
Jam istirahat Sora tiba, dengan seksama Zaenal masih tetap mengunjungi mall meski hanya untuk memandangi Sora. Mau dibilang mesum juga dia tidak peduli. Beberapa hari ini dirinya tidak bisa menemuinya, karena selalu ada Maru yang siap siaga disampingnya.
Kali ini lebih mengejutkan, karena orang yang sedang bercengkrama dengan Sora tak lain adalah Maria. Zaenal sedikit gugup, tapi dia tidak berani mendatangi keduanya. Akhirnya dia hanya menunggunya. Bahkan menunggunya sampai pulang. Kemana Maru? Lagi dibutuhkan saja orang itu tidak ada.
*
*~
Sora tengah bersiap, ia bersiap menenangka diri, menyiapkan mental, karena yang akan ia hadapi adalah wanita yang selama ini berada diruang lingkup hidupnya dan hidup Maru. Dengan berani dia menerima ajakannya untuk sekedar mengobrol ditaman kecil yang biasa ia datangi dengan Maru.
Tanpa basa-basi, Maria langsung mengatakan kata-kata yang menurutnya mengundang emosi.
“Aku mohon kamu lepaskan Maru. Jangan tahan dia.” Pintanya dengan ekspresi yang membuat Sora semakin emosi.
“Justru aku yang harusnya mohon sama kamu. Aku mohon, kamu bujuk pacar kamu itu untuk cepat-cepat urusin perceraian. Jangan tahan aku lagi.” Tak disangka, Sora melawan gertakan dari wanita itu.
“Kamu pikir siapa kamu? Buat apa Maru harus tahan kamu? Bukannya kamu yang gak mau lepas dari dia?” Sombongnya berbicara.
“Itu bukan urusan aku. Mau aku siapapun buat kalian. Kenapa? Kamu mulai terusik sama aku?” tersenyum menatap Maria yang mulai memerah.
“Murahan banget. Kamu nikah sama dia cuman pura-pura doang, pelarian doang. Gak usah bertingkah lebih jauh.” Berdiri dan mendekati Sora yang kini ikut berdiri, keduanya berhadapan dengan tatapan yang sama-sama penuh emosi.
Dari kejauhan Zaenal mulai merasa cemas, ia ingin melerai keduanya namun dia takut malah menambah keruh suasana. Dia merasa tidak ada hubungannya dengannya. Zaenal memutuskan menghubungi Maru dan menyuruhnya untuk cepat datang ke taman.
__ADS_1
“Harusnya kalau kamu gak mau kehilangan Maru, gak usah buat permintaan yang aneh-aneh. Seharusnya kamu pertahankan dia sampai akhir.” Tetap tersenyum.
Karena Maria sudah semakin tersulut emosi, ia sedikit mendorong Sora yang membuatnya sedikit oleng. Sora panik, dewi keselamatan masih menyelamatkannya. Zaenal menahan Sora, sehingga dia terhindar dari bahaya.
“Kamu gak apa-apa? Gak ada yang luka? Perut kamu sakit enggak?” Zaenal yang khawatir terus memeriksa tubuh Sora.
Sora yang panik, mulai memegang perutnya. Menggelengkan kepalanya, dia baik-baik saja.
Mata Zaenal langsung tertuju ke Maria yang ikut terlihat panik. Dia panik karena tiba-tiba muncul Zaenal.
“Apa-apaan lo? Kalau dia kenapa-napa mau tanggung jawab lo?” Membentak Maria.
“Kamu hamil?” Mata Maria memerah, dia tidak ingin jawaban ‘iya' yang harus dia dengar.
Dengan hanya melihat ekspresi Maria, terlihat jelas sudah jarang ada komunikasi diantara keduanya.
Tidak ingin terus berada disana, Sora meminta Zaenal untuk mengantarnya pulang. Mereka berlalu meninggalkan Maria yang masih berdiri mematung. Keduanya berpapasan dengan Maru yang berlari dengan buru-buru. Mata Sora memandangi Maru penuh kebencian. Bahkan dia menepis tangan Maru yang berusaha memapahnya.
“Sebaiknya lo tenangin Maria.” Zaenal Meminta Maru.
Maru menghampiri Maria yang kini duduk dibangku.
“Kenapa kamu gak cerita kalau dia sedang hamil?” Matanya terlihat kosong.
__ADS_1
“Aku berniat ngasih tahu kamu, nunggu waktu yang tepat.” Memberikan alasan yang klasik.
“Ini alasan kamu terus menunda percerain kalian berdua? Kalau iya, aku bisa menunggu. Setelah anaknya lahir kita bisa hidup bertiga.” Jelasnya kini ia seperti sedang memohon.
“Bukan itu, sebelum aku tahu dia hamil juga aku selalu ragu untuk berceria dengannya. Aku mencoba mencari jawabannya, dan ternyata aku gak mau lepaskan dia.” Maru memandang Maria dengan nadanya yang begitu getir.
“Aku? Bagaimana dengan nasib aku? Kamu mau tinggalin aku demi dia?” emosi memuncak.
Namun Maru tetap diam tanpa ada jawaban. Maria memukul tubuh kekarnyapun Maru tetap diam.
“Kamu harus cerikan dia. Aku udah menceraikan suami aku. Giliran kamu.” Pintanya
“Aku minta maaf, tapi mana bisa aku tinggalin dia?” menahan tangisnya.
“Aku kehilangan bayi aku, gak seharusnya dia memiliki bayi itu. Apa kalau bayi itu gak ada, kamu akan kembali ?” Semakin emosi.
Mendengar perkataannya, membuat Maru yang sedari tadi diam menjadi emosi.
“Kamu udah keterlaluan. Aku udah lelah dengan sikap kamu yang kekanak-kanakan. Aku bener-bener kecewa. Maksud kamu aku harus membuat bayi yang ada di kandungan Sora tidak ada? Menggugurkan? Itu anak aku, Maria.” Berdiri hendak meninggalkan wanita yang katanya sangat dia cintai itu.
Maria menahan Maru dengan memeluknya dari belakang.
“Kenapa ? Kenapa kamu jadi gini? Kita kan udah janji. Semua ini kamu lakuin karena kamu cinta aku kan. Makannya sekarang kamu tinggal bercerai saja sama Sora udah cukup. Kenapa kamu bilang ke kanak-kanakan. Selama ini kamu gak begini. Tentu aku bakal anggap itu anak aku sendiri. Karena dia anak kamu juga.” Cerocosannya tidak beraturan karena tangisannya.
__ADS_1
“Aku sadar, karena aku juga dulu kekanak-kanakan. Kenapa aku harus melakukan semua yang kamu PERINTAHKAN itu. Janji? Janji yang kamu buat sendiri itu bukan janji tapi perintah. Aku mohon untuk kedepannya jangan dulu menghubungi aku.” Melepaskan pelukan Maria, dan meninggalkan wanita itu tanpa menoleh kembali kebelakng.