Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
8. Takdir yang Konyol I


__ADS_3

Entah apa yang kurasakan sekarang, bahagia atau sedih. Karena wanita yang paling dicintai meminta untuk bertemu kembali setelah beberapa bulan tidak bertemu.


Dia akan menungguku, itu yang dia katakan. Dia menunggu di taman kecil, taman tempat kita sering bertemu. Tidak pikir panjang, akupun langsung mengemudikan sepeda motorku kembali. Karena saat itu, baru saja sampai depan rumah.


Setibanya, terlihat wanita yang telah menunggu dengan baju yang kubelikan. Senang, sekilas itu yang kurasakan. Tapi, harus tahu diri dia istrinya, bukan milikku. Akupun langsung menghampirinya, mata kita bertemu. Aku hanya memberikannya senyumanku, dan duduk disebelahnya.


Ketika kupalingkan wajahku kearahnya,..(cup) đź’‹ dia menciumku. Aku tertegun dalam diam, mencerna apa yang baru saja terjadi dengan terus menatap dalam matanya mulai berkaca-kaca.


“Aku pengen ciuman pertamaku sama kamu.,” suara yang begitu lembut memecahkan lamunanku.


“Kamu apa-apaan sih, gimana kalau ada yang lihat? Kamu kenapa sebenernya? Hm? “ tanyaku dengan nada rendah nan lembut.


“Aku cuman pengen ciuman pertamaku sama kamu, itu aja. Aku Cinta.. Kamu.. “ mulai meneteskan air matanya.


“Jangan bilang, udah berbulan-bulan kalian menikah tapi belum melakukan.. Itu..? “ dengan ragu kubertanya.


Dia yang hanya mengangguk lemas. Sesaat tanpa ada kata diantara kita.


“Waktu kita nikah, aku lagi dateng bulan. Sampai aku udah gak dapet juga, tanpa sadari aku terus menolaknya untuk melayaninya sebagai istri. Hanya, belum siap. Hanya itu yang bisa katakan sama suami aku. Aku, pengen kamu.. Yang.. “ dia tidak meneruskan katanya itu.

__ADS_1


Lalu dia mengangkat kepalanya dan melihat kearahku, diapun kembali mencium bibirku. Kembali memundurkan wajahnya dari wajahku, dengan segera aku menarik wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut. Wanita itupun menyentuh tanganku yang masih memegang wajahnya. Tak disadari ciuman itu semakin panas dan liar, dia hanya menerima saja ciuman dariku. Akupun tersadar, segera aku melepaskan ciumanku dan menjauhkan wajahku. Terlihat wanita itu mengeluarkan air matanya.


“Kita gak boleh kayak gini, nanti ada yang liat. Bukan... Meskipun gak ada yang liatpun kita gak boleh begini.” Dengan nafasku tidak karuan, meskipun tahu tahu tidak ada yang bisa lihat kita karena hari semakin gelap.


“Tapi, dia terus meminta jatahnya sama aku. Kalau aku ngelakuin itu sama suami aku, kamu gimana? Kamu pasti sangat sakit. Iya kan?“ wanita itu kembali terisak.


“Kamu jangan mikirin aku, dia suami kamu. Dia yang berhak mendapatkan.. Itu.. Bukan aku, aku gak apa-apa “ berusaha menenangkan wanita itu.


“Tapi aku tetep gak enak sama kamu, aku... Udah nyakitin kamu. Maaf.. Aku jahat sama kamu...“


“hey..hey.. Siapa yang jahat? Siapa yang salah? Gak ada kok, ma’af ? Kamu gak perlu minta maaf. Gak ada yang perlu dimaafin. “ aku langsung memotong pembicaraannya.


“Bagi aku, aku tetep udah nyakitin kamu. Makannya kamu juga harus menyakitiku lagi. Atau jangan, lakukanlah setidaknya demi aku...Tolong kamu kabulkan keinginan aku ini.“ Dia melanjutkankata-katanya.


“Kamu juga harus nikah, kamu harus nikah sama wanita lain. Tolong menikahlah, demi aku. Demi hatiku yang masih menginginkan kamu. Please. Jangan kejar aku, aku langsung pulang!” ujarnya langsung melangkah jauh menuju motornya.


Setelah mendengarkan kata-kata itu. Hatiku terasa begitu sakit, berlipat-lipat dibandingkan ketika melihat dia dipelaminan. Hanya teriakan dan tangisan yang bisa ku curahkan dengan nyaris tak terdengar oleh siapapun. Menggaruk-garuk kasar kepalaku yang tidak sama sekali gatal. Selama ini aku berpikir hanya aku yang tersakiti dan tersiksa. Tapi, ternyata dia mungkin lebih tersiksa dibanding aku.


Bukannya aku pulang kerumah, aku pergi ke restoran Zaenal. Setidaknya aku minum jus, tidak minum alkohol lagi. Pikirku.

__ADS_1


Ketika masuk, mataku melihat sekeliling ruangan itu, dan terlihat sesosok pria dan gadis yang begitu kecil dimataku. Langsung kuhampiri mereka berdua, mereka terlihat heran melihatku. Entahlah kenapa mereka heran. Terliha gadis itu mencondongkan wajahnya kearahku.


“Haus,,, minum minum... Itu jus jus... Jus apa aja” pintaku tenggorokan terasa kering, dan pelayan membawa jus jeruk. Aku meminumnya sekali teguk.


“Gue gak bisa cerita, jadi jangan tanya. “ karena masih terlihat wajah heran mereka yang terus menatap.


Sorapun menyilangkan jari telunjuk ke dahinya, dia bilang “gila”. Zaenal menawarkan ramen untukku, tapi aku hanya menolak karena tidak bernafsu.


Terdengar suara gaduh dari dapur, Zaenalpun lantas melangkah menuju dapur.


Gadis yang dari tadi duduk disampingku terlihat cemberut ketika melihat ponselnya. Tanpa sengaja terlihat isi pesan yang diterimanya.


Hai, nama saya Hengki. Salam kenal.


Saya harap kita bisa saling menyapa sebelum pertemuan keluarga kita dilaksanakan.


Pantas saja dia langsung cemberut. Akupun mengerti pasti dia gak mau, DIJODOHKAN.


Zaenal kembali ke arah kita berdua, dan memberi tahu hanya piring pecah. Kita berdua mengangguk lega. Tak lama gadis itu langsung berpamitan pulang.

__ADS_1


__ADS_2