
Maru memakirkan mobilnya dihalaman rumah orangtuanya. Aku sedikit gugup. Bagaimana aku tidak gugup, aku akan bertemu dengan mantan mertuaku setelah dua tahun yang lalu aku pergi tinggalkan tanpa berpamitan.
Maru membuka pintu utama rumahnya, dipanggil nama keduanya dengan sebutan Ayah dan juga Mamah. Sampai suara wanita yang menyahut Maru menghampiri kita diruang tamu.
Tante Maya terdiam sejenak, ia terpaku berdiri sembari menatap kearahku dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat Tante Maya yang berkaca-kaca, membuat hatiku tiba-tiba terasa perih.
“Sora... anak Mamah... Sora.. apa kabar... kamu kemana aja..” Tangis tante Maya pecah menghampiri ku. Menciumiku. Memelukku. Karena tangisnya, Om Aryo, yang Maru sebut Ayah menghampiri. Om Aryo yang aku kenal selalu tenang, menghampiri aku dan juga Tante Maya yang masih memeluk aku dengan terus menangis.
“Sora baik tante, om. Maafin Sora. Sora gak sopan pergi begitu aja. Sebenarnya aku mau pamit, tapi pasti kalian cegah aku.” Aku ikut terisak dengan terus menepuk punggung Tante Maya dan menggenggam tangan Om Aryo.
“Yang penting sekarang kamu ada disini, semuanya udah cukup. Ayo duduk.” Ajaknya sembari duduk di atas sofa.
Tante Maya terus menatap aku dengan mata yang penuh arti. Terharu, bahagia. Mungkin itu yang ingin dia ekspresikan.
“Maaf tante. Aku baru berani datang sekarang. Dan ini, ada sedikit oleh-oleh.”
“Kenapa kamu panggil tante? Om? Sayang... kamu itu selamanya anak Mama.. Mau kamu udah cerai dari Maru juga, kamu tetep anak Mama. Jangan panggil tante okay.”
Mamah Maya? Dia memintaku untuk tetap memanggilnya dengan sebutan Mamah. Tentu aku senang, tapi aku juga harus tahu diri. Sekarang status kita adalah mantan menantu dan juga mantan mertua.
__ADS_1
Mamah Maya terus menggenggam tanganku dan terus mengoceh sana sini, tanya kabar ibu dan keluarga. Apa yang aku lakukan selama ini. Sampai tak terasa waktu sudah hampir sore. Dengan ragu aku memanggilnya dengan sebutan Mamah dan Ayah kembali.
“Mah, Yah... Sora harus pamit. Udah sore. Lagian tujuan aku kesini mau jenguk bayi. Sekarang aku mau ke pemakaman dulu. Terus langsung pulang.”
“Kenapa gak nginep dulu aja. Ini udah sore lo.. udah jam 3.”
Meskipun Mamah Sora dan juga Aya Aryo tetap Membujuk, akupun tetap bersikukuh untuk langsung pulang setelah dari pemakaman.
Langkah kaki terasa sangat berat ketika aku dan Maru tiba dirumah bayi kecil kita. Dadaku terasa sangat sesak, terasa sesak dan juga perih. Mataku terhalang oleh cairan bening yang terus keluar sampai melewati pipiku. Hingga sampai dirumah kecil itu, tak ku duga aku malah terisak menangis bagai anak kecil. Padahal niat hati aku akan datang kerumah bayi kecil dengan hati yang tenang, dan juga senyuman. Tidak sesuai ekspetasi.
“Sampai sekarang kamu masih belum kasih nama buat bayi kita?” Aku heran kenapa masih tertulis ‘bayi' dibatu nisan mini ini.
“Seperti kamu bilang, ‘bayi kita'. Aku gak mau ngasih nama sendiri. Aku Papanya kamu Mamanya, jadi harus kita berdua yang kasih nama buat dia.”
Keduanya duduk berjongkok berhadapan di sekitar rumah peristirahatan terakhir bayi mereka. Mereka memanjatkan do’a untuk makhluk kecil yang kini telah berada di surga.
“Kita kasih nama sekarang aja.” Saran Sora.
“Okay.. mau kasih nama apa? Kamu punya ide?”
__ADS_1
“Gak.. aku blank. Kamu aja yang kasih. Aku setuju aja, yang penting nama yang baik.” Senyuman lemah tersirat diwajah Sora.
“Radin. Nama bayi laki-laki kita kasih nama Radin aja. Artinya indah dan Suci. Gimana, kamu suka.” Maru menatap Sora dan menyeka pipi basah mantan istrinya itu.
“Hhmmm... bagus. Namanya bagus. Aku setuju.” Sora menatap dalam mata Maru.
Setelah berada disana sekita hampir satu jam, kini waktu menunjukkan jam 4 dore. Sora memutuskan untuk pulang. Tapi, Risa dan kawan-kawan telah menunggunya di restoran Zaenal. Mau tidak mau Sora harus mampir dulu kesana.
Setibanya di tempat yang juga ia rindukan, telah tampak teman-temannya yang menunggu beserta hidangan yang sudah disajikan diatas meja. Sora tersenyum bahagia. Dia memeluk satu persatu temannya itu.
“Kamu kemaren kemana? Bikin kita khawatir aja tahu. Sampe kita pulang gak bisa pamitan dulu” Risa memajukan bibirnya.
“Maaf... kemaren agak...” Sora menyeringitkan wajahnya. “Yang penting sekarang aku ada disini, kan. Pasti kamu seneng.” Menggoda Risa.
Tengah asyik berbincang dan siap untuk menyantap hidangan, pintu restoran terbuka. Semua mata terpaku dengan sosok siapa yang datang. Langit. Laki-laki ini sekarang berada ditempat yang sama dengan mereka.
“Langit! Kamu ngapain disini?” Sora beranjak dari kursinya menghampiri Langit dan menuntunnya untuk duduk disebelahnya.
“Ahh.. aku ada urusan sebentar di kota sebelah. Terus keinget Zaenal yang kasih kartu namanya, terus coba aja dateng kesini. Aku pikir kamu udah pulang, ini udah sore, kan?” Tanyanya balik.
__ADS_1
“Yyaaa... begitu deh. Pulang kok aku hari ini.” Sora tersenyum lembut kearah Langit.
Ada urusan? Bohong sekali Laki-laki ini. Dia sengaja datang jauh-jauh karena khawatir terhadap Sora. Entahlah kekhawatiran seperti apa yang melandanya. Entah khawatir Sora akan terpukul dengan kembali mendatangi tempat yang sedikit memberikannya kenangan buruk. Atau dia khawatir Sora tidak akan kembali lagi. Atau dia khawatir Sora akan kembali kepelukan mantannya yang kini terus menatap wajah Sora.