
Maria tersadar dari pingsan diatas ranjang rumah sakit. Seketika matanya terbuka, di dapatinya Sora dan Maru yang tengah menjaganya dengan terus menunggunya sampai dirinya tersadar.
Sora menyampaikan semua diagnosis yang dokter berikan kepada Maria. Dimana Maria hanya merasa lelah dan stress, dan sedikit mengganggu keadaan kehamilannya tersebut.
Sora dan Maru tidak berani untuk membuka mulutnya lagi setelah menyampaikan keadaan Maria yang dokter katakan.
Meskipun Sora dan Maru tidak bertanya, Maria membuka mulutnya sendiri mengenai kehamilannya tersebut.
"Aku gak sadar kalau aku hamil. Aku ngerasa semua gejala yang aku rasain cuman tidak enak badan. Bodohnya aku, padahal aku sendiri pernah hamil." Maria mengatakan semuanya dengan senyum getir.
"Gak apa-apa, yang penting kamu sama bayi kamu sehat-sehat aja. Gak ada hal buruk sama kalian." Sora menenangkan Maria.
"Kenapa kalian nolongin aku? Harusnya kalian biarkan aja aku. Biar mati sekalian.." Maria berbicara dengan tatapan mata terus menatap arah langit-langit kamar rumah sakit.
"Kamu kok ngomongnya gitu sih? Jangan ngomong kayak gitu lagi." Sora memberikan peringatan kepada Maria.
"Tapi aku gak ingin bayi ini lahir. Aku gak mau.." Kini Maria mengeluarkan butir bening dari matanya.
"Maria stop. Jangan ngomong ngaco lagi. Kamu tinggal bilang apa masalahnya. Kalau kita bisa, pasti kita akan bantu." Sora kembali menenangkan Maria.
"Aku cuman gak mau bayi yang gak diharapkan ini lahir. Aku bener-bener gak punya rencana buat punya anak lagi."
__ADS_1
"Kenapa? Apa Ayah Bayi kamu belum tahu? Atau dia gak terima?" Sora menanyakan hal yang sangat sensitif yang membuat Maru terkejut dan menahan istrinya untuk tidak menanyakan hal seperti itu lagi.
"Bahkan aku gak tahu siapa dia!" Kini Maria menatap kedua orang yang telah menolongnya.
"Maksud kamu apa? Kamu takut? Aku bakal bantuin kamu buat bicara sama Ayah bayi kamu itu." Kini Maru ikut meyakinkan Maria.
"Aku serius, aku gak tahu siapa Ayah bayi aku ini! Aku kan udah bilang, aku berhubungan dengan banyak pria. Dan aku gak tahu siapa diantara mereka yang gak pake pengaman, sampe aku hamil gini." Maria kembali tersenyum getir.
Sora dan Maru kembali terdiam dengan perasaan yang sangat campur aduk. Tiba-tiba Sora merasa sangat menyesal dengan keadaan Maria yang sekarang berada dihadapannya ini.
Maru hanya mwnghela nafas dengan kasar. Ia tidak bisa berpikir jernih, dia tidak bisa memikirkan jalan keluar untuk Maria.
"Gak apa-apa Maria. Kita bakal bantu kamu. Tenang aja." Sora terus meyakinkan Maria.
"Caranya? Kamu mau minum obat penggugur kandungan yang kamu pesen itu? Atau kamu mau pergi ke tempat klinik aborsi yang ilegal itu?" Sora menghujam Maria dengan pernyataan yang sangat lugas.
"Kamu check handphone aku? Bener-bener tukang ikut campur. Terserah aku mau gimana juga caranya, jangan ikut campur." Maria menjadi lebih sinis.
"Apa kamu tega bunuh bayi yang bahkan belum lahir ke dunia ini?" Sora sangat menyayangkan keputusan Maria.
"Justru karena itu, dia belum hadir di dunia yang kejam ini, aku gak mau dia tersiksa hidup di dunia ini kayak aku. Lebih baik sekarang daripada nanti." Maria menekan kata-katanya sembari menatap sinis Wora dan juga Maru.
__ADS_1
"Maria. Kamu harus tenang, aku tahu kamu kayak gini karena kamu lagi emosi, lagi kesel. Kamu harus tenang dulu." Maru tahu betul keadaan Maria sekarang.
"Iya, bener Maria. Kamu harus tenang dulu. Istirahat dulu, jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu." Sora sangat tulus.
"Terima kasih, aku akan istirahat sampai lusa di tempat kalian aja. Lusa tepat seminggu aku nginep di guest house kalian, jadi aku akan pergi setelah itu." Maria langsung berpamitan.
"Tunggu dulu.. kamu dalam keadaan seperti ini mau pergi kemana? Kamu masih punya tempat untuk kembali di suatu tempat?" Sora penasaran, karena yang dia ketahui Maria terus berpindah tempat seperti apa yang Maria katakan sendiri.
"Gak usah banyak tanya, bukan urusan kamu." Maria kembali menutup diri.
"Aku khawatir kalau kamu bakalan bunuh bayi kamu. Kalau kamu gak mau bayi kamu, kasih aja buat aku!" Sora sangat kesal dengan Maria yang sangat keras kepala.
Maru dan Maria yang mendengar sangat terkejut. Terutama Maru, ia menenangkan istrinya yang mulai ikut sinis.
"Sayang tenang, kamu jangan ngomong kayak gitu." Maru meraih tubuh Sora dan meletakkan tangannya pada bahu istrinya itu.
"Aku serius! Kalau kamu emang gak mau bayi kamu, kasih aku aja. Aku mau kok jaga bayi kamu itu. Kamu cukup bertahan aja dengan mengandung dia. Setelah bayi itu lahir, dia jadi anak aku. Aku mohon bertahalah." Sora tiba-tiba merasa sangat hati, tanpa ia sadari ia menitikkan air matanya.
"Aku susah untuk hamil lagi, Maria. Sedangkan kamu yang sekarang lagi hamil malah mau buang bayi kamu. Kamu tu sangat egois." Air mata Sora semakin deras.
Maria yang mendengarkan fakta tersebut hanya diam menatap Sora dalam diam. Air matanya ikut keluar begitu saja, mengikuti tangisan Sora.
__ADS_1
Maru yang merasa serba salah, langsung menarik Sora keluar dari ruangan tempat Maria berbaring. Ia berbicara empat mata dengan istrinya itu.