
❤️ Happy Reading ❤️
Hari terus saja berganti...tak terasa sudah sudah lebih dari 6 bulan usaha cafe milik Shakila berjalan.
Bisa bidang usahanya sangat sukses terbukti dengan banyaknya pengunjung yang setiap hari datang dan selalu saja habis makanan yang dibuatnya.
Saat ini dirinya juga sudah selesai merenovasi ruko miliknya yang dahulu, jadi sekarang cafe miliknya ada dua cabang.
Tapi walaupun demikian usaha frozen food miliknya juga tetap berjalan, beberapa cabangnya pun masih beroperasi seperti dahulu.
Dapat bilang dirinya saat ini adalah seorang bisnis women yang lumayan sukses kalau dilihat dari waktu berjalan yang belum cukup lama.
''Mau kemana kak...rapi amat?'' tanya Alexa yang sengaja mampir dulu ke kediaman keluarga Narendra karena putrinya ingin bermain di sana bersama oma, opa serta sepupu kembarnya.
''Oh ini aku diminta ngisi seminar di universitas xx.'' jawab Shakila. ''Padahal aku sendiri merasa tak pantas untuk hal itu.'' imbuhnya yang memang belum merasa percaya diri.
''Wah bagus dong.'' sahut Alexa.
''Ni lihat tangan aku sudah dingin kayak gini karena sudah nervous duluan.'' kata Shakila sambil memegang tangan Alexa.
''Santai kak...jangan terlalu tegang...nanti malah fokusnya buyar loh.'' kata Alexa yang memang merasakan hawa dingin dari tangan sang ipar.
''Sebelum masuk coba atur nafas...tarik nafas dalam...lalu hembuskan perlahan, dan ulangi beberapa kali.'' kata mommy Shanum.
''Kami tau bagaimana perasaan kakak karena ini adalah pengalaman pertama dan kami semua sudah pernah ngalaminnya.'' kata Alexa.
Ya karena baik dirinya, sang Abang, suami, mommy Shanum kakak terlebih sang daddy sering dapat undangan untuk hal yang sama.
''Tema materinya apa nanti Kil?'' tanya mommy Shanum.
''Tentang UKM mom.'' jawab Shakila.
''Sudah belajar belum kak?'' tanya Alexa.
''Sudah sama daddynya anak-anak.'' jawab Shakila.
''Wah kalau kak Axel yang yang langsung jadi tutor sih...sudah gak di ragukan lagi.'' sahut Alexa sedikit banyak memuji sang kembaran.
''Sudah...ayo berangkat...nanti kamu telat loh.'' ajak Axel dari pada harus mendengar celotehan sang adik yang pastinya nanti akan tambah panjang dan lebar.
''Ah iya...ayo.'' sahut Shakila. ''Kila pergi dulu ya mom, dad...titip anak-anak.'' pamit Shakila.
''Iya kamu tenang saja...anak-anak bakal aman sama mommy.'' kata mommy Shanum. ''Hati-hati.'' pesanannya.
''Aku juga berangkat ya mom.'' pamit Alexa.
__ADS_1
''Iya, kamu juga hati-hati.'' kata mommy Shanum.
...****************...
''Rileks...dan fokus.'' nasehat Axel saat mereka telah sampai di pelataran kampus.
''Hem.'' sahut Shakila.
''Anggap saja saat berhadapan dengan mereka sama seperti saat berhadapan dengan para pelanggan.'' kata Axel.
''Huft...iya.'' sahut Shakila.
''Maaf aku gak bisa nemenin karena harus ketemu klien dan gak bisa aku wakilkan dengan kak Hanan.'' kata Axel yang merasa sedikit bersalah.
Sebenarnya dirinya ingin sekali mendampingi sang istri, apalagi ini adalah pengalaman pertama untuk Shakila...tapi apa boleh buat.
''Iya gak apa-apa.'' kata Shakila. ''Kalau begitu aku turun dulu ya...'' katanya dan tak lupa mencium tangan sang suami untuk berpamitan.
''Hem.'' sahut Axel. ''Nanti akan di jemput sama supir.'' sambungnya setelah meninggalkan sebuah kecupan di kening istrinya.
Shakila turun dan mulai berjalan meninggalkan Axel. Baru setelah tubuh Shakila tak terlihat...Axel melajukan mobilnya kembali.
...****************...
Terasa sangat lega saat semuanya telah selesai, apalagi dengan hasil ya bisa di bilang cukup memuaskan.
''Maaf bu', kapan-kapan apa boleh mampir mampir ke cafenya?'' tanya beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi yang menghampirinya saat Shakila berjalan ke arah tempat parkir universitas.
''Oh tentu saja.'' jawab Shakila. ''Jika kalian datang rame-rame...minimal empat orang maka kalian akan dapat gratis teman minum es.'' kata Shakila dengan senyumannya.
Kenapa gak di bilang teman minum teh atau kopi dan memilih teman minum es? itu karena mereka masih para remaja yang biasanya memang lebih suka es di bandingkan teh atau kopi panas.
''Beneran bu'?'' tanya mereka lagi.
''Iya, dan juga free WiFi.'' kata Shakila lagi.
Beginilah kalau memang jiwa pedagang...omongan apapun pasti ujung-ujungnya promosi.
''Baik bu' kami akan mampir ke sana.'' katanya.
''Oke, ditunggu ya...'' kata Shakila. ''Kalau begitu saya permisi.'' pamitnya dan langsung melenggang pergi.
...****************...
Lebih dari tiga puluh menit Shakila menyelusuri jalanan kita untuk pergi ke cafe utama miliknya.
__ADS_1
''Mbak.'' sapa salah satu pegawai yang melihat kehadiran dirinya.
''Bagaimana? aman?'' tanya Shakila.
''Aman mbak.'' jawabnya.
''Kalau begitu saya ke ruangan dulu ya...'' pamitnya.
Tak berapa lama, Shakila sudah keluar lagi dari ruangannya.
Dengan penampilan yang berbeda. Yang dulunya memakai blazer, saat ini sudah di lepas dan hanya meninggalkan kemejanya saja, terlebih lengannya juga ada di gulung hingga siku.
''Sini biar aku saja yang anter buku menu, kamu bantuin yang lainnya.'' kata Shakila pada karyawan yang melintas di depannya.
Karena masih jam makan siang, jadi keadaan cafe benar-benar masih sangat ramai.
''Sudah pada makan siang belum?'' tanya Shakila pada karyawannya saat mengantarkan catatan pesanan.
''Belum mbak.'' jawabnya.
''Aduh kalian ini.'' gemes Shakila. ''Makan...tapi bergantian.'' perintahnya. ''Sekarang.'' tegasnya seolah tak terbantahkan.
''Ba...baik mbak.'' jawabnya.
Shakila gak mau kalau sampai para pegawainya jadi jatuh sakit karena terlambat makan, sekali...dua kali...lama-lama akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan berakibat fatal pada lambung mereka.
''Kalian itu kerja sama saya...jangan samakan dengan kerja rodi.'' kata Shakila. ''Saya gak suka.'' lanjutnya.
Para karyawan pun mulai makan secara bergantian sesuai arahan sang owner. Lagian mereka juga gak mau kalau sampai kena marah bos mereka yang di kenal selama ini belum pernah marah.
...****************...
''Mbak, makanan semuanya sudah habis.'' kata Riri melapor.
Riri di angkat sebagai tangan kanan sekaligus wakil Shakila juga dia tak ada di tempat.
Sedangkan untuk di cafe cabang, di pegang oleh Damar...pemuda rekomendasi dari Axel dengan Reni sebagai wakilnya.
''Oh kalau begitu kita tutup saja.'' kata Shakila.
Memang cafe mematok jam tutup...jam berapa, tapi kalau makanan yang mereka buat telah ludes...ya tutup awal gak apa-apa.
Shakila hanya membatasi menunya setiap hari beberapa porsi saja, bukan membaut sebanyak-banyaknya dan tutup sesuai jamnya...
Dia tak mau terlalu ngoyo...lagian kasihan juga para karyawannya kalau harus terlalu diforsir dalam bekerja, yang ada nanti malah mereka jadi mudah sakit.
__ADS_1
Shakila sudah sangat bersyukur dengan penghasilannya setiap bulan yang bisa mencapai 700 sampai 900 juta.