
Kandungan Maria sudah memasuki bulan terakhir. Dokter yang menangani Maria mengatakan bahwa kemungkinan waktu kelahiran bayi Maria bisa ditunggu untuk beberapa minggu kedepan lagi.
Maru dan Sora masih dengan kesabaran dan kelapangan dada mereka selalu menemui Maria meskipun beberapa kali mendapatkan penolakan dari Maria dimana kala Maria sedang tidak stabil.
Tidak untuk hari ini, Maria tidak menolak ataupun mengusir keduanya. Maria lebih tenang. Ketiganya duduk di kursi taman dengan Maria yang terus mengusap perut buncitnya.
"Bayi aku semakin aktif pergerakannya..." Marianyang sedari tadi terdiam membuka mulut seraya dengan terus mengusap perutnya.
"Syukurlah kalau begitu. Berarti kamu dan anak kamu sehat." Sora merespon Maria.
"Kamu mau pegang perut aku..?" Maria masih menatap kedepan. "Maru.." Kini matanya mengarah kepada Maru.
Sora dan Maru terdiam. Untuk pertama kalinya Maria menawarkan kepada keduanya untuk merasakan pergerakan bayinya itu.
Maru hanya sedikit menggelengkan ringan kepalanya seraya tersenyum.
"Kamu bilang kamu bakal jadi Papa anak aku ini. Harusnya kamu itu sayang dia dari sekarang, nggak deh, harusnya dari dulu.." Maria kembali menatap kedepan.
"Maria.." Ucapan Maru dipotong oleh Maria.
"Harusnya Papa bayi itu mengusapnya, merasakan pergerakan dia, ajak dia ngobrol. Tapi, kamu... kamu bener-bener kayak seorang pembeli buah yang nunggu buahnya matang dipohon. Ditungguin doang, dan yang ngurus tetep sipemilik pohon itu." Maria ngelantur.
Namun, ucapan Maria itu menusuk Maru dan juga Sora. Keduanya sadar, baik Maru ataupun Sora tidak pernah memperlakukan Maria seperti itu. Setiap kali mereka datang, yang akan mereka tanyakan hanyalah kesehatan Maria dan kesehatan bayinya saja. Tidak pernah memperlakukan sebagaimana keluarganya kepada keluarga wanita yang tengah mengandung.
__ADS_1
Maru yang merasa sangat tertampar dengan ucapannya itu, terus menatap Sora. Sora beranjak ingin pergi namun ditahan oleh Maru yang ikut berdiri.
"Kamu mau merasakan pergerakan bayi kita?" Maru menawarkan kepada Sora. Sora terdiam menatap Maru dan Maria bergantian.
"Aku maunya itu kamu, Maru. Bukan Sora." Tanpa basa-basi Maria menolak Sora dan menginginkan Maru.
"Sama aja Maria. Kita ini orangtua dia juga.." Lagi-lagi ucapan Maru dipotong oleh Maria.
"Kamu laki-laki, kamu Papanya. Dia perempuan, sama kayak aku. Bayi aku udah sering denger suara aku." Maria dengan gamblangnya berkata yang sedikit menyakiti Sora.
Sora mengerti keinginan Maria. Bagaimana juga Sora pernah mengandung. Ketika dirinya mengandung, ia juga sangat ingin mendapatkan perhatian dari Papa sibayinya, yang tidak lain adalah Maru.
Sora menganggukan kepalanya kepada Maru. Tanda dia mengizinkan Maru untuk mengusap perut Maria yang buncit itu.
"Maria benar, sayang. Apa salahnya kamu coba merasakan perut Maria. Aku gak apa-apa kok. Jangan khawatir sama aku. Gimana juga dia kan anak kita." Sora tersenyum tulus kepada Maru seraya membelai pipi Maru.
Marupun kembali duduk dengan posisi duduk disamping Maria. Maru mengusap perut Maria dengan lembut. Tanpa disadari, pelupuk matanya berat akan air mata. Yang akhirnya air matanya jatuh melewati pipinya.
Seketika Maru menjadi emosional. Dengan kebetulan yang sangat pas, bayi yang berada dalam perut Maria merespon ucapan tangan dari Maru. Bayi itu bergerak dengan aktifnya. Yang membuat Maru semakin emosional.
"Dokter bilang bayinya laki-laki." Mari memberikan informasi yang dia dapatkan dari dokter yang merawat dirinya.
Maru hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Bagaimana juga Sora adalah seorang wanita, seorang istri dari suaminya, Maru. Sudah jelas dia merasa sakit melihat pemandangan yang berada di sampingnya itu.
Sora melangkahkan pergi seolah memberikan kesempatan kepada keduanya untuk bercengkrama dengan bayi mereka.
Ketika Sora sudah jauh meninggalkan keduanya, Maria masih menerima perlakuan lembut Maru.
"Nanti, ketika aku melahirkan anak kalian ini, kalau aku mati.. tolong kubur aku disamping orangtua aku." Ucapan random Maria mengagetkan Maru.
"Kamu jangan ngomong kayak gitu. Kamu gak akan mati kok. Kamu pasti bisa." Tangan Maru beralih pada tangan Maria. Maru menggenggam tangan Maria.
"Aku gak percaya diri. Aku takut. Aku juga takut, kalau anak ini sudah lahir, aku takut kalau aku bakalan sayang sama anak ini. Giamana kalau aku gak mau ngasih anak ini buat kalian." Tiba-tiba Maria terisak.
Maru yang mendengarkan ikut meneteskan air matanya kembali.
"Itu naluri seorang ibu, Maria. Kalau kamu memang menginginkan anak ini. Aku dan Sora juga pasti akan sangat bahagia. Berarti kamu udah bisa menerima diri kamu sendiri." Maru terus memberikan motivasi kepada Maria.
"Tapi, aku gak sanggup kalau harus sendiri. Aku takut. Kamu gak ada, orangtua gak ada, keluarga satu orangpun gak ada disisi aku." Maria menjadi sedikit lebih emosional.
"Kamu gak sendiri. Ada aki, Sora. Kita selalu ada kok." Maru memegang pipi Maria yang basah akan air mata. Maru merasa sangat teriris. Maria yang dulu, Maria yang lembut kembali.
Maru memeluk Maria dengan tulus, kehangatan dirasakan oleh Maria.
Sora yang melihat dari ruangan gedung yang berada disekitar taman ikut menangis. Meskipun tak tahu apa yang keduanya bicarakan.
__ADS_1