintai aku.'' sambungnya. ''Lagian dia juga gak bisa kasih aku kepuasan...sebab dia tak mau melakukannya sebelum menikah.'' katanya lagi. ''Katanya ingin menghargai serta menghormatiku dan juga tak ingin merusakku sebelum kita menikah.'' ujarnya. ''Huh...dasar bodoh.'' imbuhnya lagi di sertai sedikit tawa. ''Sudahlah jangan bicarakan laki-laki bodoh itu lagi.'' kata Rossi. ''Lebih baik kita bersenang-senang.'' ucapannya.

__ADS_1


''Kamu yakin mau lagi.'' kata sang pria dengan tangan yang sudah mulai menjamah sana-sini.


''Bukannya itu tujuan kita kesini.'' sahut Rossi. ''Bersenang-senang dan mencari kepuasan.'' imbuhnya.


__ADS_2