Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
57. Bangkit II


__ADS_3

Maru menepikan sepeda motornya di parkiran restoran. Restoran yang sangat ia kenal. Zaenal. Ia mendapat orderan makanan yang kebetulan pesan di restoran ini. Zaenal terus memperhatikan langkah Maru sampai ia duduk di kursi khusus untuk para pengemudi ojek online.


Zaenal melangkah mendekati Maru dan mengajaknya mengobrol sembari menunggu pesanan pelanggannya.


“Mau sampai kapan lo kayak gini?” Tanya Zaenal.


“Sampai ketemu. Gimana, lo udah dapet kabar?” Jawabnya dengan tangan sibuk memainkan ponselnya.


“Lo gak malu apa sama diri sendiri?” Zaenal memandang kearah luar jendela.


“Langsung aja keintinya. Jangan berbelit-belit. Mau ngomong apa si lo.” Masih dengan handphonenya.


“Lo harus perbaiki hidup lo. Kalau gue jadi Sora, terus kita ketemu lagi. Gak bakal mau balik lagi. Bukan karena profesi. Tapi, jalan pikiran sama gaya hidup lo yang bikin lo keliatan hancur. Sora masih cinta sama lo. Jadi lo harus ngasih kesan yang baik kalau Tuhan ngasih rezeki jodoh sama lo berdua.”


Kini Mata Maru beralih kearah Zaeanal yang juga sedang menatap dirinya.


“Waktu kalian cerai. Dia dateng kesini. Dia nangis. Dia masih cinta sama lo. Lo pikir disini lo doang yang berjuang. Mungkin diluar sana Sora juga lagi berjuang dengan terus berharap kalian bisa ketemu lagi. Jadi, lo harus mulai hidup lo dengan baik. Stop minum alkohol. Dan, stop nanya Sora ke gue. Lo aja gak bisa nemuin dia, apalagi gue. Akhir-akhir ini lo sering banget kesini. Bosen gue.” Mungkin karena malu yang tadinya menasihati jadinya malah jadi seakan-akan Zaenal mengusir Maru karena canggung, yang jelas itu tidak terdengar serius sama sekali.


Maru beranjak dari duduknya karena pesanan yang dia tunggu telah siap untuk diantar le costumer-nya.


Di tempat lain, nan jauh disana. Sora telah mendapatkan pekerjaan disebuah penginapan. Penginapan yang terletak disekitar warung kecil-kecilan milik Mbak Santi, bisa dibilang Warung Mbak Santi lah yang berada disekitar penginapan itu. Dimana warung Mbak Santi lebih mendekati sisi pantai. Kebetulan karena tempat tinggalnya mulai dikenali keindahannya oleh orang-orang daerah luar, jadi banyak pengunjung yang menginap disana. Hotel-hotel tinggi yang menjulang keatas belum ada disana. Sora bertugas membereskan penginapan. Sedangkan Langit masih dengan pekerjaan lamanya yaitu membuat kerajinan dari hasil laut. Namun, pria ini selalu menghampiri Sora. Terkadang sekedar untuk mengantar jemputnya dengan sepeda lawasnya.


Sora sudah lebih terbiasa dengan pekerjaannya. Dia akan membersihkan kamar-kamar yang telah ditinggalkan oleh pengunjung dan mencuci semua seprai, handuk, dan sebagainya. Ia akan pulang seitar jam 5 sore, karena untuk jaga malam, laki-laki lebih diutamakan.

__ADS_1


Di sore hari yang cerah, Langit mengemudikan sepedanya dengan penumpang Sora dibelakangnya. Sebelum pulang kerumah keduanya berjalan-jalan sebentar di pantai. Memandangi langit senja.


“Sora... Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Langit mengimbangi jalan kaki Sora.


“Apa? Ada apa?” Matanya tertuju ke kakinya yang tanpa alas diatas pasir.


“Kamu suka gak disini?” Tanyanya random


“Suka banget lah... kenapa emang?” Sora mengangkat wajahnya menatap langit yang perawakannya hampir sama dengan mantan suaminya.


“Sekarang kamu udah nyaman? Hhmm... Aku....” Langit terhadap.


“Kamu mau ngomong apa sih?” Sora menyipitkan kedua matanya.


Sora menghentikan langkahnya. Dia terdiam sejenak. Menatap laut lepas yang ada didepannya dia mulai mengatakan apa yang sebenarnya ingin dia katakan dari dulu.


“Langit. Aku wanita yang pernah menikah. Pernikahan aku gagal.” Wanita ini kembali mengingat masa lalunya kembali.


Langit sedikit tertegun. Selama ini dia belum pernah mendengar cerita ini dari mulut Sora maupun dari keluarganya. Tak ada kata yang keluar lagi dari mulut Langit.


“Aku kesini melarikan diri dari masa lalu aku. Pengecut emang aku.” Tertawa getir.


“Emang apa masalahnya kalau kamu udah pernah nikah? Yang penting kamu bukan istri orang lain.” Langit menatap Sora sedari tadi, kini pandangannya bertemu.

__ADS_1


“Bukan itu maksud aku. Aku masih takut memulai hubungan. Aku belum sepenuhnya bisa meninggalkan masa lalu. Aku juga pernah hamil. Meskipun bayinya aku cuman bertahan beberapa menit.” Air matanya terlihat berlinang di matanya yang indah.


“Maafin aku. Bukan maksud aku mengingatkan kamu lagi ke masa lalu yang pasti pengen kamu lupain. Gak usah dijawab sekarang juga gak apa-apa kok. Santai aja.” Tandasnya


Sora menggelengkan kepalanya.


“Gak perlu minta maaf. Awalnya seperti itu. Aku akan melupakan semuanya, tapi nyatanya gak bisa lupa begitu aja. Maka dari itu, sekarang aku merubah niat aku. Gak lupa juga gak apa-apa, tapi masa lalu itu bakal aku jadiin pelajaran bukan jadi bayang-bayang lagi. Kamu mau bantu aku?” Ia tersenyum manis menusuk Langit.


“Bantu?” Ia tidak mengerti.


“Aku sedang berusaha bangkit lagi. Bantu aku, biar aku gak terus menerus merasa terbayang-bayang masa lalu aku. Entah kapan, mungkin aku bisa jawab. Apa kamu bakal jadi temen aku terus, atau..”


Langit tersenyum lebar karena perkataannya


“Aku pasti bantuin kamu.” Mengeluarkan senyuman killer.


Kembali ke Maru.


Dipagi hari yang cuacanya biasa aja. Dia mengendarai sepeda motornya dengan pakaian yang sangat rapi, setelan jas, dasi, celana hitam, sepatu kulit, melekat ditubuhnya. Tiba di perusahaannya yang sempat ia tinggalkan, ia memasuki gedung yang tidak terlalu besar lurus keruang pemimpin. Ayahnya melongo melihat putranya datang ke perusahaan lagi. Seraya membuka pintu, ia berkata dengan masih ekspresi datar.


“Saya kembali. Saya akan berusaha lebih keras lagi.” Ia menundukkan tubuhnya 90 derajat. Disambut gelak tawa oleh Ayahnya.


“Keputusan yang bagus Maru. Ayah senang sekali.” Menghampirinya, memeluk erat bahagia.

__ADS_1


“Maaf ya, Yah. Udah ngerepotin Ayah.” Tandasnya membalas pelukan Ayahnya.


__ADS_2