
Di usia kandungan Maria yang sudah menginjak 9 bulan, keadaan dirinya semakin membaik. Kesadarannya berangsur pulih sedikit demi sedikit. Dia sudah tidak terlalu masih menganggap Maru sebagai pasangannya. Tapi, untuk kenyataan bahwa Maria telah kehilangan orangtuanya, dia masih tidak ingin mempercayainya.
Sora dan Maru masih tidak lepas tanggung jawab. Keduanya masih selalu mengunjunginginya. Keduanya sepakat, jikalau Maria tidak ingin lagi memberikan anaknya untuk mereka, mereka akan menerima keputusan Maria itu. Bagaimana juga anak tersebut adalah anak dirinya sendiri. Tapi, Sora dan Maru memberikan syarat. Syarat dimana Maria harus merawatnya, jangan sampai meninggalkannya.
Seperti hari ini. Sora dan Maru datang untuk mengunjungi Maria dengan memberikan hadiah berupa baju bayi yang terlihat sangat mungil, dan juga imut. Maria tersenyum lebar.
"Makasih ya, aku benar-benar beruntung. Tapi, aku juga malu." Maria masih memegang pakaian bayi itu.
"Malu kenapa?" Sora menatap Maria.
"Kalau diingat lagi, dulu aku memang jahat sama kalian. Terutama sama kamu, Sora. Tapi, kalian berdua masih baik sama aku. Malah kalian jadi perwakilan keluarga aku." Maria mengungkapkan semua, meskipun terbesit rasa malu yang sangat luar biasa.
"Kamu manusia, aku juga manusia. Kita manusia. Semua manusia pasti pernah berbuat salah. Lagian kita juga udah saling minta maaf dan juga saling memaafkan kan, jadi kita lupain yang dulu, kita terus maju kedepan." Sora menyemangati Maria dengan menggenggam tangan Maria.
"Tapi, bagaimana kalau aku tidak ingin pisah dari anak aku ini?" Mata Maria semakin memerah.
"Aku turut senang. Selama ini, dengan kamu yang mau mempertahankan bayi ini aja aku udah seneng, apalagi kalau kamu mau merawat dia nanti." Senyuman tulus tersirat dari bibir Sora yang mungil.
"Terima Kasih.. Aku benar-benar berterima kasih. Tapi, kalau aku mati nanti. Tolong, jaga anak aku." Maria terdengar berbicara omong kosong oleh Sora dan juga Maru.
__ADS_1
"Kamu jangan ngomong kayak gitu. Maut ada ditangan Tuhan, Maria." Maru memperingati Maria agar tidak berbicara sembarang kembali.
Maru dan Sora masih beraktivitas seperti biasanya. Sora sangat tidak sabar menunggu kehadiran bayi dalam kehidupannya. Meskipun pada kenyataannya jika Maria tidak akan melepaskan bayinya, Sora akan tetap menerimanya dengan lapang dada.
Sora dan Maru, terutama Sora sudah mengumpulkan barang-barang yang akan dibutuhkan oleh Ibu yang baru melahirkan dan kebutuhan Bayinya juga.
Sora dan Maru sudah diberitahukan bahwa perkiraan kelahiran Maria tinggal menunggu sampai minggu depan. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Dengan tiba-tiba, Sora mendapatkan panggilan dari pihak yayasan, memberitahukan bahwa Maria akan segera melahirkan.
Sora sedikit terkejut dan langsung menelpon Maru agar segera pulang dan bergegas pergi menuju Maria berada.
Sesampainya disana, didapatinya oleh keduanya Maria yang tengah berbaring merasakan kontraksi yang luar biasa.
Tanpa Maru meminta pengertianpun, Sora sudah sangat mengerti dan memaklumi. Sora mengangguk ringan dan ikut menenangkan Maria yang merintih kesakitan.
"Kayaknya aku sebentar lagi lahiran. Boleh aku minta sesuatu, sesuatu yang bakalan kalian benci. Aku tahu, aku gak tahu malu." Maria memelas dengan mata yang telah berurai air mata.
"Sesuatu apa? Mungkin kita bisa bantu atau bisa kita beliin." Sora duduk dikursi disebelah ranjang Maria.
"Aku mau, selama proses lahiran, Maru temenin aku. Aku mau ditemenin sama Ayah dari bayi aku." Maria menatap Maru dengan air mata yang tidak bisa berhenti keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Maria? Kamu jangan ambigu gitu ngomongnya. Orang-orang bakal berpikiran kalau aku emang Ayah bayi kamu itu." Maru sedikit tidak nyaman dengan ucapan Maria.
"Sayang, kok kamu gitu sih ngomongnya. Gak apa-apa dong, dari awal kan dia memang anak kamu. Anak kita. Kamu temenin Maria berjuang ya, sayang." Sora yang mengerti maksud Maria, membujuk Maru agar mau menemani Maria.
" Tapi sayang, mana mungkin aku temenin wanita lain yang melahirkan. Mana mungkin aku lihat tubuh wanita lain, mana..." Maru yang masih sungkan dipotong ucapannya oleh Maria.
"Kalau kamu gak mau juga, gak apa-apa kok. Tenang aja." Maria menampilkan senyuman palsu untuk menutupi kekecewaanya.
Dengan tiba-tiba, rasa sakit diperut Maria semakin menjadi. Yang menyebabkan Maria meringis. Dokter yang dipanggil segera memposisikan Maria untuk melahirkan.
Sora keluar dari ruangan, Maru yang hendak mengikuti Sora, tangannya diraih oleh Maria sehingga ia tidak mengikuti Sora keluar.
Maria berjuang hidup dan mati melahirkan bayi yang sangay ditunggu-tunggu ditemani ditemani oleh Maru. Maru menerima semua perlakuan Maria yang menjadikannya pelampiasan dari rasa sakitnya sampai suara tangis bayi pecah memenuhi ruangan bersalin tersebut.
Maru yang menyaksikan perjuangan Maria dan juga perjuangan bayinya ikut menangis tanpa ia sadari. Maru membelai puncak kepala Maria, dan berterimakasih.
"Selamat, anak pertamanya berjenis kelamin laki-laki. Lahir pada jam 14:15, dalam keadaan sehat." Dokter mengumumkan waktu kelahiran setelah mengecek semua kesehatan bayi mungil tersebut.
Maru beranjak keluar ruangan, menghampiri Sora yang terus mondar-mandir menunggu. Sora yang melihat Maru langsung berlari kearah Maru yang masih meneteskan air mata.
__ADS_1
"Anak pertama kita laki-laki, sayang. Dia sehat." Maru memeluk Sora dengan sangat erat.