Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
52. Perpisahan I


__ADS_3

Setelah berhari-hari harus menjalani pemulihan, akhirnya Sora telah pulih meskipun belum pulih seluruhnya. Siang ini Sora datang ke tempat anaknya di semayamkan. Kedua keluarga bertemu disana masih dengan suasana duka. Sora terus menangis memegangi nisan kayu. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari kebelakang, akhirnya Maru bisa melihat wajah istrinya dengan jarak yang sangat dekat.


Langkah kaki mulai meninggalkan tempat peristirahatan terakhir bayi mungil itu. Maru menahan Sora untuk hanya sekedar menanyakan kabarnya. Ia memegang tangan Sora yang kini berada disampingnya. Orang-orang disana memberikan waktu untuk keduanya.


“Sora sebentar, gimana kabar kamu? Udah mendingan belum?” tangan Sora yang ia pegang terasa lebih kecil.


“Ya.... aku udah baikan. Jangan sentuh aku.” Sora melepaskan genggaman Maru.


“Maafin aku. Maafin aku. Aku mohon jangan hindari aku terus. Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi.” Pandangannya tetap pada wajah Sora yang penuh dengan kebencian.


“Aku rasa tidak ada kata mulai lagi dari awal untuk kita. Aku menyerah. Aku gak bisa mengalahkan cinta kalian.” Sora mengeluarkan berkas yang dibalut amplop cokelat.

__ADS_1


Maru membuka berkas itu dengan hati-hati. Ia menelan ludahnya, ia berharap berkas itu bukanlah hal negatif yang ia pikiran. Namun sayang, seperti apa yang ia kira. Maru mendapatkan gugatan cerai dari Sora. Maru kembali menahan Sora dan meyakinkan Sora untuk tidak menceraikan dirinya.


“Sora aku mohon. Kita harus membicarakan semuanya dulu. Perceraian bukan jalan satu-satunya. Sekarang ayo kita pulang kerumah kita dulu. Ayo...” ajaknya yang masih terus melangkahlan kakinya agar sejajar dengan istrinya yang terus berjalan meninggalkan Maru.


“Aku gak sudi. Pokoknya kita harus cerai. Setelah semuanya selesai kita gak usah ketemu.” Sora masuk kedalam mobil Kak Soni tanpa memperhatikan bahwa kedua keluarganya yang tengah menunggu keduanya.


Mobil yang dikemudikan Kak Soni meninggalkan Maru dan keluarganya terlebih dahulu. Diikuti oleh Maru dan keluarganya. Sora menangis dalam sunyi, tak ada yang berani membuka mulut. Hanya ibunya yang terus mengelus puncak kepala putrinya. Begitupun Maru yang terus menatap luar jendela dengan tatapan kosong.


“Sayang, kamu harus kuat. Kamu harus hadapi semuanya. Jangan begini.” Mamah Maya ikut menangis, memang Mamah Maya ini sangat menyayangi putra bungsunya ini.


“Mah, aku gak mau cerai. Aku gak mau pisah. Aku cuman pengen Sora kembali ke aku.” Maru meracau dipelukan Mamahnya.

__ADS_1


Ibu Reni mengetuk pintu rumah Maru. Ayah Maru menyambut kedatangan Ibu Reni, kedatangannya tidak lain adalah untuk mengambil barang-barang Sora yang penting. Ibu Reni mendengar suara tangisan Maru dari luar kamarnya. Ibu Reni memandangi Ayah Maru yang disahut dengan gelengan. Ibu Reni membuka pintu kamarnya, ia menghampiri Maru yang masih duduk dilantai, lalu memeluknya.


“Maafin Ibu ya nak. Ibu gak bisa berbuat apa-apa. Ini masalah kalian berdua, ibu gak mau ikut campur.” Mengusap air mata Maru.


“Ibu gak bisa menahan kamu, ibu juga gak bisa membiarkan kamu. Ibu gak bisa membujuk Sora. Ibu cuman pesen aja, kamu harus lebih kuat.”


“Bu, ini salah Maru. Tolong bu, Maru gak mau pisah bu. Maru cuman pengen Sora bu.” Memohon dengan menyentuh kaki Ibu Reni. Ibu Reni mengangkat tubuh Maru.


“Kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Baik kamu dan Sora gak bersalah. Jadi stop menyalahkan diri kalian sendiri, entah itu kamu atau Sora.” Ibu Reni bangkit dan mengambil handphone Sora yang Maru genggam dan dompet Sora yang ternyata masih terpajang di meja riasnya.


Ibu Reni berpamitan kepada orangtua Maru. Dan mereka saling meminta maaf dengan apa yang telah terjadi. Ibu Reni berkata untuk membawa pulang kembali putrinya ke keluarganya. Lalu berlalu meninggalkan kediaman Maru.

__ADS_1


__ADS_2