
Setelah beberapa ketiganya melepas rindu di rumah, lebih tepatnya hanya Zaenal dan Sora yang saling melepas rindu.
Zaenal mengajak Sora untuk berbicara empat mata dengan dirinya, tentu saja anggukkan yang Sora berikan.
Sebenarnya Maru mengerti apa maksud dari Zaenal meminta untuk berbicara hanya berdua saja dengan dirinya. Yang pasti untuk membicarakan perihal Maria. Ya. karena memang dia sendiri yang meminta bantuan pada Zaenal pada tempo hari.
Zeanal mengajak Sora berjalan santai ditepian pantai, yang masih terlihat dari pekarangan pekarangan rumah Maru dan juga Sora. Mata Maru tidak lepasa dari keduanya yang kini berjalan bersebelahan.
"Lucu banget... liat tu suami kamu." Zaenal menunjuk Maru dengan kepalanya yang ia arahkan, menunjukyang terus menatapnya mereka berdua.
"Iya.. lebay emang dia." Sora ikut tersenyum dengan sedikit gelengan kepala.
"Tapi, aku seneng kalau dia berperilaku seperti itu." Zaenal berjalan di sebelah Sora dengan matanya yag terus terarah pada wajah Sora.
"Maksud kamu apa?" Sora tidak mengerti pembicaraan Zaenal.
__ADS_1
"Ya.. berarti dia benar-benar sayang sama kamu, dia cinta sama kamu. Cinta dia gak berkurang sedikitpun, yang ada semakin bertambah." Zaenal mearasa iri.
"Kamu juga malah ikutan lebay lagi.." Sora memanyunkan bibirnya.
"Aku serius.. kamu gak tahu aja.. gimana dia dulu kalau lagi cemburu sama kamu. Kecemburuan yang dia perlihatkan sama kamu, gak seberapa. Dia cemburu sama kamu tuh, lebih... lebih dari itu." Zaenal bernostalgia sendiri tentang bagaimana sikap Maru dan dirinya pada saat keduanya sama-sama berusaha mendapatkan Sora.
"Oh... ya... Kalau gitu aku harus seneng dong ya.." Sora bercanda.
"Kamu juga, kalau kamu cemburu sama Maru, bilang aja." Sora mengerutkan keningnya, pernyataan Zaenal sangat random baginya.
"Aku tahu kok.. ada Maria lagi di kehidupan kalian berdua. Kenapa kamu bersikap begitu?" Zaenal menanyakan dwngan sangat to the point.
"Aku udah pernah bilang sama Maru. Bukan Maria yang hadir dikehidupan kita, tapi aku yang hadir dikehidupan mereka berdua. Aku hanya merasa, aku bener-bener serakah sekarang. Aku juga benar-benar merasa menjadi wanita jahat." Suara Sora menjadi bergetar.
"Kenapa kamu yang jahat?" Keduanya duduk di hamparan pasir yang teduh karena pohon rindang.
__ADS_1
"Aku yang udah oisahin mereka berdua. Mereka berdua pisah, jalan hidup Maria jadi sangat kacau. Maru pilih aki, tapi hidup dia gak bahagia." Sora menjadi terisak.
"Siapa yang bilang Maru gak bahagia? Dia sendiri?" Zaenal mengerti Sora, yang sekarang tengah menyalahkan dirinya sendiri kembali. Yang selalu begitu dari dulu.
"Aku yakin, dia gak sepenuhnya bahagia sama aku. Aku susah banget buat hamil. Aku pengen hamil anak dia, aku juga yakin dia pasti pengen punya anak dia sendiri, darah daging dia sendiri. Aku cuman... sepertinya aku cuman jadi beban Maru doang." Sora benar-benar telah ngelantur.
"Kamu tanya sama dia sendiri.. Apa dia gak bahagia hidup sama kamu? Apa dengan rencana kamu tentang Maria dan juga kehamilannya bisa buat dia bahagia? Atau hanya buat dia terbebani? Apa kamu tahu, bisa aja dengan keputusan kamu itu, kamu udah nyakitin orang-orang, terutama Maru dan Maria. Bisa aja keduanya kesulitan untuk berhubungan kembali. Aku tahu, dari lubuk hati kamu, kamu juga cemburu dan gak mau ada nama Maru dan Maria lagi." Zaenal panjang lebar menjelasakn mewakili perasaan Sora yang sebenarnya. Zaenal tahu isi hati dan pikirannya memang seperti itu.
"Aku juga gak mau. Tapi, ini semua gara-gara aku. Kalau aja dulu aku gak mau nikah sama dia, atau andai dulu aku gak jatuh cinta sama Maru, pasti sekarang Maru dan Maria hidup bahagia dengan kehadiran anak." Pikiran Maria masih belum stabil.
"Sekarang kamu tuh lagi pusing, stress, kamu sekarang lagi nyiksa diri kamu sendiri. Kamu sedang berusaha membuat diri kamu bersalah. Asal kamu tahu, seberapa usaha kamu agar telihat salah, Maru akan tetep ada di sisi kamu. Jadi kamu hentikan semuanya sebelum terlalu jauh. Kebahagiaan rumah tangga, bukan hanya kehadiran anak aja Sora. Kamu harus tenang." Zaenal memeluk Sora yang tangisnya semakin menjadi.
"Aku benar-benar hancur... aku marah. Aku stress. Aku gak tahu harus salahin siapa. Aku udah nyakitin semua orang. Kenapa karma terus berjalan diantara kita bertiga. Kita bertiga sama-sama salah dari dulu, kita bertiga sama-sama saling menyakiti dari dulu. Apa sekarang juga kita sama-sama saling nyakitin lagi? Aku bilang sama Maria, anggap aja anak dia gantiin anak aku yang meninggal...." pelukan Zaenal semakin erat.
"Aku gak tahu harus tenangin kamu gimana lagi, sekarang kamu leih baik nangis aja, nagis sepuasnya kamu. Jangan hiraukan apa-apa. Kalau idah nangis, siapa tahu kamu jadi lebih tenang." Zaenal memeluk dan membelai puncak kepala Sora.
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari, ternyata Maru sedari tadi telah mendengarkan semua percakapan keduanya. Sedari tadi, Maru telah berada di sekitaran keduanya duduk. Maru ikut menangis seiring apa yang Sora ucapkan.
Dan juga, dari jauh, terlihat Langit yang menyaksikan pemandangan dimana Sora dan Zaenal berpelukan dengan Maru yang berada di sekitarnya seperti seorang penguntit yang sedang manangis. Langit menyaksikan semuanya, tanpa tahu apa yang mereka bicarakan.