
Mamah Maya dan suami mengunjungi rumah anaknya, Maru. Yang kini benar-benar terpuruk. Dia selalu mencari keberadaan Sora namun tidak pernah membuahkan hasil. Bahkan perusahaan yang Ayahnya percayakan padanya dia abaikan, sehingga Ayah dan Kakaknya harus kerja ekstra mengambil alih sementara. Maru tidak ada niatan untuk meninggalkan rumah itu, dia berharap mungkin Sora akan kembali Pulang kerumah mereka.
Sekarang laki-laki ini sendiri, hidupnya sangat hancur. Setelah kepergian Sora yang tanpa pamit membuat Maru menjadi pendiam, pemarah, arah hidupnya menjadi berantakan. Hampir setiap hari dia menenggak minuman beralkohol kala dia pulang kerumahnya selepas mencari keberadaan mantan istrinya yang tak pernah membuahkan hasil.
Mamah Maya melihat anaknya yang duduk dilantai yang sedang meneggak minuman beralkohol hanya bisa menangis di ambang pintu.
“Maru, Mamah mohon. Kamu jangan kayak gini.” Mamah Maya terisak menghampiri putranya.
“Mamah gak tahan liat kamu kayak gini, sudah lima bulan kamu begini nak. Mamah mohon.” Dia mengusap pipi Maru yang basah oleh air mata.
“Mah... dia bilang dia nyesel pernah hidup sama aku, dia neyesel kenal aku. Mah,... Aku yang salah mah..” Tangisan Maru pecah, tangisan yang terdengar sangat pilu. Sang Ayah yang selalu tetap tenang kini air matanya lolos dari matanya.
Mamah Maya memeluk erat anaknya.
Bukan hanya Maru yang mersa hidupnya sepi sendiri. Zaenal, laki-laki yang notabenya hanya disebut sebagai temannya, merasakan hal yang sama. Ia selalu mencoba mencari keberadaan Sora, tak jauh beda dari mantan suami Sora, hasilnya nihil.
☆☆
Ditempat yang berbeda, seorang gadis tengah duduk di batuan pinggir pantai, rambut panjangnya tertiup angin yang semakin menambah menarik paras wajahnya yang kini sedang tersenyum.
“SORA..” Teriak laki-laki yang mengimbangi suara ombak seraya menghampirinya.
“Apa.. ada apa?” Tersenyum tulus.
__ADS_1
Laki-laki yang kini duduk disamping Sora ikut tersenyum.
“Kenapa kamu senyum sendiri?” Tanyanya pada gadis itu.
“Hhhaa... cuman seneng aja... setelah sekian lama, aku bisa merasakan hidup aku kembali.” Sambil merentangkan tangannya.
“Setelah sekian lama kamu disini, baru merasakan sekarang? Wwwaahh.. bener-bener ya kamu. Emang apa yang bikin kamu merasa senang sekarang?” Tanyanya antusias.
“Aku juga gak tahu. Aku lihat hari ini langitnya cerah banget, cantik banget kan.. tuh liat.” Menunjuk ke langit biru yang bersih tanpa ada kapas putih.
“Ganten kali, bukan cantik.” Candanya sembari menempatkan jari telunjuk dan jempolnya didagu berbentuk V.
“Apaan siih.. bukan langit kamu. Tuu.. langit diatas.” Kini dia tertawa.
Sora pergi meninggalkan kehidupan sebelumnya dan pindah ke kota kelahirannya, bahkan Kak Soni dan istrinya ikut pindah kesana. Lebih tepatnya kampung halamannya yang telah ia tinggalkan dari SD, semenjak orangtuanya bercerai. Ibu Reni membawa kedua anaknya ke kota lain karena tidak mau kalau masih harus berurusan dengan Ayah anak-anaknya. Ibu Reni dan Ayah Sora dulu adalah pasangan sekampung. Ya, kalau zaman sekarang mungkin bisa dibilang ‘Pacar Lima Langkah'.
“Sekarang apa rencana kamu?” Tanya Langit.
“Sekarang... aku cuman pengen ngumpul sama temen-temen sekolah yang lain. Ayo.. kita kumpul yo...” Ajaknya lebih antusias.
“Kamu lupa, apa bodoh? Temen sekolah yang seumuran disini cuman kita berdua. Gak ada lagi.” Mengangkat bibir kirinya.
“Aahhh.. iya juga ya... waktu itu kita juga berdua terus... hahaha.” Sora merasa konyol.
__ADS_1
“Sedih banget dulu kamu tiba-tiba pindah gak tahu kemana. Tapi sekarang aku seneng, kamu balik lagi kesini.” Memainkan krilil yang tergeletak disana.
“Mmm.. dulu bisa dibilang Ibu pindah alias melarikan diri dari Ayah. Tempat itu adalah pelarian kita. Gak nyangka sekarang kita malah balik kagi kesini, tempat ini aku jadikan pelarian.” Tertawa getir.
“Aku gak tahu penyebab kamu balik lagi kesini. Aku bener-bener seneng banget. Tapi, bakal lebih seneng kalau kamu terus akan tersenyum seperti ini. Aku janji, pasti bakal bikin kamu senyum, ketawa terus tiap hari.” Tatapan dalam didapatkan oleh mata Sora.
“Hahaha... bener-bener ya kamu emang temen terbaik. Untung aja ada kamu yang aku kenal. Kalau enggak, mungkin aku masih bakalan diem dirumah bantuin Ibu bikin kue.” Tandasnya.
“Udah ayo ah... ini langitnya bukan cerah lagi, tapi ngebiarin matahari langsung turun kebumi. Liat gak ada awan yang block. Lama-lama kita gosong disini.” Seraya membatu Sora untuk berdiri.
Sora beranggapan akan segera melupakan semua kejadian yang menimpanya yang membawanya ketempat ini, terutama melupakan sosok yang benar-benar ingin dia hapus dari ingatannya. Meskipun sudah hampir setengah tahun, nyatanya dia masih belum bisa melupakan sepenuhnya. Sosoknya, suaranya, senyumnya, kebiasaannya masih bersarang diingatannya. Karena itu ia terkadang amat sangat merindukan sosok itu.
Namun, ingatan dimana dia harus melihat kembali dia bersama wanita itu, ingatan diaman dia harus menerima kenyataan bahwa dia telah kehilangan bayinya membuat rasa benci bangkit kembali.
Semua perasaan itu dia simpan sendiri, tidak pernah dia ceritakan kepada siapapun. Karena dia tidak ingin jika orang-orang mengetahuinya akan mengasihaninya atau bahkan akan terus membahas atau bertanya tentang masa lalu yang ingin dia buang jauh-jauh. Termasuk kepada laki-laki yang kini memenuhi harinya, sebagai teman.
“Aduuuhh... kalian berdua, udah nikah aja.” Ujar seorang wanita yang usianya tidak tua dan juga tidak muda yang tengah menjajakan dagangannya, warung makan kecil-kecilan di pinggir pantai tempat orang-orang bercengkrama.
“Apaan sih Mbak Santi, kita cuman temenan doang.” Sahut Langit.
“Ya gak apa-apa, emang temen gak boleh nikah apa? Toh sama-sama single ini, kan?” Wanita yang dipanggil Mbak Santi ini terus menggoda keduanya.
Kembali ke kampung halamannya, hanya ada satu teman yang selalu menemaninya dan memberikannya semangat setiap hari. Langit. Laki-laki itu selalu mengajak Sora untuk berjalan-jalan santai, mengelilingi desa, belanja ke kota. Kehadiran Langit sedikit memberinya keceriaan, terkadang Sora selalu teringat temannya dulu, Risa, Zaenal, Rendi... Maka dari itu, Langit yang selalu berada disampingnya sedikit mengobati rasa rindunya kepada temannya.
__ADS_1