
Akhirnya kini keduanya pindah kerumah baru. Mamah Maya, Mamahnya Maru benar-benar luar biasa, bahkan barang-barang rumah tangga pun sudah tersedia. Impian para wanita kalau kayak gini, gak terlalu nyesel juga aku nerima lamaran ni cowok, batinnya berteriak gembira.
Mamah mertuanya benar-benar pengertian. Bahkan bukan hanya itu Ayah mertuapun begitu. Dia menyerahkan perusahaan kecilnya, perusahaan percetakan. Selama ini tidak ada yang tahu kalau Maru adalah putra kedua sang pemilik perusahaan percetakan di kota ini. Karena Maru termasuk laki-laki yang mandiri, ia tidak ingin kekayaan Ayahnya menjadikannya anak yang bertergantungan pada orang tua, maka dari dulu dia bekerja diperusahaann orang lain. Maka dari itu Sora menghubungi mertuanya sekedar untuk berterima kasih.
“Waahh... luar biasa. Selama ini kamu gak ngasih tahu siapapun tentang keluarga kamu..” bertepuk tangan wanita ini sedikit mengejek suaminya.
“Ya elah, bukan hal besar. Gak usah lebay.” Menampakkan wajah cool.
“Kamu emang gak jujur juga sama Maria tentang siapa keluarga kamu yang sebenarnya? Bukannya kamu bilang orangtua Maria ingin kalau anaknya nikah sama laki-laki yang sepadan?” penasaran
“Ya elah, ini cuman perusahaan percetakan Sora. Dia Dokter. Kalau aku jadi orangtuanya, aku juga pasti pilih laki-laki itu lah..” berusaha menghibur diri sendiri.
“Kalau aku, pasti bakal nyuruh anak aku buat pilih sendiri. Selama dia bahagia. Mungkin menurut kamu ‘cuman perusahaan percetakan'. Tapi, buat orang lain bisa aja ‘luar biasa dia punya perusahaan percetakan', termasuk aku yang gak punya hal-hal kayak kalian.” Tersenyum dengan mata sayu.
Keduanya mulai membereskan barang-barangnya. Mereka sepakat baju keduanya akan disimpan dilemari yang sama, lemari dikamar utama. Kamar yang akan ditempati oleh Sora, sedangkan suaminya akan menempati kamar yang lainnya. Kamar keduanya hanya terhalang oleh pintu menuju dapur. Mereka juga sepakat untuk tidur terpisah, kecuali kalau keadaan darurat mereka aka tidur bersama, dalam artian tidur di satu ruangan.
Meskipun pernikahan ini hanya skenario, tapi Sora tetap menjalani tugas sebagai istri. Beres-beres rumah, cuci pakaian, cuci piring, masak, dll. Ya.. Sebagai tanda balas budinya karena dia bisa tinggal dirumah ini.. Itu yang dipikirkannya. Beruntungnya pria tinggi, suaminya ini juga suka membantu... Jadi tidak terlalu melelahkan.
Pada awalnya Sora agak malu kalau berpakaian sedikit terbuka didepan Maru, tapi lama-lama mulai terbiasa. Dia juga mulai terbiasa melihat, memegang, mencuci pakaian dalam pria itu. Bahkan menjemurnya bersebelahan dengan pakaian dalam miliknya.
Ada banyak sifat-sifat dan kelakuan keduanya yang baru mereka saling ketahui, tapi mereka selalu mencoba saling mengerti. Tapi, yang paling membuat Sora jengkel adalah suaminya ini gak bisa rapih ketika mengambil pakaian dari lemari yang membuat baju dalam lemari acak-acakan. Risih dong, terlebih lagi lemari itu ada di kamar Sora. Makannya diputuskan, setiap suaminya akan ganti baju pasti Sora yang akan menyiapkan bajunya. Eiy lupa, suaminya ini juga suka antar jemput dia kerja. Padahal tempat dia kerja lebih dekat dibandingkan pusat perbelanjaan. Dia bilang biar skenarionya perfect.
***
Menjalani skenario pernikahan ini tidak terlalu sulit. Pikir Maru. Karena keduanya tidak saling ikut campur urusan pribadi. Tapi, keduanya tetap jadi pasangan pada umumnya. Mereka berbagi tugas. Ada beberapa tugas yang gak bisa laki-laki ini kerjakan sendiri. Masak, beresin baju. Dua hal itu dia tidak bisa melakukannya tanpa Sora. Tapi, ada hal yang paling Maru suka, masakan gadis ini enak banget. Mereka juga selalu mengunjungi rumah orangtua mereka masing-masing.
Yang namanya orangtua, kalu keduanya datang untuk mengunjungi, pasti memberikan buah tangan yang banyak. Dan orangtua mereka selalu menyelipkan obat herbal apalah… supaya keduanya sehat, subur dan segera punya keturunan. Padahal mereka baru tiga bulan menikah.
Rutinitasnya pagi sore adalah antar jemput Sora ke pusat perbelanjaan. Terkadang mereka juga belanja bulanan bersama disana. Dengan mengantar-jemput istrinya itu aku jadi bisa melihat wanita pujaannya, meskipun hanya sekilas. Setiap pagi dia menaiki mobil bersama suaminya, ketika sore dia mengantarkan kopi kedepan rumahnya, karena suami dia selalu ngaso di depan teras tiap sore. Meskipun begitu Maru tetap senang, karena bisa liat wanitanya baik-baik saja.
Meskipun sudah menikah, mereka masih tetap mengunjungi restoran sang teman. Restoran Zaenal. Terutama Sora. Zaenal selalu terlihat lesu akhir-akhir ini dimata Sora. Gadis itu terlihat khawatir dan mulai menanyakan kabarnya.
“ Kamu sakit? Wajah kamu pucat banget.” Tanyanya dengan nada khawatir.
“ gak aku baik-baik aja kok.” Jawabnya singkat Dan sedikit ketus.
__ADS_1
“ kok ketus amat sih jawabnya, lagi kesel kenapa sih kamu. Akhir-akhir ini kamu keliatannya pucat, terus kalau ngomong ketus banget. Ada masalah? Ayo ceritain aja.” Tanya gadis itu.
“ Bukan urusan kamu kok. Gak usah ikut campur.” Semakin ketus.
“ Aku? Ikut campur? Aku khawatir tahu. Makannya nanya. Biasanya kamu ada apa-apa suka cerita.”
Zaenal sedikit membelak menatap gadis itu dan kembali menepis pandangannya.
“ Sekarang, gak bisa cerita. Takutnya kamu terbebani. Kamu kan udah nikah, pasti beban kamu lebih rumit kan. Jadi gak mau nambahin. “ jawabnya singkat kembali.
“ Ya ampun. Aku udah nikah atau belum, aku tetep sama kok. Temen kamu. Kamu mau cerita atau butuh apa tinggal ngomong aja kali. Selama aku bisa aku siap kok, siap dengerin atau bantu kamu. Jadi kamu...” pembicaraannya terpotong oleh kehadiran Rendi yang langsung menyahut.
“ Dia lagi patah hati. Cintanya bertepuk sebelah tangan.” Rendi sambil memakan makanan Sora
“ eh? Kamu , balikan sama Zani?” mata Sora sedikit berbinar.
Sambil menggelengkan kepala, Rendi menjawab “Bukan Zani. Cewek lain kok. Lo juga kenal cewek itu. Dan cewek itu masih terus dateng buat nemuin ni orang” Jelasnya
“ beneran? Kamu suka cewek lain selain Zani? Kok aku gak tahu siih... kamu gak cerita sama aku.” Sedikit cemberut
Sora langsung mengerutkan darinya, “ siapa ceweknya? Aku juga kenal?.. kok gitu sih ceweknya. Udah bener apa kata Rendi mending cari cewek lain. Itu ceweknya gak tahu malu. Udah nikah tapi tetep nemuin kamu. Buat apa coba. Gimana kalau kamu jadian lagi sama Zani. Okay? “ sedikit tersenyum.”
“ cewek itu bukannya gak tahu malu. Dia cewek yang baik kok. Kamu gak berhak ngomong kayak gitu. Lagian aku juga seneng kok dia dateng terus. Mau bagaimanapun aku tetep cinta dia.” Tegasnya.
Sora dan Rendi yang mendengar hanya bersorakria ‘hhhuuuu'. Tak lama datang sesosok pria, Maru . Ia menghampiri teman-teman teman dan juga istrinya itu.
“ Ayo, kita pulang. Kita cepet- cepet kerumah orang tua gua.” Ajaknya.
Pasangan itu langsung berpamitan. Dan segera menaiki motor. Terlihat begitu penuh cinta, Maru yang memasangkan helm kepada Sora. Setelah pasangan itu berlalu, Rendi langsung menatap jengkel ke arah Zaenal. Zaenal yang merasa mendapat tatapan sinis hanya bisa menarik nafas dalam.
“Tinggal bilang. Aku suka sama kamu. Aku cinta kamu. Apa susahnya sih.. sekarang jadi sendiri yang nyesel. Lo kalah cepet, dari zaman sekolah disuruh buat nyatain cinta ke Sora, malah pura-pura deketin Zani. Apa? Sora pengen sendiri? Buktinya sekarang. Dia nikah tu.. sama temen kita lagi. Wwaahhh... “ cerocosnya panjang lebar.
“ Belum jodoh.” Singkatnya menjawab
“ Dulu jawabnya selalu Belum Saatnya. Sekarang belum jodoh?” dengan senyum dipaksakan.
__ADS_1
“Cinta gak harus memiliki. Selama dia bahagia, gue ak apa-apa. “ dengan senyuman yang terlihat sendu.
“Emangnya lu tahu kalau dia bahagia? Panggilan ke Sora aja masih lu gue. Lu emang gak curiga apa? Mereka yang tiba-tiba nikah gitu aja?” tanyanya kembali
Zaenal hanya bisa menatap temannya itu tanpa menjawab. Dan langsung memalingkan pandangannya.
“Aahh… capek banget “ seru Sora langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. “Mamah kamu beneran gak usah dibawa ke rumah sakit? “
“ Dia bilang gak mau, turutin aja. Namanya juga udah tua.” Sibuk dengan barang bawaan, yang katanya oleh-oleh dari mereka. Padahal harusnya kita yang membawa oleh-oleh buat orang sakit, ini malah sebaliknya .
“Kita lihat.. Apalagi yang dia masukkan… oohh… makanan, obat herbal lagi, obat kuat.” Sora langsung mengeluarkan item itu satu persatu.
Maru hanya duduk mendengarkan sibuk tangan dan matanya tertuju ke layar ponsel.
“Sekarang kan hari libur banyak pelanggan ke toko. Aku juga jadi bantuin angkat barang berat. Obat kuat ini aku mau ya.. “ senyum riangnya begitu polos.
Sontak suaminya langsung menepis obat itu dari tangannya.
“ Apaan lu! Gila apa? Masa mau diminum! “ langsung memungut obat itu dari lantai.
“Emangnya kenapa, pelit banget. Aku juga kan butuh tenaga buat kerja.. “ maju kedepan bibir mungilnya
“Ini bukan obat kuat itu,,. “ belum dia beres bicara langsung disamber.
“Gambarnya aja otot. Emang obat kuat apaan lagi..“ ngotot
Maru menarik nafas menggelengkan kepalanya
“Ini obat kuat supaya cowok kuat bermain diranjang.. “ jelasnya dengan mata melotot.
Istrinya itu langsung menutup mulutnya, merebut obatnya dan membaca kemasannya, diapun geli sendiri membacanya. Diapun langsung berdiri dengan tersipu.
“Aku mandi duluan..! “teriaknya..
“Oke.. “ jawabnya singkat.
__ADS_1