
Keesokan sorenya, Maru pulang kembali dari pertemuan(?) Itu. Wajahnya telihat sangat bingung.
Ya, dia bingung. Karena wanita pujaannya kini dalam proses perceraian bersama suaminya. Sebentar lagi dia tidak akan menjadi istri orang lain. Dari itu, Maria memintanya untuk menceraikan Sora juga.
Tapi Maru menjadi bingung, kenapa dia bingung? Dia juga tidak tahu, dia merasa berat untuk mengatakannya kepada Sora.
Tapi, bukankah ini yang dia inginkan? Kenapa dia tiba-tiba ragu, dia ragu membicarakan tentang perceraian ini dengan Sora.
Berhari-hari dia masih bersikap seolah tak terjadi apa pun, dengan pikirannya yang masih ragu. Apa yang harus dia lakukan. Dia memandang Sora yang tengah makan di malam hari dengan lahapnya sendiri di meja makan, dari ruang menonton televisi.
“Tumben banget lu makan malem-malem gini?” Maru melirik jam dinding menunjukkan 11 malam.
“Hmmm.. aku juga gak tahu. Akhir-akhir ini aku gampang banget lapar. Masuk angin terus lagi.” Jawabnya tanpa menoleh.
Pagi tiba diselimuti dengan hawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding. Maru memberanikan diri. Sebelum pergi bekerja Maru memantapkan hatinya untuk memberikan surat perceraian.
Dia telah memberikan kepada istrinya itu.
Sora tampak tersenyum sinis melihat kertas itu,
“Pernikahan kita aja belum sampe setahun. Tapi kamu udah minta cerai? Kamu gak inget perjanjian itu? 1,5 – 2 tahun...” jelasnya dengan mata penuh kekecewaan.
“Gue tahu. Gimana kalau kita lupain dulu perjanjian itu. Lebih cepat lebih baik, kan? Jadi kita bisa jalanin hidup kita masing-masing. Pasti perceraiannya cepet kok. Tinggal atur harta gono gini doang.” Hatinya berdegup kencang, kenapa dia begitu cemas.
Diluar dugaan, Sora menerima kertas itu dan mengiyakan. Ia segera pergi ke kamar mandi karena dia merasa mual dan langsung muntah-muntah.
Maru kaget, mengikutinya dan menepuk-nepuk punggungnya.
“Kenapa? Gak enak badan?” cemasnya.
__ADS_1
“Aahh.. gak apa-apa, masuk angin ni.. gara-gara kemaren kehujanan. Tenang aja.” Dia menepis tangan Maru yang masih menepuk punggungnya, beranjak berdiri meninggalkan Maru.
Maru lebih merasa cemas, kenapa istrinya bertingkah biasa saja, kiranya mereka akan bertengkar, seperti seblum-belumnya.
Didalam perjalan menuju tempat kerjapun, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka.
Setibanya di mall tempat ia bekerja, Sora langsung bergegas ke toilet. Sora berdiam diri, dia duduk diatas closet termenung. Matanya berkaca-kaca, ia menangis dalam sunyi.
Momen yang dia takutkan selama ini akhirnya tiba juga. Setelah melewati berbagai macam hal yang tidak seharusnya menjadi urusan dia ataupun mengusiknya, tapi nyatanya dia tetap ingin tahu dan memikirkan urusan itu. Bahkan perceraian ini menjadi sangat mengusiknya.
Kenapa dadanya begitu sesak? Bukankah cerai juga tertulis diperjanjian. Aahh.. mungkin dia sedih karena perceraian terjadi sebelum waktu yang dijanjikan. Kalau begini, dia bingung harus bagaimana, dia belum merancang masa depan setelah perceraian.... anggap saja seperti itu.
Zaenal heran, kenapa Sora tidak turun untuk makan siang. Seperti biasa, dia akan selalu datang ke mall setiap hari hanya untuk melihatnya. Namun, hari ini dia tak terlihat dimanapun.
Terus menunggu, Sora tiba didepan tokonya. Saling bertemu mata keduanya.
“Gak makan siang?” Tanya Zaenal, melihat Sora yang langsung duduk di kursi, iapun mengikutinya.
“Setelah kejadian itu, kamu gak pernah balas chat aku. Dan baru bertegur sapa lagi.” Zaenal dengan gugupnya.
“Aahh.. maafin aku. Aku masih berpikir... gimana caranya hadapin kamu. Aku cuma...” dia menghentikan ucapannya dan menunduk.
“Kamu mau aku gak usah temuin kamu lagi?” Nada kecewa tak bisa ia tahan dikeluarkan dari mulutnya itu. Zaenal introspeksi diri.
Air mata menetes membasahi tangan yang memainkan kain roknya. Zaenal menurunkan tubuhnya dan memiringkan wajahnya, memastikan apakah dia menangis.
“Ada apa?” Kekecewaan berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
Hanya senyuman, tanpa menjawab yang didapat Zaenal.
__ADS_1
“Kamu udah putusin pilih suami kamu? Kamu cinta Maru?”
Kembali tersenyum “Entahlah... aku gak tahu. Aku gak pernah nolak kamu, tapi aku juga gak terima kamu. Aku cuma mau kita seperti ini. Aku cuma butuh temen buat cerita, tapi.. kayaknya aku gak bisa cerita ke kamu kali ini.” Air matanya semakin deras...
Zaenal begitu mengerti, mengerti apa yang dirasakan wanita itu. Dia memeluknya dan membiarkan dia menangis di dadanya, menutupi wajahnya dengan jaket kulit yang dikenakannya.
Dia sedang bersedih, tapi apa yang menyebabkan wanita ini begitu terluka.... yang aku rasakan... sepertinya wanita ini benar-benar telah mencintai Maru.
~
Disisi lain Maru terus merasa gelisah, apa keputusannya benar. Karena respon Sora yang benar-benar membuat dia bingung bercampur cemas, Ia memutuskan menemui istrinya ke mall.
Namun, apa yang dilihatnya, membuat rasa cemasnya berubah menjadi amarah.
“Sia-sia gua cemas, buang waktu doang.” Gerutunya dan kembali keluar mall dengan wajah yang begitu masam. Maru benar-benar langsung melangkah, pantas saja istrinya bersikap tenang.
"Kenapa gue ngerasa kecewa dia menerima dengan mudahnya keputusannya untuk bercerai, dan lihat.. sekarang dia malah berpelukan dengan cowok itu lagi..." Maru terus menggerutu sembari melajukan mobilnya ketempat kerjanya.
Pulang kerumahpun mereka tetap bersikap biasa. Sora tidur lebih awal karena merasa tubunya sangat lelah. Maru tetap terjaga karena masih ada pekerjaan yang memaksanya harus dikerjakan dirumah.
Pada jam 11 malam, Sora keluar dan merogoh isi kulkas. Lapar kembali melanda perutnya yang rata itu.
Mendengar suara didapur membuat maru beranjak untuk melihatnya.
“Ahh.. kaget..!” karena kemunculan suaminya yang entah kapan tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
“Lapar? Lagi?” heran
“Hhmm... capek banget, kayaknya karena toko akhir-akhir ini sibuk aku juga jadi harus ekstra kerjanya. Gampang laper, ngantuk lagi.” Mengunyah buah brownies “Mau?” menyodorkan ke mulut Maru.
__ADS_1
“lu aja.” Menolak.