Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
12. Zaenal


__ADS_3

Baju OK... celana OK... gak sabar rasanya pergi untuk menjemput Sora. Sekarang masih jam 8, tapi aku udah siap. Bahkan rasanya ingin langsung pergi menemuinya. Hari ini akan jadi hari jadian kita. Itu harapan ku.


Sesampainya dirumah Sora, aku langsung melihat gadis itu keluar rumah dengan penampilan sederhananya. Tapi begitu sangat menawan.


“ Ooh.. pake mobil? Motor kamu kemana?” heran.


“ Aah.. motor aku lagi di service, jadi pake mobil dulu aja.” Jawabku dan langsung membukakan


pintu mobil penumpang bagian depan. Aku langsung berlari menuju tempat duduk ku sendiri, tempat duduk supir. Terlihat wajah Sora begitu menawan duduk di kursi sebelahku, membuat hati berdegup.


Selama kita jalan-jalan, dia terlihat begitu senang. Pergi kesana kemari dengan senyum sumringah. Tidak lupa, dia memberi saran tentang rencana bisnis berjualan ku. Padahal, itu hanya alasan. Alasan agar aku bisa bersama dengan gadis ini. Sebenarnya tanpa membuat alasanpun biasanya wanita ini kamu diajak buat sekedar main pasti mau.


Karena terlalu asyik dengan suasana, tak terasa perut kita keroncongan. Dia bilang lapar. Akhirnya kita mampir ke sebuah restoran.


“ Wah.. hari ini seneng banget tahu. Baru kali ini aku ngerasa bebas lagi. Makasih udah ajak aku" dengan senyumnya sambil mengunyah makanan yang ada di hadapannya.


“ Kalau kamu pengen jalan-jalan kayak gini lagi, tinggal bilang. Kapan aja, langsung cus..” dengan bangganya.


Dalam perjalanan pulang, aku terus mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan cinta kepada Sora yang masih duduk di sebelah ku.


Harusnya sudah sedari tadi aku ungkapan, tapi kenapa tiba-tiba nyali aku kembali menciut. Banyak kekhawatiran yang tidak terlalu begitu penting. Tapi, sekarang. Detik ini, aku akan mengungkapkan semuanya.

__ADS_1


Tapi, ditengah pergelutan dalam pikiran aku yang berkecamuk, dia memulai pembicaraan memecah keheningan.


“ Zaenal, aku mau nikah.” Dengan singkatnya.


Shock, aku langsung rem mobil mendadak. Terdengar suara klakson kendaraan lain dari belakang.


“ Kamu kenapa? Kaget aku.” Dengan wajah kagetnya.


“ sorry sorry, “ langsung menepi ke tepi jalan.


“ Kamu bilang mau nikah? Sama cowok itu? Yang dijodohin Ibu kamu?”


“ Bukan, bukan cowok itu. Aku bawa pasangan, aku bawa pacar kerumah.” Tegasnya.


“ Kok aku gak tahu. Siapa? Pacar kamu siapa?” berubah menjadi penasaran.


“ Maru. Maru. Calon suami aku Maru.” Dengan tegas memberi tahu aku.


“ Maru? Maru temen kita?”


“ Yup, Maru temen kita.” Dengan meyakinkan.

__ADS_1


“ Kenapa? Kenapa Maru? Bukannya Maru.. Maria... Aku masih gak ngerti.” Semakin aku tidak yakin.


“ Kamu orang pertama yang aku kasih tau. Yang lain belum tahu. Sabtu kemaren udah lamaran, tanggal juga udah ditentuin. “ cerocosnya..


“Kamu coba pikir lagi deh. Kamu kayaknya buru-buru ambil keputusan.” Mencoba untuk meyakinkan kembali dengan keputusannya ini


“ Aku juga gak tahu kenapa kita nikah,, takdir? Jodoh? Mungkin itu udah takdir, jodoh?” dengan gamblangnya.


Aku hanya bisa melihat matanya yang sedang menjelaskan, mata bahagia kah? Kurang yakin.


“ Kamu suka sama Maru? Kamu cinta dia?” menunggu jawaban dengan harapan menguntungkan ku.


“ Aku... cinta dia. Dia juga.” Dengan matanya yang terus menatap mataku.


“ Kenapa malah melotot terus? Harusnya kamu bilang selamat, malah kayak orang kesel gitu sih.” Rajuknya.


“ Selamat, selamat. Aku Cuma agak kesel aja. Kalian selama ini pacaran, tapi gak ngasih tahu. Jadi ini alasannya akhir-akhir ini sering liat kalian bareng terus?” Tanyaku.


Dia hanya membalas dengan senyuman.


Sampai akhirnya dia turun dari mobil dan berpamitan. Aku hanya bisa melihat punggungnya menuju pintu rumah. Tanpa sadar air mata langsung membasahi pipiku. Bukan ini yang aku mau. Keinginan dan kenyataan sungguh berbeda, hari jadian? Hari terakhir kita bersama. Dengan kesal aku mulai memukul setir mobil. Lagi-lagi, dan lagi kalah cepat.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya mereka rencanakan.


__ADS_2