Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
70. Pulang III


__ADS_3

“Mau bicara apa?” Tanya Sora mencoba untuk tenang.


“Apa kamu menuntut permintaan maaf dari aku?” Maria dengan percaya diri bertanya hal yang mungkin menurut orang lain gila.


“Maaf untuk apa?” Sora ikut bermain dalam permainan Maria.


“Hhaa...Iya kan? Kamu aja bingung apa salah aku sebenarnya?” Maria tertawa getir.


“Salah kamu banyak. Makannya kamu sebenarnya mau minta maaf atau cuman mau ngomongin masa lalu doang?” Sora memberanikan diri melihat wajah Maria yang tidak bersahabat.


“Okay... aku akan minta maaf sama kamu. Tapi sebelum aku yang minta maaf, aku mau kamu lebih dulu minta maaf sama aku.”


Sora terdiam. Ia tidak mengerti keinginan Maria.


“Kamu yang pertama kali merebut Maru dari aku. Kamu yang pertama kali yang menyebabkan aku bertindak bodoh selama ini. Kalau kamu dulu..”


“Aku minta maaf... maaf karena membuat Maru berpaling dari kamu. Aku udah minta maaf. Sekarang aku mau kamu minta maaf sama aku.” Dengan suara yang lembut, Sora mencoba menenangkan Maria yang mulai tersulut emosi.

__ADS_1


“Kamu bener... omongan kamu bener. Aku terlalu serakah, kita berdua serakah. Makannya jalan kita begitu sulit. Kamu sadar? Sekarang kita sama-sama tidak mendapatkan apa yang kita mau. Kita sama-sama tersakiti, bahkan kita sama-sama gagal menjadi seorang Ibu.” Kini Maria menangis.


“Aku hanya akan minta maaf satu hal sama kamu. Aku minta maaf karena aku yang menyebabkan kalian kehilangan bayi kalian. Tapi saat itu bukan itu maksud aku. Saat itu aku bermaksud untuk mengorbankan diri aku sendiri agar Maru bisa bahagia sama kamu. Tapi...” Maria tidak bisa menahan air matanya.


Kini keduanya berurai air mata. Sora tidak sanggup untuk berkata-kata, jika harus membahas tentang kehilangan bayi yang bahkan tidak dia ketahui wajahnya. Diluar, Maru terus mondar-mandir dengan terus mengusap wajahnya dengan kasar. Dia frustasi karena kaca mobilnya baru ia ganti dengan kaca film yang gelap dari luar. Begitu juga dengan teman-teman Sora yang ikut khawatir menerawang dari jauh. Karena mereka beranggapan akan mengganggu privasi ketiga orang tersebut jika terus ikut campur.


“Kamu juga tahu kan. Aku juga pernah hamil. Aku pernah menjadi calon Ibu. Kehilangan anak yang bahkan belum pernah kita lihat sekalipun, sakitnya tidak tertahankan. Aku hanya ingin meminta maaf akan hal itu.” Maria kini terisak.


“Kamu tahu, selama aku sakit dan kamu meminta Maru buat jagain aku. Aku seneng dan ingin berterimakasih. Tapi, pada saat itu aku tidak benar-benar senang. Dia menjaga aku hanya karena rasa tanggung jawab, bukan cinta. Meskipun dia berada disamping aku, pikiranya entah dimana. Dan itu lebih membuat aku sakit. Makannya aku bertingkah bodoh.”


“Aku minta maaf. Aku kira dengan membiarkan Maru jagain kamu, bisa bikin kamu bahagia. Aku hanya peduli pada perasaan sendiri. Dan aku juga bertindak bodoh lagi dengan pergi begitu saja tanpa menyelesaikan masalahnya. Aku pikir kalau aku pergi, kalian bisa bersama.” Sora sedikit tenang.


“Hhhaa... aku mencoba berbagai cara agar bisa mendapatkan Maru kembali. Bahkan aku bertindak yang membuat harga diri aku jatoh, aku bertindak layaknya pelacur yang menawarkan tubunhya untuk laki-laki hidung belang dihadapan Maru. Tapi semua tindakan itu selalu mendapatkan penolakan dari Maru. Hubungan yang bertahun-tahun bisa dia lupakan hanya dengan waktu beberapa bulan. Sedangkan hubungan kalian yang hanya beberapa bulan tidak bisa dia lupakan bahakan sampai sekarang...” Maria tidak berhenti mengoceh dengan air matanya terus keluar.


“Dia bilang. Selama ini hubungan kita hanya seperti obsesi. Sedangkan hubungan kalian karena cinta. Karena ucapan dia, aku sadar. Selama ini aku hanya iri dan terobsesi untuk mendapatkan Maru kembali. Padahal dari awal sudah jelas aku yang nyakitin dia.”


“Aku harap kita bisa menjalani hidup kita kedepannya tanpa ada penyesalan ataupun kebencian. Jadi, aku juga akan berhenti mengharapkan cinta Maru yang jelas-jelas tidak akan pernah aku dapetin. Sisanya terserah ada pada kalian.” Maria kini lebih terisak. Dia keluar dari mobil Maru dengan air matanya yang masih terus keluar.

__ADS_1


Melihat Maria yang sudah keluar dari mobilnya dalam keadaan menangis, Maru langsung membuka pintu depan dimana Sora duduk. Didapatinya Sora tengah terisak. Maru langsung memeluknya dengan begitu erat. Tanpa tahu alasan apa yang membuat Sora menangis, ia tetap memeluknya sangat erat. Ia mengusap rambutnya dan juga menyeka air matanya.


“Aku mau pulang sekarang.” Pinta Sora.


“Tapi liat, hari makin gelap. Besok lagi aja.” Ujar Maru.


“Gak apa-apa, sekarang aja.” Sora tersenyum dan pandangannya beralih ke Langit.


“Gak. Jangan sekarang. Besok aja. Baju kamu juga kotor. Sekarang ayo kita pulang dulu kerumah, ganti baju baju, tidur. Baru besok pulang.” Sarannya. Yang sebenarnya terdengar lebih ke perintah.


Maru memasangkan seatbealtnya dan menutup pintu mobil kembali.


Langit yang tengah melangkah menuju Sora, langkahnya terhenti karena Maru kembali menutup pintu mobilnya.


“Besok aja pulangnya. Ganti dulu baju kalian.” Ujar Maru yang langsung berlari ke arah kemudi.


Langit yang melihat mobil Maru akan melaju, ia pun bergegas memasuki mobilnya dan mengikuti keduanya.

__ADS_1


__ADS_2