Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
36. Keputusan Tepat II


__ADS_3

Semua orang yang datang memasuki ruangan dimana Sora tengah berbaring. Ibu Reni tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya dan akhirnya dia menangis.


“Bu, aku gak apa-apa. Jangan histeris gitu deh.” Sora menenangkan Ibunya. Dan juga Mamah Maya.


“Kalau gak apa-apa kenapa sampai dirawat segala?” mengelus rambutnya.


“Tadinya kami berniat ngasih surprise ke kalian. Tapi, gak jadi. Sora cuman demam doang kok. Karena aku gak tahu apa-apa, jadi panik. Takut salah ngasih obat. Jadi aku bawa kesini. Wanita hamil kan gak boleh minum sembarangan obat.” Sambil tersenyum.


Semua yang mendengar terdiam sejenak. Sampai akhirnya mereka tersadar dan langsung memeluk Sora, tangis khawatir kini berubah menjadi tangisan haru bahagia menyelimuti ruangan, tak lupa mereka memberikan selamat.


Sora ikut tersenyum, namun tatapan yang ia berikan pada Maru seolah dia memaki, kenapa ia memberitahukan semuanya.


Maru membuang muka agar tidak terus memuat Sora marah. Dia berbalik badan, Zaenal tengah berdiri didekat pintu. Laki-laki itu terus menatapnya, kedua mata saling bertemu. Ayah Maru menepuk pundaknya, dia ingin berbicara empat mata dengan anaknya itu.


“Ayah gak tahu apa yang terjadi, tapi Ayah mohon. Kalian harus bersikap lebih dewasa.” Memulai pembicaraan.


Maru hanya terdiam, tanpa ekspresi. Keduanya duduk di bangku taman rumah sakit.


“Ayah gak akan bilang ke siapapun, tentang surat permohonan cerai kalian.” Sambil mengak kopi.

__ADS_1


Maru langsung terperanjat, menatap sang Ayah.


“Ayah tadi masuk rumah kamu, tadinya mau ceramahin kamu tentang pekerjaan. Tapi, rumah kalian udah kaya kapal pecah. Perang? Udah Ayah buang robekan itu, gak ada yang tahu. Tapi, Ayah titip kalian berdua harus lebih dewasa lagi. Harus saling bicara, saling mendengarkan, komunikasi yang baik. Apapun hasilnya, kalian harus bisa menerima. Apalagi sekarang istri kamu itu lagi hamil.” Panjang lebar menceramahi nya.


“Ini semua salah aku. Dari awal sampai sekarang semua salah aku. Tapi, aku gak mau pisah dari Sora.” Tatapannya begitu kosong.


“Ayah gak mau terlalu ikut campur urusan rumah tangga kalian. Keputusan ada di tangan kalian berdua. Lalui ini semua dengan kepala dingin...


Gak nyangka, ternyata kamu cinta banget sama menantu Ayah satu itu.” Mencairkan suasana.


Maru tetap tidak bergeming.


“Semangat! Kamu harus jadi laki-laki sejati kalau kamu benar-benar menginginkan dia.” Sambil berlalu meninggalkan anaknya di bangku taman Rumah Sakit.


“Dia istri gue. Gue cinta sama dia.” Maru memulai pembicaraannya


“Sora? Apa Sora juga masih cinta sama lo?” Zaenal balik bertanya.


“Masih?” Tanyanya heran.

__ADS_1


Dengan senyuman diwajahnya, Zaenal memberanikan untuk mengakui kekalahannya .


“Cuman liat dari raut wajah, tingkah laku aja udah jelas. Dia lebih suka lo banding gue. Emang, gue yang paling banyak ngabisin waktu ama Sora, itupun ditempat kerjanya. Kalau ngobrol nih, pasti ada nama lo yang dia sebut terus.” Tersenyum masam.


“Tapi sekarang dia gak mau liat muka gue.” Tandasnya


“Kalau lo bener niat serius ama dia. Gua mohon buatlah lebih serius, jangan nyakitin dia terus. Gue nyerah. Gue gak bakal ganggu lo berdua lagi. Tapi, kalau misal hal kayak gini terulang lagi. Gue bakal berjuang lagi.” Menepuk bahu Maru.


"Lo udah bilang sendiri kalau lo suka ama dia?" Tanya Zaenal penasaran.


Maru hanya menggelengkan kepalanya.


“Sejauh mana lo tahu hubungan kita berdua?” Maru menanyakan hal yang benar-benar ingin dia ketahui dari awal-awal.


“Sangat jauh, tapi Sora tetap berpura-pura semua baik-baik saja. Bodoh emang tu cewek.” Menggigit kecil bibir bawahnya.


“Tadi pagi gue dateng kerumah kalian. Gue khawatir karena Sora gak ngasih kabar sama sekali. Tapi yang gue liat rumah lo udah kayak kerampokkan. Gue ngerasa Sora pasti bakal ada dirumah Ibunya, makannya gua jadi bisa dateng ke sini bareng Ibu.”


Keduanya saling menatap dengan lebih tenang.

__ADS_1


“Jagain dia. Gue bakal terus jadi temen lo berdua. Jadi lo jangan khawatir gue rebut dia lagi. And... gue minta izin juga. Lo jangan larang gue buat tetep berada disamping Sora. Gue bakal ada disampingnya sebagai teman, karena itu juga yang Sora pengen dari gue.” Zaenal berlalu meninggalkan Maru.


Maru tetap diam tak bergeming. Ia terus memikirkan bagaimana hubungan dia dan Sora kedepannya. Keputusan apa yang akan dia ambil. Maru memang sudah mengakui bahwa dirinya kini mencintai Sora. Tapi, bagaimana dengan Sora?


__ADS_2