Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
51. Bukti


__ADS_3

Maru setia menemani Sora sampai ia tersadar. Sora berbaring diruang VIP, semuanya dilakukan oleh Ayah mertuanya yang begitu menyayanginya. Semua keluarga yang menunggu duduk di sofa. Maru tetap duduk disamping istrinya. Wajahnya begitu kusut, bagaimana tidak dari kejadian penusukan kemarin sampai saat ini ia belum memejamkan matanya.


Sora membuka matanya, tapi kesadarannya belum pulih sempurna karena efek dari bius total pascasarjana operasi Caesar yang dilaluinya. Maru memegang tangan Sora yang masih terpasang gelang status pasien. Ia merawat istrinya dengan sangat telaten.


Kesadaran Sora mulai kembali. Dia sempat bingung apa terjadi, sampai ia memahami dan mengetahui semuanya. Ia mulai menangis histeris. Semua orang yang ada disana menenangkan Sora dengan sabar, tapi wanita itu tetap histeris. Ia terus menangis sambil meracau.


Maru ikut menenangkan istrinya, namun Sora semakin tidak terkendali, yang Maru dapatkan malah umpatan yang keluar dari mulut Sora.


“Brengsek... ngapain ada disini... pergi dari sini...” Sora mengumpat dan terus memukul Maru.


“Kamu jangan gini. Kamu masih belum sembuh..“ Maru terkejut dengan perkataan Sora namun ia tetap menahan Sora.


“Brengsek... Aku bilang pergi dari sini... Dasar pembohong... cowok sialan...”


Mereka yang disana mengajak paksa Maru untuk keluar ruangan dan membiarkan Sora agar lebih tenang. Dokter datang dan segera memberikannya obat penenang. Infus yang sempat terlepas kembali dipasang. Sora menjadi lebih tenang, namun matanya tetap mengeluarkan air mata. Ibu Reni dan Kak Soni yang kini berada disamping Sora. Sora tidak membiarkan Maru masuk kedalam.


Maru duduk termenung dilantai bersandar ke dinding. Ia terus menelaah kesalahan-kesalahannya. Orangtua Maru tidak tega dan menemaninya diluar ruangan. Menenangkan Maru.


“Dia bilang aku brengsek Mah, Yah...” Air matanya tidak bisa ia bendung.


“Biarkan dia tenang dulu, ya. Dia masih shock, jadi kamu harus maklum.” Ayahnya menasihati Maru, sedangkan Mamah Maya ikut menangis dan terus membelai kepala putra bungsunya.


“Lebih baik kita pulang dulu, kamu tenangkan diri kamu. Kamu juga harus istirahat. Dan, ayo kita makamkan cucu Ayah.” Membujuk Maru untuk beranjak dari lantai.


Mendengar pernyataan sang Ayah mengenai anaknya semakin membuat hati Maru hancur. Namun ada benarnya, ia harus segera mengurus pemakaman anaknya. Meskipun bayinya begitu kecil, dan hanya bertahan beberapa menit, ia tetap makhluk bernyawa yang sempat hidup di dunia ini.

__ADS_1


Maru beranjak dari tempatnya melangkah ditemani kedua orangtuanya yang memang sudah berdiskusi dengan Ibu Reni dan kak Soni.


Zaenal datang dari arah berlawanan, ia menatap Maru tanpa ekspresi. Keduanya berhadapan dengan jarak yang cukup jauh. Zaenal melempar barang kecil yang terlihat seperti USB ke arah Maru dan berlalu dengan begitu saja. Mamah Maya yang tidak terima ingin membalas Zaenal, namun Ayah Maru menggelengkan kepala dan menahannya.


Kini Zaenal memasuki ruang rawat Maria. Ia masuk tanpa permisi menatap Maria dengan sinis. Ia melempar USB yang sama, mengenai wajah Maria. Maria terkejut dan ketakutan. Orangtua Maria langsung mengusir Zaenal keluar.


Flashback on


Zaenal memukul Maru sampai dia terhempas ke pojokan Kak Soni segera melerainya dan memisahkan keduanya. Masih dalam keadaan marah ia mendapat panggilan dari adiknya dan segera bergegas pergi meninggalkan Rumah Sakit menuju kantor polisi.


“Bang, kita disini semua gak bisa menghubungi Kak Sora atau suaminya.” Zaki langsung to the point.


Zaenal menjelaskan semua yang terjadi di kantor polisi dan segera meninggalkan kantor polisi diikuti oleh Zaki dan temannya. Zaenal kembali ke Rumah sakit. Didapatinya Maru tengah berjalan bersama orangtuanya, amarah yang tidak bisa hilang membuat Zaenal tidak sudi berbicara kepada temannya itu. Ia melemparkan USB kearahnya dan berlalu meninggalkan Maru.


Tidak cukup disana, ia mendatangi ruangan Maria. Ia melakukan hal yang sama, Zaenal melempar USB tepat mengenai wajah wanita yang kini terlihat ketakutan.


☆☆


Maru bersama dengan orangtuanya dan juga Kak Soni mewakili pihak Sora berada dipemakaman pribadi keluarga Maru. Tidak banyak orang yang datang hanya beberapa tetangga.


Mamah Maya terus menangis, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Maru menyentuh nisan yang bahkan tidak ada keterangan nama anaknya, hanya tertulis Bayi. Karena baik Maru maupun Sora hanya memanggil anaknya yang masih dalam kandungan dengan sebutan ‘Bayi'.


Maru kini kembali kerumah yang ia tempati bersama Sora. Keadaan disana masih sama seperti terkahir kali dia meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit.


Darah yang menjadi saksi ketegangan pada saat itu masih telihat jelas dan mulai sedikit mengering. Maru membersihkan darah yang dilantai dan juga noda darah yang mengenai tempat lain.

__ADS_1


“Sayang, biar Mamah aja yang bersiin. Kamu istirahat dulu.” Mamah Maya berusaha mengambil kain lap dari tangan Maru, namun Maru kembali mengambilnya.


Ayah Maru mengerti akan perasaan anaknya dan memberi tahu istrinya untuk membiarkan anaknya sementara.


Maru berdiam diri dikamar utama, kamar yang ia tempati bersama Sora. Ia membuka file USB yang dilempar oleh Zaenal. Ia menonton video yang terekam, di layar ponselnya. Matanya kembali memerah, kini mata yang menunjukkan penyesalan.


Begitupun dengan Maria, wanita ini memainkan video yang tersimpan di USB. Kaget bukan kepalang, dia merasa tidak ada siapapun yang menyaksikan kejadian yang sebenarnya. Ia mulai gemetar ketakutan, orangtuanyapun ikut ketakutan. Mereka takut jika kasusnya terus ditangani malah akan memberatkan Maria. Kenapa bisa ada rekaman ini?


Zaki menyempatkan diri menjenguk Sora yang masih terbaring di ruang rawat bersama temannya yang mempunyai bukti. Mereka memutar video yang kini dikadikan bukti.


“Kok bisa ada rekaman gini, gimana caranya?” Tanya Sora.


“Iya kak. Jadi temen Zaki ini vloger, terus kameranya ketinggalan di sana?” jelas Zaki.


“Kamera? Di toilet?” Sora memasang wajah bingung dan curiga.


“Maksudnya begini kak. Itu lho, saya pake kamera yang kecil buat vlogger gitu. Saya taro di vas bunga, disela-sela bunganya. Jadi gak terlalu keliatan. Niatnya buat ngerekam aku lagi benerin make up, biar ke ambil angel dari samping. Eeehhh... tahunya malah ketinggalan.” Teman Zaki lebih memperjelas.


“Aku keluar toilet pas kak Sora ini masuk. Nah... kerekam deh semuanya disana. Saya baru sadar kamera ketinggalan, baru deh balik lagi. Eehhh... ada darah gitu. Terus orang bilangnya ada wanita hamil yang pendarahan, udah dibawa kerumah sakit. Jadi, ya karena tahunya itu, gak langsung saya liat videonya. Saya liat pas udah sampe rumah, itu juga karena tersebar video yang di internet. Maaf ya kak, saya telat.” Tuntasnya.


“Kenapa minta maaf. Harusnya saya yang berterimakasih. Makasih banget udah mau jadi saksi saya. Maaf jadinya malah ngerepotin, jauh-jauh sampai kesini.” Sora tersenyum sendu.


☆☆


Meskipun Sora yang masih dirawat berhari-hari itu menolak untuk menemui Maru, laki-laki ini masih setia datang kerumah sakit sekedar untuk menemani istrinya meskipun hanya bisa melihatnya lewat jendela ruangan. Baik Ibu Reni, Kak Soni dan juga istrinya berbaik hati menemani Maru diluar ruangan bergantian. Dan menyemangatinya untuk masih harus memaklumi istrinya itu, karena kesehatan dan mentalnya yang masih labil.

__ADS_1


Bahkan dibeberapa saat, terkadang istrinya ini sering menyalahkan dirinya sendiri karena kehilangan bayinya sendiri. Jeritan pilu yang dikeluarkan dari mulutnya selalu memenuhi kepala Maru.


Ibu, ini semua gara-gara aku. Aku yang bodoh. Udah tahu aku jatoh, kenapa gak langsung ke rumah sakit. Udah tahu perut aku sakit, aku gak langsung ke rumah sakit. Aku yang bunuh bayi aku sendiri. Aku bodoh bu.


__ADS_2