Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
50. Kehilangan Satu Nyawa II


__ADS_3

Kembali kerumah Sora Zaenal memapah Sora duduk di atas sofa.


“Masih sakit kepalanya?” Zaenal mengelus puncak rambutnya.


“Lumayan. Zaenal aku minta tolong. Anterin aku ke rumah sakit.” Terisak.


Zaenal panik karena Sora mulai menagis kembali. Handphone Sora berdering, Kak Soni.


“Sora. Kamu dimana? Mau kakak jemput?” Suaranya menenangkan hati Sora. Sora menjawab kakanya masih dengan terisak.


“Pasti kakak udah tahu semuanya. Aku dirumah, mau kerumah sakit dulu. Kakak gak usah jemput, aku pergi sama Zaeanal kok.”


Ditengah percakapannya dengan sang kakak Maru tiba dirumahnya. Ia melihat Zaenal sudah standby menjaga istrinya.


“Kamu gak apa-apa?” Tanyanya sambil memeluk Sora.


Sora menolak pelukan itu dan mendorong Maru sedikit menjauh. Zaenal mengerti bahwa Sora masih kecewa dengan Maru.


“Kamu tenang dulu. Ayo kita kerumah sakit sekarang. Apa aja yang sakit?” Tanya Zaenal


Sora hanya diam menahan rasa sakit diperutnya yang amat sangat.


“Sora.... ayo.. bisa jalan kan.” Zaenal membantu Sora berdiri.

__ADS_1


Betapa terkejutnya kedua pria itu, melihat cairan putih dan darah keluar dari ************ Sora ketika ia berdiri dan melangkah beberapa langkah. Keduanya berupaya memapah Sora yang masih terus kesakitan. Maru masuk kedalam mobilnya menemani Sora dikursi penumpang bagian belakang.


“Gue yang bawa mobilnya. Lo pegangin Sora dibelakang.” Zaenal berinisiatif, karena dia bisa melihat Maru yang begitu panik ketakutan memegangi Sora.


Mobil melaju dengan sangat kencang, beruntung karena hari masih pagi. Kendaraan yang berlalu lalang masih tidak terlalu ramai. Di kursi belakang Sora sangat kesakitan, Maru menangis dengan terus mengelus perut istrinya, memegangi tangannya, menusap wajah Sora yang sudah penuh dengan keringat dan juga mengajak bicara Sora agar tidak hilang kesadaran.


Sesampainya di rumah sakit dokter langsung menangani Sora.


Sora terbaring di ranjang pasien bagian umum dengan darah yang masih keluar. Ia masih kesakitan.


Dokter bertanya untuk memastikan penyebab pendarahan hebat yang dialaminya sekarang.


“Okay Mamah bayinya tolong jawab, ya. Apa anda jatuh?” Dengan lemah lembut dokter menanyakan.


Sementara itu, Zaenal mendapatkan panggilan dari Kakak Sora, menanyakan keberadaan dan keadaan Sora. Zaenal menjelaskan apa yang terjadi.


Dokter melanjutkannya kembali,


“Kita harus segera mengoperasi. Karena pendarahannya sangat hebat ini, sangat darurat. Ketubannya pecah yang menyebabkan pendarahan. Penyebab utamanya mungkin karena benturan itu. Jadi, saya berharap suaminya menanda tangani surat ini, karena istrinya harus melahirkan dengan jalan operasi caesar, ketubannya menghalangi jalan lahir anak. Kondisi sekarang sangat membahayakan untuk keduanya. Jadi mohon segera putuskan untuk menandatangani. “ dokter menjelaskan panjang lebar.


Maru mengambil selembaran itu dengan tangan yang masih sangat gemetar.


“Tolong istri saya dok, selamatkan istri saya. Saya hanya ingin istri saya. Yang penting istri saya dulu selamat dok. Jangan hiraukan yang lainnya, dok.” Maru menandatanganinya.

__ADS_1


Dokter memerintahkan para perawat untuk menyiapkan operasi darurat.


“Hanya istri? Maksud kamu, kamu gak mau anak aku selamat? Hah? Kalau gitu caranya lebih baik tidak usah operasi biarin aja aku mati bareng anak aku.” Sora histeris mencengkram baju dan rambut Maru.


“Bukan itu maksud aku. Kamu harus tenang dulu Sora. Tenang. Maafin aku.” Maru tetap sabar menenangkan istrinya.


Sora didorong menuju ruang operasi oleh beberapa perawat. Lampu yang menyatakan sedang berlangsungnya operasi menyala.


Ibu Reni dan Kakaknya datang berbarengan dengan orangtua Maru. Keempatnya panik melihat pakaian Maru dan Zaenal dipenuhi dengan darah.


“Apa yang terjadi? Kenapa sampai berlumuran darah seperti ini?” Ibu Reni menghampiri keduanya. Kak Soni memeluk ibunya agar tetap tenang.


Maru menunduk dan terus meminta maaf. Mamah Maya menghampiri anaknya dengan tatapan khawatir dan mengelus kepalanya. Maru menangis dipelukan Ibunya. Tangisnya terdengar sangat memilukan. Siapapun yang mendengar akan ikut menangis.


Perawat mempersilakan suami untuk masuk kedalam dan menyaksikan keluarnya bayi dari perut sang Ibu.


Maru melihat istrinya yang berbaring di meja operasi dengan tangan membentang, mata tertutup dan berbagai alat medis menempel pada tubuhnya membuat lututnya lemas. Dokter mulai mengeluarkan bayi dari perut Sora. Tampak bayinya sangat kecil.


Bayi ditangani, terlihat usaha agar bayinya menangis. Bayi tak kunjung menangis. Para medis terus berusaha sebisanya. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Bayinya baru beberapa menit berada di dunia ini, dinyatakan meninggal. Maru tak kuat menahan tangisnya, ia bersimpuh lemas.


Dokter mempersilakan dia untuk keluar kembali.


Pintu menuju ruang tunggu operasi terbuka. Maru keluar dengan langkah sempoyongan. Tatatapan matanya kosong. Orang-orang disekitar tidak ia hiraukan.

__ADS_1


Zaenal yang melihat ekspresi Maru mengerti apa yang terjadi, emosinya masih belum mereda, dengan langkah cepat, menghampiri Maru dan langsung melayangkan tinjunya. Maru terhempas ke pojokan dinding, darah segar keluar dari sudut bibirnya. Tidak ada perlawanan dari Maru, Zaenal berusaha melayangkan tinjauan kembali. Belum sempat, kak Soni menahan tubuh Zaenal membawanya menjauhi Maru yang tetap terdiam di sudut meringkuk.


__ADS_2