Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
98. Bujukan Sahabat I


__ADS_3

Maru yang sudah dua hari satu malam tidak pulang, akhirnya kembali pulang ke rumah yang dia tempati bersama Sora.


Sora menyambutnya dengan matanya yang berkaca-kaca. Hatinya merasa sakit, karena untuk pertama kalinya Maru bersikap seperti itu, yang menandakan bahwa suaminya itu benar-benar sangat marah padanya.


Maru yang menyadari sambutan istrinya dengan air mata tanpa sepatah kata itupun langsung memeluk istrinya. Maru memeluk istrinya dengan sangat erat seraya mengecup puncak kepala Sora.


"Maafin aku, tapi aku benar-benar butuh sendiri kemarin." Maru mencium kening Sora.


"Harusnya aku yang minta maaf. Aku tahu aku yang salah." Kini Sora terisak dengan membenamkan wajahnya pada dada suaminya.


"Kita bicarakan dulu semuanya baik-baik. Kamu jangan gegabah dulu dalam ambil keputusan. Kamu harus cerita semuanya apapun itu sama aku dulu. Okay?" Maru menyadari bahwa sikapnya, yang telah meninggalkannya selama dua hari, telah menyakiti istrinya itu.


Sora menganggukan kepalanya.


Maru bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, karena memang hari sudah semakin malam.


Disaat Maru melakukan aktivitasnya, Sorapun melakukan aktivitasnya, yaitu menyiapkan makan malam untuk Maru.


Selepas mengisi perut pada malam hari, keduanya membicarakan perihal hal yang tengah terjadi antara keduanya.


"Kamu masih marah sama aku?" Sora memulai pembicaraan mengenai pembahasan itu.


"Aku mau marah atau enggak juga, aku tahu kok.. kamu pasti akan terus maju tentang keputusan kamu itu, kan?" Maru terlihat kesal, namun pengertiannya pada Sora tidak hilang.

__ADS_1


"Aku gak tahu, sekarang aku gak tahu harus gimana." Sora menjadi bingung.


"Ibu kamu bilang apa?" Maru menanyakan pendapat sang mertua.


"Awalnya Ibu marahin aku.. tapi, dia bilang itu bukan keputusan dia atau keputusan Kak Soni. Semuanya ada pada kita berdua." Sora menundukkan pandangannya.


"Terus, kenapa sekarang kamu bilang gak tahu harus gimana?" Maru tidak mengerti dengan perkataan istrinya itu.


"Maria pergi. Dia udah pergi. Awalnya aku larang dia buat pergi, aku suruh dia buat nunggu kamu sampai pulang. Tapi, dia pergi tanpa bilang sama aku. Kayaknya dia pergi pas malam, soalnya pagi aku lihat dia udah gak ada. Yang ada cuman surat ini." Sora menyerahkan surat yang terbubuh tulisan tangan Maria.


Maaf, kayaknya aku harus pergi.


Memang gak seharusnya aku di sini.


Tapi, aku janji. Setelah anak ini lahir, aku akan datang pada kalian, anak ini akan jadi anak kalian. Karena aku benar-benar tidak percaya diri untuk merawat anak ini.


Maru hanya membacanya dengan sunyi, entah kenapa hatinya tiba-tiba terasa sangat sesak. Mungkin karena rasa iba yang ia berikan pada Maria. Bagaimanapun, wanita yang bernama Maria itu pernah berada di hatinya untuk waktu yang cukup lama.


Maru menatap Sora yang menunjukkan wajah tanpa ekspresi.


Karena keduanya merasa sangat pening, memutuskan untuk tidak meneruskan pembicaraan penting tersebut lagi. Keduanya beranjak tidur dalam diam.


Pagi yang cerah, Maru memutuskan untuk tidak pergi ke kantornya. Dia merasa khawatir melihat Sora yang kembali terlihat lebih pucat. Maru tidak ingin kecolongan lagi dengan Sora yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa, kamu pergi aja. Jangan mentang-mentang kamu atasanya, jadi kamu gak pergi seenaknya gitu. Kamu udah dua hari gak masuk kan?" Sora merasa tidak enak hati.


"Justru aku atasannya, aku jadi lebih berani. Kalau aku cuman karyawan, mana berani. Lagian, mana tega aku tinggalin kamu sendiri. Liat aja, wajah kamu udah pucat begini, tdi malem juga kamu tidurnya ngigo terus." Maru menempelkan tangannya ke dahi Sora.


"Aku gak apa-apa. Cuman istirahat sebentar pasti baikan kok. Kamu jangan berlebihan gitu deh." Sora tetap meminta suaminya untuk pergi bekerja.


Maru tidak memperdulikannya, ia hanya terus menatap wajah Sora. Dia merasa sakit, melihat kondisi Sora yang semakin hari terlihat sangat lemah. Jarang ada senyuman dalam hari-harinya. Maru kembali menyadari, semuanya salah dia. Salah dia dari awal.


Suara bel rumah, menggema di ruangan. Sora bergegas membuka pintu, berharap Maria yang datang kembali.


Membuka pintu, matanya bertemu dengan mata yang ia kenal.


"Zaenal?" Sora terperanjat, senyuman tersirat dari wajahnya. Maru yang mendengar nama Zaenal langsung berdiri.


"Kamu apa kabar?" Zaenal membelai puncak kepala Sora. "Kok kamu keliatannya makin kurus aja sih?" Zaenal masuk melangkah kedalam rumah, meskipun tuan rumah belum mempersilakan dirinya.


"Aku baik. Kamu gimana kabarnya? Kok kamu sendiri? Anak-anak yang lain kok gak dateng?" Sora menanyakan Rosa dan Rendi.


"Kamu gak seneng apa? Aku doang yang dateng." Zaenal memasang wajah kesal.


"Bukan gitu, aku cuman aneh aja. Kok kamu doang yang dateng." Sora memegang tangan Zaenal.


Zaenal tersenyum, sudah sangat lama ia merindukan sentuhan kecil dari Sora yang memang begitu baik pada semua orang. Maru yang melihatnya, sedikit terasa panas. Ia hanya membuang muka dan mengatur nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2