
Hari dimana waktu untuk Maria menginap di guest house Maru dan Sora telah berakhir. Maria membereskan semua pakaiannya. Ia memutuskan untuk pergi dari sana. Meskipun hatinya sangat ingin tetap disana. Lagi-lagi hati, pikiran, dan tubuhnya tidak sinkron.
Sora mendatangi Maria yang sedang membereskan semua barang-barangnya.
"Kamu benar-benar mau pergi? Kamu udah tahu mau pergi kemana?" Sora merasa sangat khawatir.
"Tenang aja. Gak usah khawatir. Terima kasih." Tidak banyak kata yang keluar dari mulut Maria. Hatinya terasa sangat berat. Maria sendiripun tidak mengerti apa yang dia rasakan.
Maria dengan tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Dia ingin untuk sekali ini saja, hati, pikiran, dan juga hatinya selaras.
"Sora... Aku mau bertahan. Aku mau mempertahankan bayi aku ini. Aku juga rela kalau dia jadi anak kalian." Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Maria mengungkapkan semua yang ia inginkan.
Sora yang mendengarkan, terkejut bukan main. Bagaimana tidak, Maria yang awalnya selalu menolaknya mentah-mentah, dengan sangat tiba-tiba setuju dan menerima semua tawaran yang ia berikan.
"Kamu yakin? Bukan karena paksaan kan?" Kini Sora sedikit berbinar.
"Aku udah yakin. Aku akan percaya sama kamu. Tapi, bagaimana dengan Maru dan juga keluarga kamu?" Maria masih gelisah dengan tanggapan orang-orang sekitar terhadapnya.
"Kamu tenang aja. Semua pasti akan setuju kok." Sora meyakinkan Maria.
"Kalau gitu, kamu stop.. jangan beresin barang kamu lagi, jangan pack lagi barang kamu." Sora menahan Maria.
"Memangnya kenapa?" Maria merasa heran.
__ADS_1
"Kamu bilang, kamu setuju kan. Dengan begitu, kamu akan terus tinggal di sini dong." Sora dengan percaya diri.
"Apa? Aku harus tinggal di sini? Tapi, kenapa?" Maria sangat tidak menyangka dengan semua keputusan Sora.
"Iya dong. Masa kamu mau tinggal sendiri? Emang kamu sanggup hidup sendiri? Apalagi perut kamu akan terus membesar. Jadi, selama kamu hamil sampai melahirkan, kamu harus tinggal di sini." Sora dengan sangat yakin.
"Kamu jangan ambil keputusan sendiri terus Sora. Kamu harus berdiskusi dengan suami kamu, keluarga kamu juga. Aku gak mau gegabah menerima semua tawaran kamu itu." Maria masih punya hati dan rasa malu.
"Okay.. aku bakalan minta izin dulu sama Maru dan juga keluarga aku. Jadi kamu harus tinggal di sini dulu, sampai aku tahu hasilnya gimana nanti.. apa mereka semua mau terima kamu.!" Sora beranjak pergi meninggalkan Maria.
Sora menghampiri Maru yang memang hari ini sedang libur. Sira menghampirinya dengan senyuman yang tidak bisa dia tahan.
"Kenapa kamu? Kayaknya lagi seneng banget!" Naru merasa heran, karena dari semenjak dirinya mengetahui kehamilan Maria, Sora sudah sngat susah memancarkan senyuman tulusnya.
"Kamu masih belum menyerah juga?" Maru tidak tersenyum, sebagaimana Sora tersenyum sangat bahagia.
"Aku udah gak bujuk dia lagi Dia sendiri yang ngomong sendiri. Aku juga bilang apa, kan... Maria tidak akan tega membunuh bayinya sendiri."
Sora sangat antusias.
"Kalau begitu... gimana kalau kita biarkan Maria tinggal di sini? Kamu setuju kan?" Sora dengan sangat hati-hati.
"Kamu maunya apa sih, sayang? Aku udah nyerah dengan semua keputusan egois kamu itu. Dan sekarang, kamu bikin keputusan sendiri lagi? Kamu gila apa?" Maru dikuasai oleh emosi.
__ADS_1
"Tapi.. dia.. kasihan.. dia.." Sora tidak bisa menyelesaikan semua perkataannya, karena Maru langsung berlalu meninggalkannya berlalu menuju kamarnya.
Sora mengikutinya dengan ketakutan yang sangat-sangat.
"Sayang.. maafin aku. Tapi, aku juga mana tega. Anaknya untuk kita, tapi Ibunya tidak juta perhatikan. Doa gak akan sanggup hidup swndiri dalam kondisi tengah hamil, kan? kalau kamu gak setuju, coba kamu cariin jalan keluar yang lain." Sora membujuk Maru dengan memeluknya dari belakang. Tidak ada respon dari Maru. Tidak ada kata-kata maupun pergerakan.
Sora menyadari, bahwa suaminya kini tengah mendiamkannya.
Keesokan harinya. Maru tidak mendapati istrinya di tempat tidur. Ia mencari sekeliling rumahnya tanpa suara. Karena ia masih marah, dan masih berusaha mendiamkannya, namun rindunya dan perhatiannya tidak berubah.
Maru hendak mwmbuka lemari pendingin, ia mendapati tulisan tangan istrinya. Tulisan yang memberitahunya bahwa Sora tengah oergi ke rumah Ibu dan Kakaknya untuk meminta izin oerihal keputusannya tentang Maria.
Maru menarik nafas dengan kasar. Ia sudah sangat bingung menghadapi Sora yang menjadi sangat jerasa kepala.
Maru berniat menyusulnya. Setelah membersihkan tubunhya, Maru bergegas keluar.
Di halaman, matanya bertemu dengan mata Maria. Mata Maru memancarkan kekesalan, sedangkan Maria hanya mengabaikannya dan segera masuk kembali kedalam ruangan.
"Sayang.." Suara Sora membuat Maru mengalihkan pandangannya yang sedari tadi memandangi Maria.
"Kamu kenapa sih? Kenapa gak ajak aku. Aku baru mau susul kamu. Aku mau kamu harusnya omingi apa-apa sama aku dulu." Maru langsung emosi.
"Sayang, tenang dulu. Jangan langsung marah. Kita cari jalan keluar yang lain, kau emang kamu gak mau Maria tinggal di sini."Sora sangat to the point.
__ADS_1
"Maria.. Maria... capek aku dengerinnya." Maru pergi meninggalkan Sora yang masih berdiri mematung. Maru mengendarai mobilnya, meninggalkan pekarangan rumahnya. Entah kemana ia akan pergi, bahkan ia tidak pamit oada istrinya. Sora mengerti kalau memang seharusnya Maru marah.