Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
104. Air Mata


__ADS_3

Zaenal memisahkan Maru dan Langit. Dimana Langit yang posisinya tengah memegangi kerah pakaian Maru dan mempojokkan Maru pada mobilnya sendiri.


Agar lebih tenang dalam menyelesaikan kesalahpahaman, Zaenal menyarankan agar mereka bertiga untuk naik kedalam mobil Maru. Dan akhirnya keduanya menjadi penumpang dalam mobil Maru dengan Maru sebagai sang sopir.


Setelah menjauhi tempat beberapa ratus meter, Maru menghentikan laju mobilnya. Untuk sesaat hanya ada keheningan dari ketiganya.


"Ayo.. katakan sesuatu lah.." Zaenal mencairkan keheningan.


"Kenapa ada Maria di dalam rumah kalian? Sampai pelukan segala? Juga, kenapa kamu pelukan sama Sora dengan Sora yang terus menangis kemaren?" Langit memberikan pertanyaan beruntun dengan matanya yang sibuk melihat Maru dan Zaenal secara bergantian.


"Kita sedang berusaha menyelesaikan masalah. Dan dari pelukan yang kamu lihat itu, tidak seperti yang kamu pikirkan." Zaenal mencoba menjadi penengah. Karena Maru masih saja tutup mulut.


"Terus, kenapa Sora sampai menangis? Masalah yang kalian selesaikan? Dan kenapa orang-orang yang harus menyelesaikan masalahnya adalah orang yang sama dengan yang bermasalah dulu? Apa masalah yang dulu belum selesai?" Langit masih tidak rela melihat apa yang yang sudah dia lihat, Sora yang menangis.


"Apa kalian berdua masih cinta sama Sora?" Akhirnya Maru membuka mulutnya. Meskipun pertanyaannya melenceng.


"Saya masih suka sama Sora. Gak berubah sama sekali." Langit sangat percaya diri.


"Lo gimana? Zaenal?" Maru masih belum mendapatkan jawaban dari Zaenal.


Zaenal melihat Maru yang tengah menatap kosong ke depan.

__ADS_1


"Gue... gue sayang sama dia. Tapi, perasaan ingin memiliki dia udah sirna. Gue, cuman liat dia udah bahagia aja udah cukup." Zaenal jujur dengan perasaanya.


"Gue cuman minta sama lo berdua. Kalau gue lagi-lagi nyakitin Sora, tolong lindungi Sora." Suara Maru bergetar, dia tidak bisa menahan gejolak dalam dadanya.


"Maksud dia apa coba?" Langit masih belum mengerti.


"Maria hamil. Dan Sora mau menerima anaknya Maria." Zaena sedikit menjelaskan keadaan intinya.


"Hamil? Dasar kurang ajar... mentang-mentang Sora sulit hamil, jadi kamu hamilin cewek lain?" Langit yang hanya mendengarkan sepenggal, keburu tersulut emosi dengan tangannya yang siap untuk melanyangkan tinjunya.


"Oo.. tenang.. tenang.. bukan begitu. Lo juga diem aja lagi.." Zaenal kembali menahan Langit yang duduk berada di kursi belakang.


Langit yang sudah mendapatkan penjelasanpun menjadi terdiam.


"Terus... maksudnya kalian mau biarkan wanita itu tinggal di rumah kalian? Satu atap? Apalagi wanita itu tengah hamil?" Langit kembali menyuarakan isi pikirannya.


"Itu yang lagi kita cari solusinya. Awalnya Sora pengen Maria tinggal bareng mereka berdua. Ya.. udab jelas Maru nolak, dan.. ya... gitu.. sekarang keadaan Maria malah memburuk." Zaenal bingung harus menjelaskan seperti apa.


"Kenapa gak kalian masukan dia ke Rumah Sakit jiwa aja?" Langit memberikan saran.


"Dia gak gila. Dia cuman stress doang..." Tiba-tiba Maru sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Kenapa marah? Emang apa salahnya kalau dia masuk Rumah Sakit jiwa untuk kesembuha dia sendiri. Bukan hal negatif atau hal memalukan kalau dia masuk Rumah Sakit jiwa." Langit menekan kata-katanya.


"Tapi dia lagi hamil.." Maru kembali menurunkan nada bicaranya.


"Kenapa lo sekarang yang keliatan bingung banget. Coba gue tanya sama lo. Sekarang lo maunya gimana?" Zaenal menanyakan keputusan Maru.


"Gue gak tahu. Yang ada gue sekarang diselimuti penyesalan. Lagi-lagi gue bikin dua cewek yang sama terluka lagi. Gue nyesel. Kalau aja dulu..." Tiba-tiba Maru menghentikan ucapannya dengan indra penglihatannya yang masih mengeluarkan air mata.


"Lo nyesel kenapa? Lo nyesel dimulai dari mana? Nikahin Sora? Atau..?" Kini giliran Zaenal yang sedikit menggebu.


"Gue nyesel sama kelakuan gue. Gue gak pernah nyesel mmecintai Sora. Seharusnya gue puas, cukup dengan hanya cinta dia, sama kayak kalian..." Maru sangat terusik dengan keadaan yang menimpanya.


"Jadi lo beneran nyesel nikahin Sora?" Zaenak kembaki memancingnya.


"Gue gak pernah nyesel karena nikahin dia. Tapi gue nyesel yang terus menerus nyakitin dia. Tapi, di sisi lain Maria juga terluka gara-gara gue. Gue harus gimana? Gue bingung banget... gue emang brengsek.." Air mata Maru pecah.


Kedua lelaki yang mendengarkan tangisan Maru hanya bisa diam. Tanpa mereka katakanpun, mereka tahu bagaimana posisi Maru sekarang.


Setelah mengeluarkan kekesalan dalam hatinya, Maru beranjak menuju kantornya meskipun masih dalam keadaan tidak karuan. Dan tidak lupa Marupun menitipkan Sora dan Maria pada Zaenal. Zaenal lagi-lagi belum bisa pulang.


Maru sudah memberitahukan orangtuanya untuk datang kerumahnya besok. Dan berharap semuanya akan selesai besok hari.

__ADS_1


__ADS_2