Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
53. Perpisahan II


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Ketiga pihak dipanggil oleh polisi terkait kasus yang sempat tertunda.


Sora, Maru, dan Maria datang ke kantor polisi. Sora kini selalu didampingi oleh Kakaknya. Polisi menanyakan terkait tentang kelanjutan kasusnya yang akan diteruskan atau sebaliknya. Karena bukti sudah ada dengan jelas, kini Sora bisa membalikkan tuntutan terhadap Maria.


“Berapa lama hukuman yang akan diterimanya pak, kalau saya menuntut balik dia? Atas tuduhan pemalsuan kesaksian dan pembunuhan tidak sengaja.” Sora bertanya dengan wajah datar, kepada pengacara yang telah ia siapkan.


“ Paling lama 10 tahun dan minimal 5 tahun.” Ucap pengacara.


Maria mulai ketakutan, ia terus memainkan ujung bajunya. Tangannya bergetar. Maru hanya diam duduk tanpa kata. Dia bingung apa yang harus dilakukannya.


“Saya ingin damai. Tutup saja kasus ini.” Ucap Sora mengejutkan semua orang yang berada diruangan itu.


“Apa anda yakin?” tanya seorang petugas.


“Ya. Saya yakin.” Sora menegaskan.


Maria menganga tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Yang tadinya dia bisa saja menjadi tersangka dan pasti akan dipenjara, tapi dia masih bisa merasakan kebebasan.


Pengurusan dokumen telah selesai ketiganya hendak menuju rumah masing-masing. Maria mendatangi Sora dengan ragu.


“Mau ngomong apa? Langsung aja.” Tanya Sora dengan ketus.


“Kenapa kamu memilih untuk berdamai?” Tanyanya penasaran.

__ADS_1


“Anggap saja itu sebagai hukuman aku karena membuat Maru berpaling dari hidup kamu. Kamu sendiri juga yang bilang kan, harus ada satu yang mati, Tuhan negur aku dengan mengambil anak aku terlebih dahulu. Aahh... Tapi ada satu hal yang ingin aku agar kamu ingat terus.... Tolong jangan lupakan anak aku yang udah meninggal. Jangan lupakan dia, terserah kamu mengingat dia seperti apa, entah itu rasa kasihan kamu, atau juga penyesalan karena bukan salah satu dari kita yang mati.” Mata Sora mulai berkaca-kaca dan berlalu meninggalkan Maria.


Maru mengejar Sora yang kini sudah hampir memasuki mobil Kak Soni.


“Sora, kamu jangan gini. Kamu coba pikirkan kembali semua keputusan yang kamu ambil.” Memegang bahu Sora.


“Keputusan apa?” Menekan perkataannya.


“Kamu coba pikirkan lagi. Kenapa kita harus bercerai? Kenapa kamu harus berdamai?” Terus menahan Sora yang ingin pergi.


“Hah... kenapa harus bercerai? Kamu masih tanya itu? Dasar pengecut.” Sinis


“Sora, okay aku minta maaf. Ini semua salah aku. Tapi, apa kita tidak bisa membicarakan semuanya lagi. Aku menyesal, aku menyesali semuanya.” Memohon kepada Sora.


“Kamu menyesal kenal aku?” Maru terkejut dengan pernyataan Sora, hatinya terasa sangat sakit. Air matanya keluar begitu saja. Tangannya yang tadi menahan Sora dengan kuat, kini menjadi lemah.


“Ya... aku menyesali semuanya. Jadi sekarang, kamu cepat-cepat tandatangani gugatan aku. Kita selesaikan semuanya. Jadi kamu bisa bersama kembali dengan wanita kamu itu.” Amarahnya masih belum reda.


“Aku sama Maria udah gak ada apa-apa. Semuanya hanya salah paham...”


“Mau salah paham atau bukan, aku gak peduli.” Sora menepis tangan Maru dan meninggalkan area parkiran bersama Kakaknya.


Maria yang menyaksikan semuanya, menghampiri Maru dengan wajah tanpa ekspresi. Maria menyentuh bahu Maru yang lebih tinggi darinya.

__ADS_1


“Maafin aku. Bukan ini maksud aku.” Dia menangis.


“Jangan berani kamu menangis didepan aku. Gak pantes....” perkataan Maru terasa sangat dingin.


“Disini aku yang salah, Maria. Harusnya kamu hukum aku, jangan ganggu istri aku. Harusnya kamu bunuh aja aku. Kenapa harus anak aku....” Air matanya kembali berurai.


“Maru, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak...” belum selesai mengatakan semuanya, Maru sudah berlalu meninggalkannya tanpa permisi.


Maria merasa harga dirinya menjadi sangat hina. Disaat Maru mengejar Sora untuk menahannya, Maru malah meninggalkannya disaat dia memberikan alasan.


Sora menangis dalam mobil disaksika oleh Kak Soni.


“Kamu yakin? Kalau kamu berubah pikiran, semuanya bisa diperbaiki. Kamu masih cinta sama suami kamu, kan?” Kak Soni mencoba menenangkan tangisnya.


“Dia bukan suami aku lagi Kak. Keputusan aku udah bulat.” Masih terisak.


Soni hanya bisa menelan ludah.


Maru masih tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar.


Menyesal? Dia menyesal kenal sama aku? Kenapa harus menyesal? Aku bahagia bisa kenal, menikah, hidup sama kamu, Sora. Apa kamu begitu benci sama aku. Aku sadar, dari semua yang terjadi diantara pernikahan kita, akar permasalahannya, adalah aku.


Apakah salah aku jika aku sangat mencintainya. Cinta yang selama ini aku berikan hanyalah memberikan sakit dan luka untuk Sora.

__ADS_1


__ADS_2