Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
66. Butuh Berdua III


__ADS_3

Sesampainya dihalaman rumahnya, Sora melangkah dengan tergesa-gesa menerobos rumahnya yang memang tidak dikunci dan langsung memasuki kamarnya. Maru tak kalah cepat ia segera menahan pintu kamar mantan istrinya memasuki kamarnya.


Sora tiba-tiba menangis sejadi-jadinya, entah mengapa Maru yang menyaksikan tangisan Sora ikut menangis.


“Kenapa kamu nangis?” Tanya Maru dengan nafas yang tertahan. Ia duduk dibawah ranjang mensejajarkan tingginya dengan Sora yang memang duduk diujung ranjang.


“Aku gak tahu... Aku yang bodoh... Aku yang serakah...” Ucapannya tidak jelas karena tangisnya, namun Maru masih bisa mengerti semuanya.


“Aku yang bodoh... Aku egois... Aku selalu merasa aku yang paling tersakiti... Tapi kenyataannya aku yang salah... aku yang menyebabkan bayi kita gak ada... aku yang bodoh.. aku gak ke rumah sakit meskipun aku udah ngerasa sakit, karena aku tahu kamu pasti akan fokus sama Maria. Bodoh aku, kenapa harus cemburu pada saat seperti itu...kenapa....” Ocehannya terhenti oleh Maru yang langsung memeluknya dengan erat. Keduanya menangis sejadi-jadinya.


“Kita berdua yang salah. Jangan salahin diri sendiri. Kita berdua salah. Sekarang kita harusnya mengikhlaskan semuanya, jadi kita gak akan terus berlarut dalam kesedihan.” Maru menenangkan Sora yang masih menagis layaknya anak kecil yang.


Di ruang tamu, Ibu Reni yang ternyata baru pulang dari warung mendengar semua percakapan keduanya. Bu Reni meneteskan air matanya dengan terus menganggukan kepalanya sendiri. Suara tangisan putrinya terdengar sangat pilu, tidak kalah pilu dengan tangisan Maru.


Melihat ada mobil yang hampir memasuki halamannya, Ibu Reni keluar rumah dan menghampiri mobil yang dimaksud. Keluarlah Zaenal dan kawan-kawan.


“Ibu kita mau pamit pulang, tapi kita masih belum ketemu Sora....” Zaeanal dengan sopan mencium punggung tangan Bu Renj.

__ADS_1


“Maru juga belum keliatan lagi. Tadi mereka...” Ibu Reni menghentikan ocehan Risa dengan memberikan isyarat telunjuknya yang ia tempelkan ke bibirnya.


“Sssttt.. kalian pamit sama Ibu aja. Nanti biar Ibu yang sampein ke Sora. Mereka ada didalam. Jangan ganggu mereka dulu. “ Ibu Reni menggiring mereka kembali ke dalam mobilnya.


“Maksud Ibu, mereka udah pulang dari tadi? Terus Ibu kenapa kok kayak udah nangis?”Seperti biasa Zaenal akan sangat perhatian.


“Ibu gak apa-apa. Gak tahu pulang dari kapan mereka, Ibu tadi dari warung. Sekarang mereka lagi.... Ibu gak tahu harus bilang apa, mereka lagi ngapain. Yang jelas mereka sekarang lagi nangis sejadi-jadinya. Kalian pasti ngerti, kan maksud Ibu.” Bu Reni tersenyum sendu.


Langit menatap kamar Sora. Memang terdengar samar suara tangisan tersengar, meskipun tidak akan terdengar jelas seperti Ibu Reni tadi yang mendengar didalam rumahnya. Tak hanya Langit, Zaenal dan yang lainnya menatap kamar Sora dari luar.


Sedangkan Bu Reni dan Langit berjalan menuju tempat pembuatan kerajinan yang menjadi tempat yang setiap hari Langit datangi.


“Langit, makasih karena udah menemani Sora selama ini.” Ucap bu Reni


“Kenapa harus berterima kasih, toh kita memang udah kenal dari dulu. Temen Langit juga dia dong.” Senyuman Langit begitu sopan.


“Ibu tahu kamu suka Sora. Maafin anak Ibu kalau bikin kamu bingung. Ibu juga gak tahu apa yang ada dalam hatinya, apa yang ada dalam pikirannya. Ibu gak bisa berbuat apa-apa.” Ibu Reni sangat peka.

__ADS_1


Langit masih hanya tersenyum.


Didalam rumah, tepatnya didalam kamar Sora. Keduanya setelah saling mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan, dan juga saling meminta maaf, kini keduanya masih berpelukan begitu erat. Keduanya sudah lebih tenang dibandingkan tadi.


“Besok kamu mau ikut aku, kan?” Maru memecah keheningan setelah beberapa saat keduanya terdiam.


“Kenapa aku harus kesana?” Tanya Sora yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan, karena ia juga tahu jawabannya.


“Tahun kemarin kamu gak dateng juga. Tahun ini aku harap kamu datang. Kamu harus ingat, besok bukan hanya hari kematian anak kita, tapi juga hari ulang tahun dia juga.” Maru membelai rambut Sora.


“Aku ikut..” Sora menjawab sembari beranjak meninggalkan Maru yang masih duduk diranjang.


“Kamu mau kemana?” Maru heran


“Kamu mandi dulu aja. Biar aku pinjemin baju Kak Soni.”


Setelah berganti pakaian, Sora dan Maru tertidur lebih awal. Pastinya dikamar yang berbeda, Maru dikamar Sora, sedangkan sang pemilik kamar tidur dikamar ibunya. Kak Soni dan istri yang baru tiba dirumah terheran melihat Sora yang tidur dikamar ibunya. Bu Renipun menjelaskan semuanya. Kak Soni hanya tersenyum dan menggangguk.

__ADS_1


__ADS_2