Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
40. Belum Ikhlas Sepenuhnya


__ADS_3

Yang menyangka hubungan mereka akan selalu bahagia, salah besar. Karena hubungan keduanya yang begitu membuat iri orang lain, ada segelintir orang yang merasa dihianati.


Ketika Maru tengah mengerjakan pekerjaannya di kantor. Telponnya berdering, namun nomor itu tampak nomor yang tidak ia kenali. Dengan hati-hati Maru menjawab panggilannya.


“Hello...” Terdengar suara laki-laki yang sepertinya pria paruh baya. Sepertinya Maru agak familiar dengan suara di seberang sana, tapi ia tidak bisa mengingatnya siapa dia.


“Hello.. dengan siapa ya?” Tanyanya dengan sangat sopan.


“Ini saya. Ayah Maria. Kalau ada waktu, nanti jam makan siang kita bertemu, bisa?”


Maru dan Ayah Maria duduk di kursi saling berhadapa. Mereka berada di café yang tak jauh dari kantor Maru.


“Sebelumnya saya minta maaf. Mungkin kamu berpikir saya gak tahu malu atau bahkan gak tahu sopan santun.” Yang sebenarnya Ayah Maria merasa malu, kalau saja dulu ia tidak memisahkan anaknya dengan Maru, hanya karena perbedaan kedudukan.


“Aiihh.. kenapa om minta maaf. Ada apa om?”


“Saya boleh minta tolong?” Ia sedikit ragu.


“Minta tolong apa om. Selama saya bisa bantu, pasti saya bantu.” Membungkukkan tubunhya.


“Tolong temui anak saya. Sekarang ini, anak saya begitu menderita. Tolong temui Maria.” Memohon dengan mata yang terlihat putus asa.


☆☆☆


Maru pulang kerumah dengan tatapan kosong. Dia menatap Sora yang tengah memasak untuknya. Dia melangkah ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Dimeja makan telah tersedia berbagai menu. Sora menata meja dengan hati-hati, keduanya menyantap santapan malam berdua. Sora memperhatikan suaminya sedikit ada yang berbeda.


“Kamu kenapa?” Tanya Sora yang menyadari ada sesuatu yang mengganggu pikiran suaminya.


“Sora, kalau misal kamu akau ajak buat jenguk temen. Mau gak?” Tatapannya bak meminta tolong.


“Siapa yang sakit?” Tanya Sora dengan tenang.


“Maria. Maria yang sakit.” Jawabnya, sembari mencoba membaca wajah Sora.

__ADS_1


Sora terdiam sejenak, ia tidak menjawab, lalu menundukkan kepalanya.


“Ayahnya tadi datang, minta tolong sama aku. Dia minta tolong aku buat jenguk Maria di rumah sakit..... dia berulang kali mencoba bunuh diri.” Ucapan Maru sedikit bergetar.


Kini wajah Sora mendongak kedepan. Di tatapnya mata Maru yang memerah.


“Kalau kamu gak mau juga gak usah, kamu larang aku buat pergi juga aku gak bakal pergi.” Mencoba mencarikan keheningan, karena Sora tak kunjung memberi jawaban.


Tangan mungil Sora meraih tangan Maru yang kekar. Ia menganggukkan kepalanya setuju.


“Makasih..” membalas genggaman Sora


“Kapan?”


“Kapan juga boleh. Sebenarnya tadi di bilang pas kita ketemu mau sekarang langsung juga gak apa-apa.” Jawab Maru


“Terus kenapa kamu tadi gak pergi aja?”


“Kamu? Aku laki-laki yang sudah beristri. Kita kan juga udah janji, kita harus saling terbuka.” Menatap dalam mata Sora.


Suasana kamar itu menjadi sedikit dingin dan lebih sunyi. Maru yang biasanya selalu menggoda istrinya terlihat menjadi lebih pendiam. Sora tidur Dengan posisi membelakangi Maru, suaminya itu tersadar dan memeluk Sora dari belakang. Tak ada sepatah katapun keluar dari keduanya, sepertinya mereka berdua berada di dunia masing-masing.


Sora tidak bisa menahan rasa sedihnya. Ia menangis tanpa suara dalam pelukan suaminya. Meskipun tanpa suara Maru jelas menyadari bahwa istrinya sedang menangis.


Maafin aku, maafin aku. Aku memang cowok brengsek. Aku pikir semuanya sudah jelas dan berakhir. Tapi kenyataannya aku lagi-lagi menyakiti hati kalian. Melukai kalian. Aku cinta kamu Sora, tapi maaf sepertinya untuk saat ini Maria lebih membutuhkan aku, bagaimanapun juga aku dan Maria lebih dahulu pernah bersama. Kita butuh waktu, beri kita waktu. Batin Maru terus menjelaskan, namun semuanya tidak bisa ia ungkapkan dengan mulutnya sendiri.


*


*


~


Jam istirahat makan siang, Maru menjemput Sora dari rumahnya dan pergi bersama menuju rumah sakit. Tentu dengan perut yang sudah terisi. Keduanya berjalan melalui koridor panjang rumah sakit. Maru tampak sangat gugup, ia terlihat beberapa kali menggigit bibir bawahnya. Sampai di depan ruangan yang dituju, Maru menghela nafas berat dan segera memasuki ruangan.


Tampak Maria dengan keadaan yang memprihatinkan. Jarum infusan menusuk daging tangannya yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Perban melingkar di lengan tangannya, kanan dan kiri. Maru terlihat sangat shock, dia mematung sampai akhirnya kedua orangtuanya mempersilahkan Maru untuk menghampiri Maria.

__ADS_1


Mendengar nama Maru disebut oleh orangtuanya, Maria langsung menoleh ia menangis dan langsung memeluk Maru.


“Maru, kenapa kamu baru datang... hiks hiks.. aku nungguin kamu terus.” Tangisan Maria terdengar sangat pilu. Akhirnya tangis Marupun ikut pecah, Maru menangis.


“Maafin aku, maafin aku Maria. Aku emang brengsek, kamu gak seharusnya melakukan hal konyol seperti ini.” Sembari menyeka air mata Maria, memeluknya kembali.


Maru melirik wajah Sora yang sedari tadi terdiam berdiri Seolah-olah orang menganggap dia tidak ada diruangan itu. Maru menatap wajahnya, matanya berbicara aku minta izin. Sora memberikan anggukkan kecil.


Maria terus memeluk Maru, dia tidak percaya bahwa laki-laki yang dia sayangi datang menemuinya kembali. Maru menyuapi makanan ke mulut Maria yang katanya telah beberapa hari ini ia tidak mau menelan apapun. Maria makan dengan lahapnya, orangtuanya tampak meneteskan air mata.


Sora keluar dari ruangan, diikuti oleh Ibu Maria.


“Maafkan kami, kami benar-benar tidak tahu malu.” Seraya mengikuti Sora duduk dikursi tidak jauh dari ruangan tempat anaknya berbaring.


Sora tersenyum sedikit membungkuk, bagaimanapun ia lebih tua darinya.


“Kami menghilangkan rasa malu kami. Kami tidak mau kehilangan putri kami satu-satunya. Terima kasih, karena mengizinkan nak Maru datang.” Tersenyum canggung.


Sora tidak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Saya harap kamu bisa mengerti. Mereka berdua berhubungan dari mereka masih sekolah. Katanya kamu temen sekolah mereka juga, ya. Pasti kamu tahu bagaimana hubungan mereka. Anak saya masih belum ikhlas. Saya menyesal, andai bisa memutar waktu kembali. Tentu anak saya akan bahagia dengan laki-laki pilihannya, tanpa ada siapapun yang menghalangi.” Benar, rasa malunya telah hilang.


“Iya, saya temannya. Tapi sekarang saya istrinya. Saya rasa pilihan kata anda sedikit menyinggung saya. Anda pikir hanya anak Ibu yang terluka. Bagaimana dengan Maru dahulu? Dia juga sama, tidak ikhlas karena cintanya tidak sampai. Tapi, lihat sekarang. Dia bisa melepaskannya. Tapi kenapa disini saya dan suami saya yang menghalangi.” Gila, kenapa Sora berani berbicara dengan sangat lugas.


“Maaf. Kalau saya menyinggung anda. Tapi, setelah saya melihatnya, Maria dan Maru masih sama-sama saling menyayangi. Mereka masih butuh waktu untuk saling mengikhlaskan.” Kembali menimpali.


“Betul, seperi apa kata anda. Mereka masih butuh waktu. Tapi tenang saja, kalau ditemani oleh orang-orang yang mengasihi, semua akan baik-baik saja. Karena saya sudah berpengalaman, menemani Maru disaat dia terpuruk. Jadi, Ibu juga harus tetap menyemangati anak Ibu terus.” Tidak ada senyuman lagi di bibirnya.


Kunjungan tadi siang ke rumah sakit. Semakin membuat suasana dirumah menjadi lebih sunyi. Sora sudah berbaring terlebih dahulu diatas tempat tidur. Pikirannya terus berputar, batinnya mengoceh.


Dasar egois. Disaat aku bisa tertawa bahagia dengan pria ini, ada seseorang yang tersakiti. Disaat aku bisa makan dengan begitu lahap, ada seseorang yang bahkan tidak bisa menelan apapun. Tidak tahu malu, kenapa aku harus menjadi seseorang diantara dua orang.


Maru meraih tubuh Sora, membalikkan dan mendekapnya di dadanya yang bidang.


“Jangan belakangin aku terus. Kita harus tetap tidur begini.” Mendekapnya seraya mengelus lembut perutnya.

__ADS_1


__ADS_2