Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
1. Akhir Masa Sekolah


__ADS_3

Aktivitas pagi yang sama dijalani setiap hari oleh kita siswa SMK Kota B. Termasuk aku yang setiap hari menaiki angkutan umum menuju sekolah. Bertemu dengan teman-teman digerbang sekolah, berjalan menanjak menuju kelas masing-masing. Meskipun disebut sudah sampai sekolah, tapi perjalanan masih berlanjut. Karena sekolah kita berada di perbukitan, masih harus melewati kabut dingin dipagi hari. Jarak antara gerbang sekolah dan kelas-kelas memakan waktu paling lambat sekitar 7 menit dengan berjalan. Dengan tempat yang memang berada di pegunungan, memaksa untuk berjalan di tengah dingin padi yang kemudian menjadi terbiasa.


Sekarang aku sudah kelas 3. Tinggal menghitung bulan akan lulus dari sekolah ini. Pasti akan sangat merindukan suasana sekolah yang begitu menyenangkan, maksudnya menyenangkan karena bisa bertemu teman-teman, kalau untuk pembelajaran.. yaaaa...


Rencananya setelah lulus aku akan langsung mencari pekerjaan. Meskipun Ibu bisa membiayai kuliah, aku masih berkaca dengan keadaan. Gak mau Ibu harus terus bekerja keras banting tulang dengan usianya yang sudah sepuh untuk biaya kuliah. Toh, selama sekolah juga udah sering kerja paruh waktu, jadi akan lebih terbiasa kalau kerja. Kalau kuliah juga males buat mikir lagi.


“Sora! Ngelamunin apa hayo....!”


Seraya merangkul, Suara wanita yang sudah sangat dikenal membuyarkan lamunanku menuju kelas, Risa.


Aku hanya tersenyum membalas rangkulannya mempercepat langkah menuju kelas.


Di kelas sudah banyak teman-tema lain yang tiba lebih cepat dari kita berdua. Berjalan menuju tempat duduk yang setiap hari rela menompang tubuhku tepat berada disebelah tempat duduk teman laki-laki yang cukup akrab.


Memang dengan teman semuanyapun akrab, tapi dengan Zaenal ini aku berani berkeluh kesah maupun berbagi kebahagiaan. Dan sebaliknya juga dengan dia.


“ Lesu amat, mikirin apaan sih?”


Tanyanya, hanya dengan melihat raut wajah yang tidak biasa ini dia sudah mengerti dengan suasana hatiku.


“Orang rumah nyuruh aku kuliah, tapi aku gak deh kayaknya. Aku kasihan kalo harus liat Ibu tetep kerja gitu. ” Jawabku menempatkan kepalaku diatas meja.


“Karena biaya? Tapi kan Ibu kamu yang menyanggupi.” Mengikuti menempatkan kepalanya diatas meja menghadap wajahku.


“Aku udah mutusin, mau kerja aja. Mau nambah-nambah penghasilan Ibu. Sebentar lagi kakak aku kan nikah, kalau udah nikah kan beda lagi. Belum tentu dia bisa bantu keuangan rumah dengan teratur, karena udah punya keluarga sendiri.”


“Terserah kamu aja sih. Toh itu hidup kamu. Orang aku juga gak bakal kuliah juga kayaknya.”


“Kenapa?”


“Mau bantu Ibu ngurusin restoran aja. Biar yang kuliah adek aku aja nanti. Itung-itung gantiin posisi Ayah yang udah gak ada.” Senyumannya sayu.


“Hi... pagi...”


Dengan datang tiba-tiba membuat kita menoleh kearahnya. Zani, pacar Zaenal.


“Masih pagi udah kesini aja? Ngapain kamu?”


Aku bertanya sedikit menggodanya.


“Mau balikin buku catetan, nih buku kamu. Waahhh... bener-bener ya... buku kamu banyak coretan Sora.”


Mengembalikan buku sang pacar dengan kepala menggeleng-geleng.

__ADS_1


“Hehehe.. orang pacar kamu juga coret-coret buku aku terus. Dia gambar mulu di buku aku, kayaknya udah dia anggap buku gambar kayaknya buku aku.”


Memperlihatkan lembaran-lembaran yang penuh coretan tangan Zaenal.


“Ya... agak mending sih bagus gambarnya, lha ini dibuku Zaenal... coretan apaan coba.. hahaha”


Risa ikut nimbrung mengejek coretan yang ada d buku Zaenal. Yup, memang Zaenal begitu pandai menggambar. Sedangkan aku tidak pandai apapun.


Hari-hari terus kita lewati menunggu sampai kelulusan sekolah, ujianpun sudah kita lewati. Aku mencari-cari lowongan kerja yang bisa menerima lulusan sekolah menengah seperti aku. Kegiatan sekolah masih berlangsung meskipun tidak full belajar, yang ada kita malah ngobrol sana-sini.


“Nanti siapa ya yang duluan nikah dikelas kita?”


Tanya teman-teman yang gak ada kerjaan, tapi mengundang ketertarikan yang membuat kita jadi nimbrung.


“Yang jelas yang udah pada punya pasangan lha... tuh... banyak dikelas kita.”


Jawab Risa dengan mata melotot Seolah-olah menunjuk orang-orang yang dimaksud.


“Biasanya yang diem-diem bakal nikah duluan. Noh kayak Sora gitu. Diem aja, tahu-tahu nikah..”


Temen yang lain ikut mengiyakan seakan setuju dengan pendapat itu. Zaenal dan Risa hanya terkekeh, karena mereka tahu apa yang ada dalam pikiranku tentang pernikahan.


“Intinya nanti siapa aja yang pertama kali nikah, malam pertama harus live streaming ya... hahaha"


Pernikahan buat pribadi aku sedikit tidak mengenakan. Karena orangtua aku bercerai, mereka berceria dari aku SD. Karena katanya kepribadian Ayah yang cukup buruk membuat Ibu memutuskan untuk bercerai dengan Ayah. Tanpa tahu alasan pasti kenapa mereka bercerai, aku dan kakak ikut Ibu. Mungkin karena sering bareng Ibu ya. Sampai akhirnya pada awal masuk sekolah Ayah pergi untuk selamanya. Dan karena itu juga, aku sama Zaenal jadi cepet akrab sama-sama udah gak punya sosok Ayah.


Bukan berarti haus akan kasih sayang seorang Ayah. Perhatian Ibu dan Kakak laki-laki yang diberikan lebih dari cukup. Hanya saja kata-kata ditinggalkan dan meninggalkan membuatku sedikit gugup.


Aku masih ingat, pada saat orangtua bercerai. Ibu yang menggugat Ayah, tapi Ibu juga yang paling banyak menangis. Entahlah... hanya mereka yang tahu. Aku takut kalau harus ditinggalkan oleh pasangan, maupun meninggalkan pasangan yang dicintai.


Akhirnya kelulusan sudah terlaksana. Semua teman-teman sekolah lulus. Suasana sekolah, kelas dan teman-teman akan sangat dirindukan. Terutama teman-teman yang akrab denganku, mungkin hanya beberapa orang. Karena aku termasuk siswa yang bener-bener biasa, gak terkenal sama sekali.


Tidak seperti Maru yang terkenal karena wajahnya yang menarik dan juga pintar, apalagi dia pacar dari seorang Maria yang juga cantik dan pintar juga, bahkan perempuan ini mendapat beasiswa kuliah karena kecerdasannya itu. Dan yang akrab juga hanya beberapa, Risa, Zaenal mungkin hanya mereka berdua yang benar-benar deket.


Selama mencari pekerjaan, kakak merelakan sepeda motornya untuk diberikan. Aku meminta Zaenal untuk mengajari mengendarai sepeda motor, persiapan ketika kalau nanti mendapat pekerjaan tidak usah naik kendaraan umum. Dengan suka rela Zaenal mengajarkan mengendarai sepeda motor sampai kita terjatuh berkali-kali. Cedera ini, cedera itu, tidak aku rasa. Yang penting supaya aku bisa cepat-cepat mengendarai sepeda motor. Tanpa sadar, aku juga telah membahayakan Zaenal. Kasihan juga ternyata dia.


“Aduuuhh.. orang-orang bakal nyangkanya kalian berdua pacaran tahu!” Celetuk pria yang ternyata ada dibelakang kita, menghampiri kita yang tengah beristirahat sembari mengobati luka-luka kecil.


“Maru, Ngapain loe disini?” Tanya Zaenal


“Lagi jalan sama Maria, dia lagi di toilet. Kok loe diem aja Sora? Gak nyapa sama sekali.” Lirikannya tajam.


“Hi. . Gak liat, aku lagi obatin luka.” Melirik sedikit

__ADS_1


Zaenal membantuku mengobati luka-luka kecil di tangan.


“Wwiiihh... romantis amat. Loe berdua, akrab sih akrab. Loe udah punya pacar Nal, sadar. Apalagi Sora kan jomblo.” Dengan nada mengejek


Dengan sendirinya tangan memukul kecil bahu lebar Maru


“Ngajak ribut mulu kamu... Udah sana pergi... aku jomblo karena pilihan. Emangnya kamu pacaran mulu. Hah..”


“Kasihan gue ke pasangan loe masing-masing nanti. Pasti bakal cemburu banget liat kalian deket gini.” Mengedipkan mata ke arah Zaenal.


Zaenal merasa geli, lalu mengusir Maru uang memang akan beranjak pergi karena sang kekasih sudah tampak menyelesaikan urusannya di kamar kecil.


“ Wwwaahhh... beruntung banget ya Maria. Dapetin Maru. Dia keliatan cinta banget ama Maria.” Gumamku sedikit iri.


“Belum tentu juga mereka jodoh lah, baru juga pacaran.” Balas Zaenal.


“Iya juga ya, tapi kan mereka udah pacaran dari dua tahun yang lalu. Aku yakin pasti mereka jodoh.”


“Emang kamu dukun, pake bilang yakin mereka jodoh.” Terkekeh kecil.


“Iya juga ya. Intinya, nanti siapa aja yang dapetin Maru. Beruntung tu cewek.”


Zaenal membantu berdiri memberi isyarat untuk melanjutkan kegiatan.


“Tapi, bener kan kamu udah bilang dulu ke Zani? Nanti dia salah paham lagi sama aku.”


“Mana ada dia salah paham sama kamu?” menyunggingkan bibir sedikit mengejek.


Ya, Zani tidak mungkin cemburu. Karena dia tahu kita sudah akrab dari zaman SMP.


“Gini-gini aku cantik lho...”


Zaenal tertawa mendengar pernyataan yang random itu.


“Hhhmm... cantik, kamu cantik. Makannya cari pacar, biar ada yang gantiin aku. Kalau aku gak ada, kamu mau gimana?”


Pertanyaannya sedikit membuat aku berpikir kembali untuk memiliki seorang kekasih. Tapi, aku sama sekali tidak tertarik. Lebih nyaman seperti ini, sendiri.


Hari demi hari terlihat sampai usaha Zaenal mengajari untuk mengendarai sepeda motor berhasil. Sekarang aku bisa mengendarainya dan juga sampai dapat SIM.


Namun, rezeki dari Tuhan tidak bisa ditolak. Aku malah dapat pekerjaan di luar kota. Yang memaksa mau tidak mau harus rela meninggalkan rumah dan juga Ibu sendirian untuk tinggal di lingkungan tempat kerja. Ya, meskipun hanya bekerja di sebuah pabrik, aku masih bersyukur. Tuhan masih memberiku rezeki.


Selama bekerja diluar kota, tidak lupa aku pulang paling jarang satu bulan sekali untuk melepas rasa rindu kepada Ibu, dan tentunya juga untuk memastikan kesehatannya. Secara semenjak aku pergi keluar kota Ibu benar-benar sendiri dirumah, karena memang Kak Soni dari dulu tinggal di Kota sebelah karena pekerjaannya. Selama bekerja itupun, banyak sekali hal-hal baru yang akau alami. Dan banyak yang berubah, keadaanpun berubah.

__ADS_1


Kak Soni menikahi istrinya ditahun pertama aku bekerja. Kemudian, disusul Risa yang juga menikah ditahun ke dua aku tinggal terpisah jauh dari Ibu. Sekarang Ibu mulai sedikit cerewet, cerewet tentang pernikahan.


__ADS_2