
❤️ Happy Reading ❤️
''Daddy suka namanya.'' sahut daddy Arya.
''Kak, kenapa gak Arsen dan Arsyi? kok malah Syila.'' tanya Alexa.
''Karena aku lebih suka Arsen dan Syila, biar sama kata inisial nama aku dan daddynya, juga biar samaan dengan oma...opanya.'' jawab Shakila. ''Arsen dan Syila...AS, Axel dan Shakila juga AS, daddy Arya dan mommy Shanum juga AS...jadi biar samaan.'' sambungnya.
''Eh iya...ya...'' sahut Kinara.
''Triple AS...'' seru Alvan yang membuat mereka semua tertawa.
''O iya sebaiknya kalian semua pulang aja dulu...kalian sudah sangat lama loh di rumah sakit.'' kata Axel. ''Kalian juga pasti sangat butuh istirahat.'' sambungnya lagi. ''Dexa pasti juga sudah kangen sama mami papinya Xa, dan Alka juga Ara pasti sudah nyariin kakak dan abang.'' tuturnya lagi.
Karena semua anggota keluarganya sama sekali belum pulang dadi saat Shakila di larikan ke rumah sakit tadi sore.
Dan ini sudah cukup malam, hampir tengah malam malah...jadi mereka pasti juga butuh istrirahat untuk memulai aktivitas esok hari lagi.
''Mommy sama daddy juga pulang aja.'' akta Axel lagi kepada kedua orangtuanya.
''Enggak, mommy sama daddy akan tetap di sini.'' kekeh mommy Shanum.
''Mommy sama daddy juga butuh istirahat.'' kata Axel lagi yang tak mau kalau sampai kedua orangtuanya jatuh sakit kerena kurang istirahat.
''Mommy sama daddy bisa tidur di ruangan sebelah.'' jawab mommy Shanum sambil menunjuk ke arah pintu penghubung dari ruangan Shakila ke ruangan sebelah yang memang di peruntukkan untuk keluarga yang menunggu.
Sebenarnya lantai ini lebih mirip sepeti hotel ataupun apartemen di bandingkan ruangan rumah sakit...ya namannya juga rumah sakit elit dan satu lantai itu memang khusus hanya untuk anggota keluarga Narendra saja yang notabene adalah pemilik rumah sakit tersebut.
''Ya baiklah terserah mommy sama daddy saja.'' sahut Axel.
Akhirnya satu persatu keluarga yang lain mulai berpamitan dan meninggalkan ruangan Shakila.
Bahkan mommy Shanum dan daddy Arya juga sudah masuk ke ruangan sebelah.
Kini yang tersisa di sana hanyalah keluarga kecil Axel.
__ADS_1
Setelah mengunci pintu kamar dan memastikan bahwa istrinya terbaring dengan nyaman, Axel pun mulai memposisikan dirinya untuk tidur di sebelah Shakila di ranjang yang sama, karena memang ukuran ranjangnya sedikit lebih besar jadi cukup untuk menampung dua orang dewasa.
Sedangkan kedua anak kembar mereka saat ini sudah tertidur bersama di box besar mereka.
"Sayang..." panggil Shakila.
"Hem." sahut Axel yang kini telah tidur dengan posisi miring menghadap ke arah sang istri.
"Aku minta maaf..." ucap Shakila.
"Untuk?" tanya Axel.
"Maaf karena telah membuat semua orang repot dan khawatir...terutama dirimu." ucapnya.
"Gak perlu minta maaf sayang...kamu gak salah kok." kata Axel. "O iya gimana ceritanya kamu bisa sampai pingsan di kamar mandi?" tanya Axel.
Shakila pun menceritakannya hingga dirinya tak tau apa-apa lagi.
"Lain kali kamu harus berhati-hati lagi...aku tak mau terjadi hal-hal yang buruk sama kamu sayang." kata Axel dan di angguki oleh Shakila. "Melihatmu seperti itu benar-benar membuatku...ah sudahlah..." ujarnya.
"Em...sayang...apa boleh aku berziarah ke makam ke dua orangtuaku?" tanya Shakila.
"Aku kangen sekali sama mereka." lirih Shakila. "O iya sayang...sebelum aku bangun, aku bermimpi bertemu dengan mereka...ayah dan ibuku.'' papar Shakila.
"Hem pantas saja istriku ini begitu betah untuk memejamkan matanya." sahut Axel.
"Iya...aku ingin pergi ikut bersama mereka, tapi...mereka tak memperbolehkanku untuk ikut." cerita Shakila. "Mereka bilang bahwa aku harus kembali karena ada kamu dan kedua anak kita yang menunggu." sambungnya dengan mengingat apa yang di lihatnya tadi di alam bawah sadar.
"Benar sekali apa yang di katakan oleh ayah dan ibu mertua, ada aku dan anak-anak yang menunggu serta sangat membutuhkan kehadiranmu di sisi kami." kata Axel. "Kalau begitu aku harus mengucapkan terimakasih kepada ayah dan ibu mertua karena telah menyuruhmu kembali." sambungnya. "O iya sayang...aku juga ada sesuatu yang ingin di bicarakan sama kamu." kata Axel. "Tapi kamu janji gak boleh sedih..." ujarnya yang di angguki lelah Shakila.
Axel lebih memilih untuk menceritakan hal ini dari awal, agar Shakila tak mengetahuinya dari orang lain yang mungkin akan lebih membuatnya sangat terpukul.
"Hum...begini...sewaktu kamu terjatuh dari kamar mandi dan mengharuskan si kembar untuk segera di lahirkan." kata Axel. "Dokter mengatakan kalau..." katanya lagi.
"Kalau?" tanya Shakila.
__ADS_1
"Kalau rahim kamu mengalami masalah dan..." jawab Axel. "Terpaksa aku harus menandatangani surat persetujuan untuk pengangkatan rahim kamu sayang." tutur Axel.
"Jadi rahim aku susah di angkat? Aku sudah gak bisa punya anak lagi?" kata Shakila yang kemudian menangis.
Axel pun langsung memeluk tubuh sang istri.
Wanita mana yang mau kehilangan rahimnya...sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya dan wajar sjaa bila Shakila sangat terpukul mendengar semua ini.
"Maaf...maaf aku gak bisa wujutin keinginan kamu untuk memiliki anak yang banyak..." lirih Shakila.
Memang mereka berdua pernah bersepakat untuk memiliki anak yang banyak agar rumah menjadi ramai, dan Shakila tak ingin kalau anaknya merasakan hal sepeti dirinya yang kesepian, tak ada teman berkeluh kesah karena hanya anak tunggal.
"Sayang...hei...dengar aku." kata Axel. "Arsen dan Syila sudah cukup bagiku." katanya lagi. "Kalau Alka, Ara dan Dexa main kerumah...ruangan pasti juga akan ramai." sambungnya. "Atau kalau kamu ingin punya anak lagi...atau nambah anak...gampang...kita bisa adopsi anak sama seperti mommy dan daddy yang mengadopsi bang Alvan." tuturnya. "Jadi aku harap kamu jangan sedih lagi...karena sudah ada Arsen dan Syila di tengah-tengah keluarga kecil kita." imbuhnya. "Sudah sekarang lebih baik kita istirahat dan anggap saja kejadian ini sebagai mimpi buruk." ujarnya lagi.
...****************...
Owek...owek...owek...
"Sayang...bangun sayang..." kata panggil Shakila sambil mengguncang tubuh Axel. "Sayang itu anak kita nangis." kata Shakila lagi.
Karena belum lama tertidur jadinya Axel begitu nyenyak sampai sang anak menangis pun tak dengar.
"Sayang." sentak Shakila.
"Hah ada apa sayang...apa ada yang sakit?" tanyanya karena kaget.
"Itu anak kita nangis." jawab Shakila.
Axel pun langsung turun dan menghampiri box bayi anak-anaknya.
"Oh anak daddy nangis...ada apa son?" tanyanya karena ternyata baby Arsen yang menangis.
"Periksa popoknya dad, siapa tau aja penuh." kata Shakila.
"Masih kering kok mom." jawab Axel.
__ADS_1
"Gendong bawa sini dad, mungkin dia haus." kata Shakila lagi.
Karena sudah terbiasa dengan kedua anak saudaranya...jadi Axel dengan mudah bisa menggendong kedua anaknya meskipun masih bayi seperti ini.