
❤️ Happy Reading ❤️
''Siapa gadis itu?'' tanya Alvan saat menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV saat seorang gadis mencoba untuk mendekati Arsen. ''Aku rasa dia yang melakukan semua itu.'' imbuhnya lagi mengungkapkan dugaan sementara.
''Kita lihat saja selanjutnya.'' sahut Davin.
''Done.'' seru daddy Axel.
''Siapa dia?'' tanya opa Arya.
''Dia adalah putri dari Rendi Handoyo pemilik AHD grup.'' jawab daddy Axel.
''Lalu apa yang akan kita lakukan padanya?'' tanya Davin.
''Kita serahkan saja semuanya pada Arsen.'' sahut opa Arya.
''Ya aku rasa itu lebih baik, karena yang menjadi korban sekaligus target adalah Arsen...jadi dia yang lebih berhak.'' timpal daddy Axel.
''Ada-ada saja...sepicik itu untuk mencapai tujuannya.'' kata Alvan.
''Hem, sudah beberapa kali memang di setiap kesempatan seolah-olah mereka ingin mendekatkan putri mereka pada Arsen.'' kata daddy Axel. ''Tapi sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku kalau akan melakukan hal menjijikkan ini, apalagi mereka adalah orang yang berpendidikan dan terhormat.'' sambungnya.
''Kalau obsesi sudah menguasai semuanya akan di lakukan kak.'' sahut Davin. ''Seperti tak tau saja.'' imbuhnya lagi.
...****************...
Sore ini sepulang dari kantor, Arsen lebih memilih untuk membeli makan dan di bawa ke kontrakan Aluna.
Tapi sebelum itu dirinya sudah memberi tahu orang rumah kalau ijin untuk tidak makan malam bersama.
Mommy Shakila sempat marah-marah karena mengira Arsen seharian hanya ada di tempat Aluna dan takut melakukan yang tidak-tidak, namun Arsen meyakinkan kalau dirinya ada di perusahaan.
Tok
Tok
Tok
Cklek
''Kamu.'' kata Aluna ketika melihat siapa orang yang telah mengetuk pintu kontrakannya.
Tanpa berbasa-basi, Arsen langsung nyelonong masuk saja ke dalam.
''Kenapa kamu kesini lagi?'' tanya Aluna.
Saat melihat penampilan Arsen yang masih menggunakan pakaian tadi, membuat Aluna semakin yakin bahwa pemuda itu pasti belum pulang ke rumahnya.
''Apa ke tempat calon istri harus ada alasannya?'' tanya Arsen balik yang membuat Aluna terdiam dan seketika wajahnya menjadi blusing.
__ADS_1
Semenjak kejadian tadi malam dan dirinya memutuskan untuk bertanggung jawab dengan menikahi Aluna, Arsen sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha membuka hatinya agar bisa menerima kehadiran Aluna di sisinya.
Bagaimanpun Arsen yang tumbuh dengan penuh kasih sayang dari kedua orangtua yang saling mencintai, menginginkan anaknya merasakan hal yang sama sepeti yang dia rasakan.
Karena pasti ada kemungkin Aluna hamil setelah kejadian semalam, mengingat Arsen yang terkenal pengaruh obat hingga melakukannya berkali-kali dan tanpa pelindung sama sekali.
Dia tak ingin anaknya lahir dengan keadaan rumah tangga kedua orangtuanya yang tak harmonis.
''Aku bawa makan untuk kita makan malam.'' kata Arsen lagi.
Aluna mengambil makanan yang di bawa oleh Arsen lalu menatanya di piring.
''Ayo makan...nanti gak enak loh.'' ajaknya.
''Sebentar, aku ambil minum dulu.'' kata Aluna.
Arsen membawa dua porsi nasi plus lauk khas nasi Padang komplit.
''Kenapa pakai lauk sebanyak ini?'' tanya Aluna.
''Habisnya aku gak tau kamu sukanya apa.'' jawab Arsen dengan enteng.
Bagaimana gak banyak, Arsen tak hanya membawa satu lauk tapi beberapa...ada rendang, sambal ijo, sayur nangka, telur dadar, ayam, bahkan ada lalapan daun singkong juga.
''Tapi ini terlalu banyak kalau hanya untuk kita berdua.'' kata Aluna.
''Mau aku bikinin teh?'' tanya Aluna seusai mereka makan malam.
''Hem boleh.'' jawab Arsen.
''Em kamu gak mau pulang gitu?'' tanya Aluna hati-hati.
''Kamu ngusir aku nih ceritanya?'' tanya Arsen yang sudah memincingkan sebelah matanya.
''Eh enggak bukannya begitu.'' sahut Aluna dengan cepat. ''Kamu kan belum mandi sepertinya.'' kata Aluna.
''Iya aku belum mandi, soalnya tadi dari sini aku langsung ke perusahaan dan pulangnya ke sini lagi.'' jawab Arsen. ''Aku numpang mandi ya...'' ujarnya lalu keluar dari kontrakan Aluna menuju ke arah di mana mobilnya terparkir.
''Dari mana?'' tanya Aluna.
''Ambil pakaian di mobil.'' jawabnya sambil memperlihatkan paper bag yang ada di tangannya.
Untung dia selalu menyediakan pakaian bersih di mobilnya.
''Pinjam handuk dong.'' kata Arsen.
''Tunggu sebentar.'' kata Aluna lalu membuka salah satu pintu lemari untuk mengambilkan Arsen handuk yang bersih.
Kontrakan yang Aluna tempati termasuk tempat yang bebas, tak ada larangan untuk penghuni kontrakan membawa teman laki-laki atau teman perempuannya menginap.
__ADS_1
Lingkungan di sekitar sana juga bisa di bilang cuek semua, tak ada yang mau ikut campur dengan urusan orang lain.
Apalagi beberapa penghuni kontrakan ada yang berprofesi sebagai wanita malam...jadi tak jarang ada yang membawa pelanggan mereka untuk pulang kesana.
''Lun.'' panggil Arsen begitu mendengar suara yang aneh dari kamar sebelah kontrakan Aluna.
''Hem.'' sahut Aluna.
''Suara itu...'' kata Arsen.
''Disini memang sudah biasa seperti ini.'' sahut Aluna yang seolah mengerti tantang suara apa yang akan di tanyakan oleh Arsen.
Suara horor yang berupa ******* dan erangan dari sepasang anak manusia yang sedang meraih puncak kenikmatan.
''Kok kamu betah tinggal di sini? gak merasa terganggu dengan suara-suara itu?'' tanya Arsen.
''Betah gak betah ya harus betah, karena kontrakan di sini murah dan kalau sudah mulai seperti itu aku biasanya menggunakan ini.'' jawab Aluna sambil menunjukkan handset miliknya.
''Pindah aja ya...tinggal di apartemen aku sampai di mana waktunya kita menikah.'' kata Arsen.
''Gak usah...aku sudah biasa kok.'' sahut Aluna.
''O iya besok kamu kerja?'' tanya Arsen.
''Iya, tapi siang...soalnya pagi aku harus ke kampus dulu.'' jawab Aluna.
''Mau aku antar?'' tawar Arsen.
''Gak usah, aku bisa berangkat sendiri.'' jawab Aluna, meskipun besok dirinya harus mengeluarkan ongkos untuk nak ojek atau bus karena motor miliknya masih berada di toko bunga milik Ara.
''Tapi besok aku mau ajak kamu buat milih cincin tunangan sama cincin pernikahan kita.'' kata Arsen.
''Aku di kampus cuma sebentar, jadi masih ada waktu sebelum kerja...gimana?'' kata Aluna.
''Ya sudah aku antar dan tunggu aja kamu di kampus.'' putus Arsen.
''Memangnya kamu gak kerja?'' tanya Aluna.
''Nanti aku minta izin sama daddy buat ke kantor siang.'' jawab Arsen.
Tak berapa lama ponsel Arsen berdering beberapa kali.
''Aku pulang dulu ya Lun.'' pamit Arsen. ''Sudah di telponin mommy dari tadi...beliau takut kita ngelakuin yang enggak-enggak kalau aku tetap ada di sini.'' terangnya.
''Iya hati-hati.'' kata Aluna di iringi senyum yang manis.
''Jangan lupa di kunci pintunya, terus di pakai handsetnya.'' pesan Arsen.
''Iya.'' jawab Aluna.
__ADS_1