Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
94. Tidak Satu Jalan


__ADS_3

Maru menarik Sora keluar dari ruangan dimana Maria berbaring dengan sedikit kasar. Keduanya kini duduk di bangku panjang di luar ruangan.


"Sayang... Maksudnya apa kamu ngomong kayak gitu? Kamu kalau ngomong jangan sembarangan!" Maru memperingati istrinya itu.


"Sembarangan? Aku serius, aku mau kok urus anak Maria." Sora masih menjaga nada bicaranya, meskipun dia masih sedikit emosi.


"Sora! Kamu pikir bisa segampang itu apa? Kenapa kamu ambil keputusan sendiri? Aku? Keputusan aku?" Maru merajuk dengan tangannya yang sibuk menunjuk dadanya sendiri.


"Bukannya kamu pasti setuju? Kamu yang bilang sendiri, kan! Menjadi seorang Ibu, gak perlu hamil, melahirkan, atau menyusui... Anak siapapun bisa jadi anak kita kalau kita menyayangi anak itu." Sora mengingatkan suaminya akan perkataannya dahulu.


"Aku tahu itu. Tapi, kenapa harus Maria? Kenapa harus anak Maria?" Maru masih ingin menentang keputusan Sora, dengan nada bicaranya yang sedikit meninggi.


"Kamu tega? Bayi yang ada di dalam perut Maria dibuang? Kamu tega? Kamu pikir Maria benar-benar ingin buang bayi dia sendiri?" Sora ikut meninggikan nada bicaranya.


"Aku wanita. Dia juga. Aku tahu perasaan dia." Sora tetap kukuh.


"Gak semua wanita kayak kamu, Sayang. Banyak wanita diluar disana yang bunuh bayinya sendiri." Maru tahu akan rahasia umum tersebut, dan Sorapun tahu fakta tersebut.


"Emang... tapi tidak dengan Maria. Bukannya kamu tahu waktu Maria kehilangan bayinya dulu? Apa dia tenang? Dia bahagia? Gak kan? Dia nangis, kan? Dia terluka, kan?"


Maru mengingat kembali saat dimana Maria kehilangan bayinya dahulu. Maria yang terus merasa sedih, terluka. Dan dia sendiri yang menolongnya, dia tahu saat Maria menderita kala itu juga.


"Aku mohon... Kita angkat Bayi Maria jadi anak kita, okay?" Sora kini menggenggam tangan Maru.


Maru melepaskan genggaman Sora dengan halus. Dia masih belum bisa menerima keinginan Sora.

__ADS_1


"Kamu pikir Maria mau?" Maru berlalu meninggalkan Sora yang masih duduk, ia menuju kamar kecil sekedar untuk menyegarkan wajahnya.


Sora menatap punggung suaminya dengan tatapan nanar. Dia tahu, kalau keinginannya tersebut sangat egois. Tapi, Sora berpikir bahwa keputusannya adalah jalan keluar untuk masalah hidup yang Maria sedang hadapi.


Sora kembali masuk kedalam ruangan dimana Maria berbaring.


Diikuti Maru yang masuk beberapa saat setelah Sora masuk.


"Gara-gara kamu ikut campur... kalian jadi berantem kan?" Maria tertawa ringan, dengan nada mengejeknya.


"Jadi gimana? Kamu tertarik kan dengan apa yang aku omongin tadi?" to the point Sora menyerang Maria.


"Kenapa aku harus? Sebenarnya kamu itu niat nolongin aku? Atau menghina aku?" Harga diri Maria tiba-tiba terasa sangat jatuh.


"Kenapa kamu mau nolongin aku? Bukannya suami kamu gak setuju kan? Lagian kita gak sedekat itu." Maria kembali menarik diri.


"Anggap aja, aku balas dendam sama kamu. Dulu kamu yang berniat kayak gini sama aku kan? Kamu mau menerima anak akau asal kamu hidup sama Maru!" Sora benar-benar sudah kehilangan akalnya.


"Atau.. anggap aja.. kamu ganti anak aku yang udah meninggal 4 tahu lalu itu. Kamu sendiri yang bilang kan, kalau kamu merasa bersalah atas kejadian itu. Untuk itu, kamu ganti bayi aku dengan bayi kamu itu." Air mata Sora lolos dari matanya.


Maria yang mendengarkan ikut meneteskan air matanya. Keduanya saling tatap, dengan tatapan yang penuh emosi. Air mata keduanya berlomba melewati pipinya.


Maru yang berada disanapun ikut terkejut dengan ucapan Sora yang melantur tersebut. Dengan sigap, Maru menarik lembut Sora ke pelukannya.


"Stop, Sayang. Jangan terusin lagi pembicaraan ini sekarang. Kita selesaikan nanti aja. Kasihan juga kan, Maria masih sakit." Maru mengajak Sora untuk duduk di sofa, menunggu infusan Maria yang tinggal sedikit lagi.

__ADS_1


Setelah ucapan yang Sora keluarkan, ketiganya kembali terdiam. Tidak ada satupun dari ketiganya yang membuka mulutnya.


Dokter mengizinkan Maria untuk pulang, karena keadaannya sudah semakin membaik. Sora dan Maru tetap menemani Maria.


Kini ketiganya berada di dalam mobil, dengan Sora yang duduk di kursi depan, berada di sebelah suaminya yang mengendarai mobilnya. Sedangkan Maria berada di kursi belakang dengan tatapan yang terus mengarah ke jendela, matanya tertuju pada jalanan.


Tetap tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut ketiganya.


Sampai ketiganya tiba di tempat tujuan, Maria langsung menuju tempat peristirahatannya.


Sora yang merasa khawatir, langkahnya mengikuti arah kaki Maria berjalan. Sora berniat menemani Maria, menjaganya.


"Sayang.. kamu mau kemana?" Maru menahan Sora.


"Aku khawatir kalau dia bertindak konyol lagi. Gimana kalau dia bertindak lebih jauh lagi?" Sora melepaskan tubuhnya yang ditahan oleh Maru.


"Tapi..."


Ucapan Maru terhenti oleh suara Sora yang kembali mendominansi.


"Kalau kamu gak ikut gak apa-apa. Aku aja, kamu pulang aja kerumah. Kita istirahat. Ini udah malem." Sora segera berlalu masuk ke dalam bangunan yang ditempati oleh Maria.


Maru hanya menggelengkan kepalanya, ia menarik-narik rambutnya dengan kasar. Ia juga mengacak-acak rambutnya.


Langkahnya berlawanan dengan Sora. Ia melangkah menuju rumahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2