Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
82. Kehidupan Suami-istri


__ADS_3

Kini Sora dan Maru telah menetap di kota kelahiran Sora. Dengan menempati sebagian villa yang telah Maru beli dan menjadikan bangunan lainnya untuk di seakan atau lebih tepatnya seperti guest house, dan tentu saja Sora dan Maru yang mengelola bangunan itu.


Keduanya hidup dengan suasana yang baru, tanpa ada rintangan seperti dulu, rintangan yang menyebabkan cinta keduanya retak.


Maru dan Sora meninggalkan semua kenangan buruk dimasa lalunya, termasuk meninggalkan orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan cinta keduanya, bisa dibilang mereka menjadi egois dengan tidak ingin tahu sama sekali kehidupan orang-orang yang pernah mengisi kehidupan rumah tangga mereka.


Tempat tinggal keduanya yang berada didekat pantai, selalu membuat mereka merasakan nuansa romantis, terutama pada sore hari, hari dimana matahari terbenam terlihat sangat cantik. Seperti kali ini, keduanya sedang menikmati matahari terbenam duduk ditepian pantai, karena kebetulan sedang tidak ada tamu yang datang ke guest house mereka.


Maru sesekali mencium puncak kepala Sora yang memang duduk dengan posisi di dekat oleh Maru dari Belakang. Keduanya menikmati matahari terbenam dan juga menikmati pemandangan ditambah anak-anak yang masih berlalu lalang bermain di sisi pantai. Sora yang menyaksikan setiap gerak-gerik anak-anak, terlihat sangat menikmatinya.


"Kamu, kalau boleh dikasih nawar, kamu pengen punya anak berapa?" Sora menanyakan hal random, karena dia melihat anak-anak yang tengah bermain.


"Aku.... terserah kamu. Yang hamil kamu, tubuh kamu, yang lebih berjuang juga kamu... Aku cuman mendukung semua keputusan kamu..." Maru tersenyum ketika wajah Sora menatapnya dan segera ia mengecup bibirnya.


"Kamu pikir, aku doang yang berjuang. Kamu juga harus berjuang dong..." Sora kembali memancing suaminya itu. Sebenarnya dengan jawaban tadipun Sora sudah merasa sangat melayang.


"Aku cuman bisa berjuang nemenin kamu doang, aku bakal turutin semua keinginan kamu. selama kehamilan kan itu kamu yang menjalani, tubuh kamu yang akan merasakan semuanya. Aku... terserah kamu.. sayang." Maru lagi-lagi mencium setiap inci wajah Sora.


"Lucu banget ya mereka, kalau Radin masih ada, berarti sekarang dia usianya udah dua tahun lebih ya... pasti lagi lucu-lucunya.." Sora mengandai membayangkan anaknya yang telah berada disurga Tuhan.

__ADS_1


Maru menatap sendu wajah Sora yang masih memandangi anak-anak berlarian.


"Kamu pengen cepet-cepet punya anak?" Maru memberanikan diri bertanya.


"Hheemm... kalau boleh nawar, aku pengen cepetan punya anak. Tapi, kalau misal kamu masih mau menunda juga aku gak apa-apa sih.." Sora masih tersenyum memandangi anak-anak yang kini telah berlari untuk berhenti bermain menghampiri orangtua mereka.


"Aku mau kapan aja boleh, aku siap kapan aja. Mau bikin sekarang... ayo..." Maru menggoda Sora dengan menggelitik pinggang Sora, yang menyebabkan Sora tertawa dan memluknya.


"Mau punya anak sekarang, nanti atau kapanpun. Aku akan selalu siap. Selama Ibu dari anak-anak aku kelak itu kamu." Maru menatap mata Sora dengan sangat dalam, ia menciumi bibir Sora dengan suasana hari yang semakin gelap.


"Makasih... Makasih karena kamu suami aku..." Sora membalas ciuman Maru.


"Makasih... karena kamu nerima aku sebagai suami kamu.." keduanya saling mematuk bibir layaknya burung.


Terang saja Sora sangat kegirangan, karena dia juga sangat merindukan keponakan satu-satunya itu. Bagaimana tidak, setelah menikah dengan Maru beberapa bulan yang lalu, Sora tidak lagi mendengar celotehan Henry yang selalu ia dengar.


Sora sangat menyayangi keponakan lucunya itu. Apalagi usianya yang sudah satu tahun lebih.


Mata Maru tidak lepas dari Sora. Ia begitu bahagia karena istrinya itu sangat menyayangi anak-anak, yang sudah jelas dia akan sangat menyayangi anaknya kelak. Marupun sudah membayangkan untuk segera mempunyai anak dengan Sora, meskipun keduanya masih terbilang baru sebagai pasangan suami-istri.

__ADS_1


Baby Henry tidur ditengah antara Sora dan Maru.


"Kamu harus latihan tidur sama bayi.." Sora menggoda Maru.


"Kamu pikir aku gak bisa apa? Bisa dong..." Dengan percaya diri Maru membalas.


Namun, ketika malam hari, dimana baby Henry menangis Maru terkaget dan susah tidur kembali. Maru melihat gerakan lihai Sora yang menenangkan baby Henry, menggendongnya dan juga memberinya susu formula.


Sora tersenyum melihat Maru yang terus memandanginya.


"Gimana, kamu siap gak punya anak?" Lagi-lagi Sora menggodanya.


Sejenak Maru terdiam.


"Kamu mau ngetes aku ya,.. ya aku siap dong.."


Maru tetap dengan percaya dirinya.


"Meskipun nanti baby nya nangis kayak gini tiap malam? Kamu mau bantuin aku gitu?"

__ADS_1


"Kamu bangun, aku juga bakal bangun... kamu gak bakal sendiri.. tenang aja.. ada aku yang ada selalu untukmu.." Maru melakukan gerakan yang konyol..


"Dasar lebay.." Sora tersenyum geli melihat kelakuan Maru.


__ADS_2