
Perut sudah terisi dengan penuh. Mereka melaksanakan jadwal bersenang-senang selanjutnya ketempat lain. Kali ini mereka akan pergi ke pasar tradisional yang ada ditempat itu. Seperti biasa mereka manaiki mobil suami Risa. Rendi dan Zaenal masih tetap setia duduk dibelakang. Tersisa tiga orang yang belum naik. Sora, Maru dan Langit. Mereka bertiga masih teelihat canggung.
“Kanapa gak naik? Masih muat kok tiga orang.” Tanya Rendi.
“Mau gantian sama aku duduknya, Sora?” Tawar Zaenal.
Sora tersenyum mengiyakan. Namun, Maru langsung menyambar.
“Gak usah. Gue naik mobil sendiri aja.” Dia pergi ke mobilnya sendiri, tapi dia tidak sendiri. Maru menarik paksa Sora sampai kedalam mobil.
“Kamu ngapain?” Sora melotot begitu Maru menaiki mobilnya.
Maru memasangkan sabuk pengamannya Sora dan juga dirinya. Dia sangat dingin.
“Gak enak sama yang lain kamu tuh..” Ocehan Sora tidak ia dengar.
Maru langsung meluncurkan mobilnya terlebih dahulu.
Langit masih terpaku diluar mobil. Sampai suara Zaenal menyadarkan Langit dan iapun naik ke mobil. Duduk dengan tidak ada siapapun disebelahnya.
“Biarin aja dulu mereka. Udah lama gak ketemu. Udah lama juga Maru nyari-nyari, giliran ketemu malah tetep saling diem. Kasih mereka waktu.” Suami Risa yang tidak banyak bicara tiba-tiba mengagetkan mereka.
“Bang. Lu bisa ngomong juga ternyata.” Rendi kagum.
Suami Sora hanya tertawa ringan.
__ADS_1
“Kurang ajar lo. Ya bisalah ngomong suami gue. Dikira gagu apa.” Omel Risa.
“Ya orang biasanya, cuman IA, GAK, OH. Ini barusan dia ngomong satu kalimat lebih dah.” Puji Rendi, disambut tawa oleh penghuni mobil yang kini ikut melaju.
Maru melajukan mobilnya tanpa banyak bicara. Hanya GPS yang berbicara mengarahkan jalan. Maru tidak menuruti arahan GPS, ia membelokkan mobilnya berlawanan arah.
“Oooo.... mereka mau kemana?” Risa heboh.
“Ini jalannya salah. Kita mau kemana?” Tanya Sora.
“Kemana aja. Yang penting kita berdua dulu sekarang.” Ucap Maru masih dengan dinginnya.
“Mau kamu apa sih? Kamu harus bicara baik-baik kalau ada sesuatu.” Sora menyerah dengan sikap Maru.
“Sora... Aku minta maaf.” Maru memulai pembicaraan kali ini.
“Kenapa sih kamu minta maaf minta maaf terus.... bosen aku.” Tiba-tiba Sora membludak.
“Karena kamu belum maafin aku. Kamu masih anggap aku gak ada.” Maru ikut emosi.
“Aku udah maafin kamu. Udah. Jadi apa mau kamu sebenarnya?” Emosi Sora masih belum reda.
“Ikut aku pulang. Ayo kita pulang, Sora.” Kini Maru lebih tenang, ia menurunkan nada bicaranya.
“Untuk apa aku pulang kesana? Dari awal itu memang bukan rumah aku. Rumah aku disini, bareng Ibu, Kak Soni..” Sora menatap lurus kedepan.
__ADS_1
“Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi.” Maru memohon.
Sora keluar dari mobil diikuti oleh Maru. Sora hendak pergi namun ditahan oleh Maru.
“Sora, kita tuh perlu komunikasi. Kalau kita begini terus. Menghindar terus. Kita gak bisa ketemu titik tengahnya.” Maru menahan dengan memeluk erat Sora yang masih berontak.
“Aku kan udah bilang. Diantara kita udah selesai. Gak ada yang harus kita bicarakan lagi. Aku udah kasih kesempatan buat kamu, kamu bisa hidup bahagia sama Maria. Kenapa kamu kayak gini. Jangan terus buat aku bingung.” Sora terengah-engah karena emosi.
“Aku udah gak ada hubungannya sama sekali dengan Maria. Yang aku pengen cuman kamu. Kamu. Aku juga tahu kamu masih cinta sama aku kan.” Maru tetap dengan sabarnya menghadapi Sora, meskipun sesekali diapun ikut emosi.
Keduanya berada mulut dipinggir jalan yang sudah tidak nampak lautan, yang ada hanya pohon besar menjulang tinggi. Sepi. Kendaraan yang lewat disanapun jarang terlihat.
Alam begitu baik, hujan tiba-tiba turun dengan sangat derasnya, memaksa Sora yang mau tidak mau harus kembali ke dalam mobil dengan ditarik oleh Maru.
“Puter balik sekarang. Ayo pulang.” Ajak Sora dengan mata yang masih merah.
Maru memutar balik kendaraannya, baru beberapa meter melaju tiba-tiba mobil berhenti dengan sendirinya dan tidak bisa dihidupkan lagi. Maru memeriksa keadaan mobil dengan keadaan sampai sudah basah kuyup. Sora yang masih menunggu didalam mobil ikut melihat keadaan mobil, menembus derasnya hujan.
“Kamu ngapain keluar. Ini deras banget ujannya.” Maru berteriak berlomba dengan suara hujan.
“Ayo kita masuk lagi.” Ajaknya.
Maru dan Sora kembali kedalam mobil.
“Harus panggil penderek kalaubegini. Gak bisa idup lagi.” Maru mengibas-ngibas rambutnya yang basah. Dan menelpon bantuan untuk membawa mobilnya ke bengkel.
__ADS_1