
Kehidupan rumah tangga Sora terbilang baik-baik saja, karena jarang terjadi pertengkaran hebat yang melanda keduanya. Hanya saja, Sora yang masih bersalah karena kesehatannya yang tidak terlalu baik, menyebabkan keduanya sulit untuk memiliki keturunan.
Tak bisa dipungkiri, terkadang Sora masih selalu berkata sesuatu yang menurut Maru hanyalah oming kosong belaka.
Sora pernah meminta Maru untuk menikah lagi dengan wanita lain, yang akan memberinya keturunan. Tentu saja Maru langsung menolaj tanpa harus berpikir dua kali.
Ada juga, Sora yang memberikan ide untuk menjalani program Ibu pengganti. Lagi-lagi Maru langsung menolaknya mentah-mentah.
Lebih baik Maru memilih untuk menjalani bayi tabung dengan Sora daripada harus menanamkan benihnya dirahim perempuan lain selain istrinya itu.
Tentu, Maru juga tahu bagaimana perasaan Sora yang benar-benar ingin mempunyai anak. Dan juga tentang program bayi tabung yang pasti akan sangat melelahkan, terutama melelahkan untuk Sora.
Untuk mengalihkan perasaan keduanya dari masalah yang sedang mereka hadapi, Maru membuka perusahaan percetakan yang sama dengan yang Ayahnya jalankan. Lebih tepatnya Ayah Maru membuka cabang di tempat Maru dan Sora tinggal.
Karena kota ini semakin maju, banyak orang-orang yang membuka usaha dan menggunakan jasanya untuk mencetak selembaran promosi usaha-usaha baru yang orang sekitar jalankan.
Maru menjalani hari-harinya pergi ke kantor kecilnya yang masih hanya ada beberapa orang karyawan. Sedangkan Sora mengurus guest house yang mereka jalankan sejak awal mereka menikah, tentu Sora dibantu beberapa orang yang membantunya untuk mengurus penginapan tersebut.
Hari ini Sora kedatangan pengunjung yang akan menginap di penginapannya untuk beberapa hari.
Sora menyiapkan beberapa keperluan yang akan dibutuhkan.
"Mbak Sora, tamu yang mau nginep udah datang mbak." Adik mbak Santi yang membantu Sora memberikan informasi kepada Sora.
"Oh, ya... yang mau nginep selama satu minggu itu bukan?" Sora memastikan kembali.
__ADS_1
"Iya mbak, katanya dia mau jalan-jalan di sini, refreshing.. satu minggu..." Tian menambahkan "Orang kaya mah bebas, mau jalan-jalan ampe seminggu, nginep lagi. Lama amat.."
Sora hanya tertawa ringan mendengar perkataannya,
"Ya bebaslah, hidup mereka ini. Mau berapa lama juga yang penting mereka bayar kita, iya enggak?" Sora menggoda Tian.
"Mereka? yang nginep satu orang doang mbak. Cewek."
"Satu orang? Aku kira rombongan kayak biasanya. Kalau satu orang doang, mending tempatnya di bangunan yang emang buat satu atau dua orang aja ya, kalau yang rame-rame takutnya dia keganggu juga." Sora memberikan perintah kepada Tian.
"Siap mbak.." Tianpun menjalankan perintah Sora dan mengarahkan tamunya ke tempat yang telah Sora tentukan.
Bangunan yang biasa di pakai untuk satu atau dua orang, yang tidak terlalu besar. Namun, fasilitasnya tetap sama.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri?" Sora heran dengan Maru yang terus tersenyum.
"Kamu cantik banget sih.." Maru menggodanya.
"Aahh.. mulai deh.. kamu pasti ada maunya deh." Sora sudah sangat mwngerti kelakuan suaminya itu.
"Ayolah sayang... aku tuh jujur, kamu tuh cantik. Setiap hari kamu tuh makin cantik. Gak ada yang ngalahin." Maru mencium setiap inci wajah Sora.
"Iihh... sana mandi dulu deh,, kok tumben sih pulangnya ampe malem, banyak banget kerjaannya apa?" Sora mulai beranjak dari tempat tidurnya, melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan airbhangat untuk suaminya.
"Iya.. lumayan lah.. ada rezeki lebih, jadi kerjanya juga harus lebih dong.." Maru mengikuti langkah Sora.
__ADS_1
"Syukur kalau gitu..."
"Sekarang kan malam minggu, ayo kita malam mingguan.." Maru lagi-lagi menggoda Sora.
Sora hanya cengengesan melihat kelakuan Maru yang merasa masih seperti pengantin baru.
"Iya.. makannya kamu harus mandi dulu, harus wangi.. makan dulu.. biar bertenaga.." Kini Sora yang menggoda Maru, dengan berbisik di telinga Maru. Yang tentu saja membuat Maru semakin merasa tertantang.
"Aku kan udah makan tadi... jadi aku cukup mandi aja... biar wangi..." Maru memberikan senyuman mautnya.
Setelah selesai membersihkan seluruh tubuhnya, Maru yang masih mengenakan handuk dipinggangnya langsung menghampiri Sora yang tengah berada di atas tempat tidur.
"Kamu... pake baju kek.." Pekik Sora yang kini berada di bawah tubuh Maru.
"Buat apa, toh ujung-ujungnya dibuka juga semuanya. " Maru menciumi setiap lekukan tubuh Sora.
Sora menghentikan Maru. Keduanya saling menatap begitu dalam.
"Aku masih berharap... berharap kalau aku bisa hamil.." Sora mengecup Maru.
Maru tersenyum bahagia, bagaimana tidak. Setelah beberapa waktu yang lalu Sora selalu mengatakan omong kosong. Yang intinya dia sudah tidak percaya diri bisa hamil.
"Aku akan berusaha mewujudkan harapan kamu itu... Semoga kali ini kita berhasil..." Maru mengecup Sora.
Keduanya bergelut dengan perasaan keduanya yang sama-sama sedang baik. Sampai keduanya mengakhiri aktivitasnya dengan tidur saling memeluk tubuh satu sama lain.
__ADS_1