
Tanpa basa-basi Zaenal langsung menawarinya untuk mengantarnya pulang. Tapi, dengan cepat tanggap aku berdiri dan mengajaknya pulang bareng. Wajah Zaenal sedikit tidak enak dilihat.
“Tapi lu kan baru sampe, makan dulu apa ke? “ cegah Zaenal yang ikuti berdiri
“Gak apa-apa, gua juga mau langsung pulang kok. Restoran lu juga udah mau tutup, kan?” balasku dan langsung menarik Sora berdiri.
Zaenal kembali menarik tangan gadis itu,
“Pake jaket dulu, dingin.“ katanya datar sambil membuka jaket yang dipakainya.
“Yang waktu itu aja belum dibalikin, “ Sora menolak, tapi dengan sigapnya dia memakaikannya dan menggulung tangannya yang kepanjangan. Zaenal mengantarkan kita berdua sampe ke parkiran kecilnya itu. Kita berdua pun berpamitan.
Terlihat Zaenal yang sedikit kecewa karena karena dia tidak bisa mengantarnya lagi, setidaknya dia ingin melindunginya sampai depan rumahnya.
Diperjalanan, tiba-tiba Maru menepikan motornya ditempat yang agak sepi. Sorapun heran, apalagi pria itu hanya diam saja tidak bergeming. Segera dia turun dan membuka helmnya, dengan khawatir dia bertanya “kamu gak apa-apa? Kenapa tiba-tiba berhenti di sini?”
Tanpa menjawab Maru langsung turun dari motornya dan mengajaknya duduk dibangku warung yang sudah tutup.
“ Lu mau gak nikah sama gue? Ayo kita nikah! “ ajaknya secara tiba-tiba. Tentunya membuat Sora kaget setengah mati.
Bener lagi mabuk ni orang kayaknya, ucapnya pelan tapi masih terdengar oleh pria yang sedang melamarnya itu.
“Gue gak mabuk, gua sadar kok. Lu gak mau kan dijodohin? “ perkataannya itu semakin membuat Sora kaget, bagaimana dia tahu tentang ini. Padahal dia hanya cerita sama Zaenal doang.
“Gue gak sengaja liat pesan yang tadi lu baca itu.“ jelasnya karena dia tahu pasti gadis itu heran kenapa dia tahu tentang hal itu.
“ Ogah, apaan sih kamu? Kamu bukan pacar aku, lagian aku juga gak suka sama kamu. “
“Emangnya lu suka sama cowok yang belum lu tahu siapa itu? “ langsung samber perkataan Sora. “Kita nikah gak usah saling mencintai gak apa-apa. Gua juga gak suka kok sama lu” lanjutnya.
“Yaudah, toh kita gak saling suka ngapain nikah? Gila ni orang. “ sedikit kesal Sora menjawab.
“Justru itu kita bakal saling menguntungkan, karena kita gk saling suka. Meskipun kita nikah, kita bisa hidup dengan cara masing-masing. Coba lo nikah sama cowok itu, pasti hidup lo juga bakalan ikutin hidup dia, atau dia yang mencampuri hidup lu! “ jelasnya panjang lebar. Yang membuat dia berpikir keras.
__ADS_1
Sora langsung berdiri dan berniat pergi, namun ditahan oleh pria yang lebih besar darinya itu. Otomatis tubuh Sora kembali duduk.
“Apaan sih kamu, gak usah ngaco deh. Kalau misalnya aku masih aja gak suka sama cowok itu. Ya tinggal cerai aja dong” jawabnya agak ngotot.
“Lu bayangin, lo nikah karena perjodohan. Terus cerai lagi. Pasti orangtua lo kecewa putrinya tidak menghargai atau menerima usaha mereka biar lo nikah! Mereka juga pasti malu sama keluarga cowok itu. Karena dulu mereka menyetujui perjodohan itu, tapi ujung-ujungnya cerai juga. Kalau kita yang bercerai mereka pasti bakalan maklum, dan gak terlalu malu juga. Karena kita bakalan cerai dengan cara kita ,baik-baik! Karena kita menikah atas dasar keinginan kita berdua.” tanpa memberi kesempatan wanita itu membalas. Sora hanya bisa diam dengan pikirannya kembali.
“Bayangin, tiba-tiba dia meminta jatah sama lo? Kamu mau melayani hak dia sebagai suami, padahal lo gak suka sama tu cowok? “ tanyanya kembali.
“Namanya juga suami-istri, ya pasti itu.. Jatah.. Apalah itu. Mau gak mau kan! “tegasnya...
“Gak, kalau sama gue gak bakalan. Kita sama-sama gak suka. Kita juga sama-sama saling mengerti keadaan kita, lo... “
tiba-tiba pria itu mengecup cup 💋 bibir kecil gadis itu. Gadis itu langsung terdiam mematung dan membuka matanya lebar-lebar sesaat. Sampai akhirnya dia tersadar dan menampar pria itu.
“Kurang ajar ya kamu,!” teriaknya sedikit ketakutan...
“Dengerin gue dulu, lu gak ngerasa apa-apa kan dengan ciuman itu. Karena kita gak saling suka.” Batinnyapun ikut yakin dengan perkataan sendirinya itu.
Mereka pun tiba didepan rumah Sora, gadis itu langsung masuk kerumah tanpa berterimakasih. Sang Ibu melihatnya heran dan dia pulang sangat telat sekali. Namun, sikap sopan Maru tetap berjalan dan meminta maaf karena putrinya pulang telat lagi, dan langsung berpamitan.
Gadis itu masih terus menggerutu dalam hatinya, kurang ajar banget Maru tadi. Apalagi dia berani-beraninya mencuri ciuman pertamanya itu. Tapi, dia langsung merenungkan lamaran temannya itu.
Dan dia juga kenapa merasa sedikit bergetar ketika laki-laki itu melayangkan bibirnya ke bibir dirinya yang mungil. Tapi, dia langsung menangkas pemikiran itu, dan langsung berdalih dia bergetar karena kaget saja. Tiba-tiba terlihat pesan singkat dari Maru. Dengan beruntun pesan itu menghiasi layar ponselnya.
^^^“Maafin gue...
^^^
^^^“Bales dong... Oy...
^^^
^^^“Okay, gua salah...
__ADS_1
^^^
^^^“Tapi coba renungkaqn kembali lamaran gue...
^^^
^^^“Lu masih gak mau bales? Gue kesitu sekarang.
^^^
Melihat isi pesan yang terakhir dia kaget dan langsung membalasnya.
Berisik, aku mau tidur. Gak usah dibahas sekarang. Nanti aja.
^^^“Okay, ketemu nanti 😊^^^
Ini anak lempeng aja dengan kejadian tadi, pikiranya mulai kacau dan mulai mengacak rambut sebahunya itu.
Ibu Reni membuka pintu dan langsung menghampiri putrinya yang terlihat raut wajahnya begitu kesal.
“Kamu berantem sama pacar kamu? Pulangnya sampe telat banget? “ santainya Ibu Reni bertanya.
Pacar? Maksud Ibu, Maru? Dalam hati Sora menjawab itu. Namun jawaban itu tidak terucap hanya gelengan kepala yang dia tunjukkan. Sang Ibu lantas pergi keluar, karena terlihat sang Putri sangat frustasi.
Tengah malam Sora terbangun karena ingin pipis. Di depan pintu Ibunya terdengar obrolan Ibu dan Kakaknya lewat telpon seluler. Sang Kakak meminta agar Ibunya membatalkan perjodohan adiknya itu, karena dia pikir Sora sudah memiliki kekasih. Namun Ibunya tetap kekeh. Karena selama ini Sora tidak pernah membawa pria kerumahnya.
“Pria itu sering nganterin dia pulang, tadi juga kayaknya mereka berantem. “ sang Ibu sedikit memberi informasi.
“Tapi, dia gak pernah bawa laki-laki itu untuk dikenalin ke Ibu, boro-boro gitu, dibawa masuk rumah aja belum pernah.” Ibunya ternyata salah paham.
“Kalau misal dia kenalin laki-laki yang bakal jadi calon suaminya kerumah, Ibu pasti batalin perjodohan ini. Bahkan langsung batalin pertemuan itu.”
Sora hanya menggigit jari telunjuknya sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1