
Maru dan Sora kini telah tiba dibandara Ngurah Rai, Bali. Tangan keduanya sangat lengket, tidak lepas barang waktu sedikitpun. Maru terus menggenggam tangan Sora dengan tangan satunya menarik koper yang berisi pakaian keduanya, dan juga menggendong ransel yang terlihat pas untuk tubuhnya yang kekar. Sedangkan Sora, dia yang menerima perlakuan tersebut hanya tersenyum dan mengikuti langkah kaki suaminya dengan menenteng tas kecil yang ia selendangkan dipundaknya yang mungil.
Maru dan Sora menaiki taksi menuju hotel yang telah Maru booking dari beberapa hari yang lalu. Setibanya keduanya langsung check-in dan memasuki kamar yang telah didekor dengan sedemikian rupa. Dekorasi yang sangat romantis, dekorasi yang sangat cocok untuk pasangan suami istri yang sedang berbulan madu.
Sora tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, mulutnya terus menganga, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Maru yang melihat gelagat istrinya, merasa sangat gemas. Iapun tertawa ringan. Dan langsung memeluk Sora dari belakang.
Maru mulai mencium punggung leher Sora dan terus menjalar kebagian lain termasuk telinga Sora yang ia cium dan ia gigit kecil.
"Stop...!" Sora membalikkan tubuhnya dan kini keduanya saling berhadapan.
"Kenapa?" Tanya Maru dengan tatapan yang memelas.
"Kita baru aja dateng, istirahat dulu lah... mandi dulu... main nyosor aja.. gak capek apa.." Sora berlalu meninggalkan Maru dan beranjak menuju kamar mandi.
Maru yang merasa istrinya itu bermain jual mahal, semakin menyunggingkan senyuman nakalnya dan lantas mengikutinya ke kamar mandi. Namun, pintu kamar mandi telah dikunci dari dalam.
"Sayang... beneran kamu kunci pintunya... buka dong.." Maru terus menggedor pintu kamar mandi itu dan sesekali mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Bagaimana tidak, ia sudah merasa sangat bergairah.
Sora yang kini tengah mandi didalamnya, hanya bisa tertawa ringan karena kelakuan Maru yang kini telah menjadi suaminya itu sangat tidak sabaran.
Sora keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono yang menutupi tubuh bagian atasnya, namun tubuh bagian bawahnya sedikit terekspos. Maru yang menatapi pemandangan dihadapannya hanya bisa tersenyum dan menelan salivanya.
Sora meminta Maru untuk segera membersihkan tubuhnya, bergantian dengan dirinya.
Setelah selesai membersihkan tubunhya, Maru keluar dengan menggunakan handuk yang ia lilitkan diatas pinggang, tanpa menutupi dadanya yang bidang.
Kini giliran Sora yang tersenyum dengan pemandangan dihadapannya.
Namun Maru yang tadinya sangat percaya diri dengan tubuhnya yang diekspos untuk istrinya itu langsung merasa heran, karena Sora telah berpakaian rapi layaknya akan keluar dan pergi kesuatu tempat.
"Kok kamu malah pake baju yang rapi sih.. mau kemana?" Maru bertanya dengan nada merajuk.
"Kita makan dulu, sambil jalan-jalan juga.. nih.." Sora berdiri dan menyerahkan pakaian untuk Maru yang telah ia siapkan.
"Kita pesen aja sih, kita kan lagi dihotel..." Maru semakin merajuk yang kini posisinya ia tengah memeluk Sora.
"Kamu kok gak sabaran banget sih... Ayolah.. jalan-jalan dulu, mumpung masih sore.." Sora terus membujuk Maru.
__ADS_1
Akhirnya Maru mengalah dan mengikuti kemauan istrinya untuk sekedar berjalan-jalan sebentar. Keduanya berjalan-jalan di jalanan Bali yang ramai, dan memutuskan untuk makan street food yang dijajakan disana.
"Kamu aneh ya, udah dikasih enak tidur dihotel. Makanan dihotel lebih enak, tinggal makan aja. Malah milih keluar." Maru masih sedikit ngedumel kepada istrinya itu.
"Kalau kita cuman dihotel doang, gak ada istimewanya lah,.. Seenggaknya kan kita entar ada kenangan yang lain.. iya nggak..?" Sora mengangkat sebelah alisnya.
Lagi-lagi Maru kalah dengan kelakuan istrinya itu.
Setelah puas mengisi perut dan berjalan-jalan santai hingga hari semakin gelap, keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Sora yang tidak tahu apa-apa, membuka kado dari sahabatnya Risa yang masih terbungkus rapi. Sora baru membukanya karena memang Risa yang memintanya untuk dibuka ketika berbulan madu.
Sora membuka bungkusan kado tersebut, dan dengan wajah terkejut dan juga speechless, ia segera memasukkan kembali kado yang telah ia lihat. Namun kegiatannya terhenti ketika tangan Maru menahannya dan melihat isi kado tersebut.
Maru tersenyum dengan sangat lebar, bahkan ia sedikit tertawa. Karena kado yang diberikan oleh temannya itu berupa lingering hitam. Lingering yang jika digunakan akan sama saja seperti tidak memakai pakaian.
Tawanya semakin keras kala melihat ekspresi istrinya yang meringis geli melihat pakaian yang masih dipegang oleh dirinya.
"Mau kamu pake baju apapun... kamu tetep paling cantik, paling seksi paling wow.. buat aku.." Maru mendekati wajah istrinya.
Sontak Sora memundurkan wajahnya agar tidak terlalu dekat.
"Jadi, kamu mau pake apa enggak?" Maru menggoda Sora dengan menyerahkan lingering tersebut.
Kurang ajar emang Risa... bikin malu aja dah..
Batin Sora menyalahkan temannya itu.
Maru semakin gemas dengan tingkah laku istrinya itu yang kini pipinya semakin merona karena malu.
Tanpa pikir panjang, Maru langsung memaut bibir Sora.
Sora yang tadinya tidak membalas, kini memberikan peluang untuk Maru. Keduanya saling berpaut... hingga Maru mengangkat tubuh Sora yang sedari tadi duduk di sofa membawanya ke atas ranjang.
Dilentangkan tubuh istrinya yang mungil itu, dengan posisi dirinya yang masih berada diatas tubuh Sora.
Maru menciumi semua tubuh Sora dari mulai bibir, leher, dan area-area lain.. yang... tahu sendiri lah...
Disela-sela kegiatannya, Maru membisikan kalimat mautnya ditelinga Sora.
__ADS_1
"I Love You, so so much."
Sora tersenyum sangat bahagia.
Maru kembali melancarkan kembali aksinya. Keduanya benar-benar merasakan bulan madu, dan pasangan suami-istri yang sesungguhnya.
Tubuh Maru kini telah memasuki tubuh Sora. Sora terperanjat karena terasa nyeri dibagian bawahnya. Terang saja, sudah berapa lama keduanya tidak melakukannya. Malam itu menjadi malam yang panjang dan panas untuk keduanya, yang membuat tubuh Sora lelah karena suaminya itu.
Kini keduanya berbaring dengan selimut yang masih menutupi tubuh mereka.
"Maru.." Belum sempat Sora menyelesaikan kata-katanya, dihentikan oleh telunjuk Maru yang menempel ke bibirnya.
"Aku suami kamu.. mau sampe kapan kamu panggil aku Maru.. Maru..." Lagi-lagi Maru merajuk.
"Terus aku harus panggil apa dong?" Tanya Sora yang memang masih terbiasa memanggilnya dengan Maru.
"Apa ke.. sayang ke.. kayak aku ke kamu.. beb... atau apalah.." Maru mengerutkan keningnya.
"Ya Ampun.. sama aja dong..." Sora menggoda Maru..
"Kamu pikir aku temen kamu apa.. yang seenaknya dipanggil nama... kayak manggil Zaenal, Rendi..." Maru masih terus merasa kesal..
Sora yang melihat suaminya kesal karena dirinya, memberanikan diri memanggil suaminya dengan panggilan yang tidak seperti biasanya..
"Okay... Sayang, beb, Chagiya, Yeobo, Anata..." Sora terdiam sejenak, Maru yang mendengarnya tersenyum dan kembali menciumi Sora.
"Banyak banget panggilannya... saking cintanya ya kamu sama aku.." Kini giliran Maru yang menggoda Sora.
"Tadi kamu mau ngomong apa, sayang..." Maru berbicara ditelinganya.
"Tukan, jadi lupa mau ngomong apa.. kamu sih... Sayang!" Sora sedikit cemberut.
Maru yang merasa bahagia karena Sora memanggilnya Sayang kembali menghujani Sora dengan ciumannya, dan kegiatannya pun dimulai kembali.
***💓💓💓
Hi... terima kasih yang udah mampir..
Dan jangan lupa untuk memberikan dukungannya, like atau komentar.. agar semakin semangat untuk mengkhayal...
__ADS_1
Sebelumnya mau minta maaf, karena memang ini yang pertama kalinya dalam menulis, pasti banyak kesalahan atau mungkin bahkan ceritanya yang agak gak nyambung.
Sekali lagi terima kasih dan mohon dukungannya terus.. 💞💕***